Monday, 3 August 2009

KEDUDUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL “TARIAN BUMI” KARYA OKA RUSMINI (KAJIAN FEMINIS)

Oleh : ENI FARIDAH

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kedudukan wanita yang menjadi objek dalam penciptaan karya sastra menimbulkan adanya persepsi kurang baik dan sebuah pandangan tersendiri terhadap wanita, wanita tidak memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Dan wanita juga tidak berdaya intelektual tinggi, selain itu juga dapat menimbulkan pandangan lain tentang wanita, yaitu selalu dianggap lemah, tidak kreatif, berperan domestik, dan selalu berada pada kekuasaan laki-laki.
Dengan adanya anggapan-anggapan tentang kedudukan wanita tersebut. Mendorong wanita untuk menjadi maju dan modern. Seiring dengan meningkatnya kemakmuran dan pendidikan wanita akibat industrialisasi. Jumlah pembaca menjadi meningkat, dan wanita juga menjadi pembaca utama karya-karya sastra yang terbit pada era modern.
Menurut kartono (1992: 10) wanita dapat merealisasikan diri dengan bakat dan potensi yang dimilikinya untuk perjuangan. Eksistensinya secara khusus dan manusiawi. Dalam keberadaannya di dunia, wanita mempunyai hubungan tertentu dengan realitas, sehingga sanggup melepaskan diri dari situasi sekarang dan di sisi lain menujuhari esok.
Dalam pengembangan karya sastra, perempuan sering dimunculkansebagai fokus pembicaraan. Akhirnya sebuah karya sastra, khususny yang berupa novel dapat mengenalkan kehidupan perembuan dengan segala tantangan dan permasalahan yang ada di lingkungan. Dalam kenyataanya realita sosial telah membuka tabir bahwa unsur feminisme telah bertolak sebagai dasar pembagian fungsi antara jenis kelamin dalam berbagai segi, karena kita tahu bahwa karya sastra sebagai refleksi kehidupan akan terus mewakili situasi dan keadaan sekitarnya (Damono 1984: 1)


1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Bagaimana kedudukan tokoh wanita dalam novel “Tarian Bumi” karya oka Rusmini.
1.2.2 Bagaimana peranan tokoh wanita dalam novel “Tarian Bumi” karya oka Rusmini.

1.3 Tujuan
1.3.1 Mendiskripsikan tokoh wanita dalam novel “Tarian Bumi” karya oka Rusmini.
1.3.2 Mendiskripsikan pernan tokoh wanita dalam novel “Tarian Bumi” karya oka Rusmini.

2. KAJIAN TEORI
2.1 Tokoh Cerita
Suatu cerita dalam prosa fiksi selalu didukung oleh sejumlah tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mendukung peristiwa sehingga mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh. Sebagaimana pendapat Atar Semi (1988: 36) bahwa kehadiran penokohan dan perwatakan dalam sebuah karya fiksi sangat penting, dan bahkan diceritakan tidak mungkin ada cerita tanpa tokoh yang bergerak dan akhirnya membentuk alur cerita.
Berdasarkan atas karakternya, aspek tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sederhana dan tokoh kompleks. Tokoh sederhana atau tokoh datar ialah tokoh yang kurang mewakili personalitas manusia, dan biasanya hanya ditonjolkan dari satu dimensi saja. Tokoh ini cenderung tidak dikembangkan sedangkan tokoh kompleks atau tokoh bulat ialah tokoh yang dapat dilihat dari semua sisi kehidupannya (Sijiman, 1992: 17-20).
Sayuti (2000:74) berpendapat, tokoh utama atau tokoh sentral suatu karya fiksi dapat ditentukan dengan tiga cara: (1) tokoh yang paling terlibat dengan makna atau tema; (2) tokoh yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain; (3) tokoh yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan.


2.2 Teori Feminis
Secara etimologis feminis berasal dari kata femme (women), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial.
Tujuan feminis adalah keseimbangan. Feminis adalah gerakan gerakan kaum wanita untuk menolok segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan. Baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya.
Dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu dalam sastra, feminim dikaitkan dengan cara-cara memakai karya sastra baik dalam kaitannya dengan proses produksi ataupun resepsi. Dengan demikian emansipasi wanita merupakan salah satu aspek dalam kaitannya dengan persamaan hak.
Marry Wollstonecraft (dalam Djajanegara, 2000: 30) mengatakan bahwa kaum perempuan, khususnya dari kalangan menengah merupakan kelas yang tertindas myang harus bangkit dari belenggu rumah tangga. Kondisi timpang yang dialami kaum perempuan, membuat perempuan tergerak untuk memprotes tindakan-tindakan tersebut, dengan cara memunculkan feminisme dalam karyanya dengan menampilkan tokoh-tokoh perempuan dalam karyanya.
Teori feminis sebagai alat kaum wanita untuk memperjuangkan hak-haknya, erat kaitannya dengan konflik kelas dan ras, khususnya konflik gender. Artinya, antara konflik kelas dengan feminisme memiliki asumsi-asumsi yang sejajar, mendeskontruksikan sistem dominasi dan hegemoni.
Dalam teori-teori sastra komtemporer, feminisme merupakan gerakan perempuan yang terjadi hampir diseluruh dunia. Gerakan ini dipicu oleh adanya kesadaran bahwa hak-hak perempuan sama dengan laki-laki.

2.3 Suku Bali
Suku Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya. Sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Selain itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan kedalam kebudayaan Bali, dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan satuan itu.
Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali. Karena dengan keadaan itu seseorang memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat.
Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen dan sistem kasta, maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau setidaknya antara orang-orang yang dianggap sedrajat dalam kasta. Perkawinan adat di Bali bersifat endogami klen, jika perkawinan antara kasta terjadi, dimana kasta wanita lebih tinggi dari kasta pria, maka wanita itu dinyatakan keluar dari klennya. Namun sejak tahun 1951 hukum seperti itu tidak pernah dilakukan lagi.

3. PEMBAHASAN
Di tengah-tengah meganya Bali, terselip berbagai bentuk ketidak-adilan yang dialami perempuan Bali. Dimana perempuan berada dibawah dominasi laki, perempuan sebagai pelengkap. Perempuan sebagai mahkluk kelas dua. Sebagaimana yang dapat kita baca pada halaman 22 :
“Aku capek jadi perempuan miskin, Luh. Tidak ada orang yang menghargaiku. Ayahku telibat kegiatan politik, sampai kini tak jelas hidup atau matikah dia. Orang-orang mengucilkan aku kata mereka, aku anak penghianat. Anak PKI ! yang berbuat ayahku yang menanggung beban aku dan keluargaku. Kadang-kadang aku berfikir kalau kutemukan laki-laki itu aku akan membunuhnya...!”
Selain itu perempuan dianggap sebagai sumber dari malapetaka, walaupun perempuan tersebut berasal dari kasta brahmana. Sebagaimana yang tertulis di halaman 152 :
“Berkali-kali tiang berkata, menikah dengan perempuan Ida Ayu pasti mendatangkan kesialan. Sekarang anakku mati! Wayan tidak pernah mau mengerti. Ini bukan cerita dongeng. Ini kebenaran. Kalau sudah begini jadinya aku harus bicara apa lagi ! “Luh Gumbreg memukul dadanya. Menatap telaga tidak senang.
Telaga adalah potret pemberontakan perempuan Bali terhadap praktik-praktik budaya yang menindas dengan caranya sendiri; menjalani hidupnya diantara ambang penerimaan dan ketidak patuhan, diantara penyerahan dan kebebasan. Tetapi dalamhidup tidak pernah ada kebebasan yang sempurna. Untuk mendapatkan ketrentaman.
Telaga harus melakukan ulpacara pati wangi, upacara penanggalan gelar “Ida Ayu”. Seperti yang ada pada empat paragraf terakhir pada novel Tarian Bumi :
Telaga mulai mebuka bajunya. Dia hanya mengenakan kain sebatas dada. Seorang pemangku mengucapkan mantra-mantra. Kaki perempuan itu diletakkan pada kepala Telaga, tepat diubun-ubun. Air dan bunga menyatu. Kali ini, Telaga merasakan air dan bunga tidak bersahabat dengannya. Air menulsuk-nusuk tubuhnya. Bunga-bunga mengorek lebih dalam lukanya. Sebuah upacara harus dilakukan demi ketnangan keluarganya. Dmi Luh Sari, Telaga telah dianggap sumber malapetaka dan kesialan keluarga Gumbreg.
Air itu mulsi menguasai tubuhnya seperti ratusan tombak tajam. Telaga menggigil.
“Aku tidak pernah meminta peran sebagai Ida Ayu Telaga Pidada. Kalaupun hidup terus memaksaku memainkan peran tu, aku harus menjadi aktor yang baik. Dan hidup harus bertanggung jawab atas permainan gemilangku sebagai Telaga.”
Dlam kenyataan hanya seks, sebagai male-female yang ditentukan secara kodrati, secara biologis. Sebaliknya gender dan jenis kelamin yaitu masculine – feminine ditentukan secra kultural, sebagai hasil pengaturan kembali infrastruktur material dan superstruktur ideologis. Sebagaimana perempuan Bali pada umumnya mereka sangat kuat dalam menghadapi hidup. Walaupun perempuan dalam kebudataan Bali yang patriarki adalah individu-individu yang menomerduakan dirinya.

4. SIMPULAN
Setelah menganalisis data yang ada, makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
4.1 Kedudukan tokoh wanita dalam novel Tarian Bumi adalah sebagai fokus pembicaraan, dimana novel tersebut digambarkan kehidupan perempuan dengan segala tantangan dan permasalahan yang ada dilingkungannya.
4.2 Adapun peranan tokoh wanita dalam novel Tarian Bumi adalah sebagai tokoh kompleks atau tokoh bulat, tokoh yang dapat dilihat dari semua sisi kehidupannya.


DAFTAR PUSTAKA

 Damono, Sapardi Djoko, 1984. Sosiologi Sastra, Jakarta : Pusat Bahasa.

 Djajanegara, Sunarjati, 2000. Kritik Sastra Sebuah Pengantar, Jakarta : Gramedia.
 Kartono, Kartini. 1992. Psikologi Wanita II : Mengenal Wanita Sebagai Ibu dan Nenek. Bandung : Mandar Maju.
 Koentjaraningrat dkk. 1971, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan.
 Ratna Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Jokjakarta : Pustaka Pelajar.
 Sayuti, Suminto.A. 200. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta : Gema Media.
 Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Bandung : Angkasa Raya.

 Sudjiman, Panuti. 1993 Memahami Larik Rekaan. Jakarta : Pustaka Jaya.



LAMPIRAN
• Sinopsis Novel
Cerita bermula ketika Luh Sekar berobsesi menjadi seorang yang berdrajat tinggi, dan untuk memnuhi obsesinya itu, dia melakukan banyak cara. Luh Sekar terlalu mengagungkan nilai-nilai kebangsawanan, dia berfikir menjadi bagian dari keluarga besar “griya” drajatnya lebih tinggi dibanding perempuan sudra lainnya.
Setelah disunting secara sah oleh Ida Bagus Ngurah Pidada, Luh Sekar tidak hanya harus meninggalkan keluarga dan kebiasaan-kebiasaannya. Selain berganti nama menjadi Jero Kenanga, dia harus juga meninggalkan semua yang pernah membesarkannya.
Setelah Jero Kenangan menikah dengan Ida Bagus Ngurah Pidada, maka lahirlah Ida Ayu Telaga Pidada.
Ida Ayu Telaga Pidada adalah seorang penari oleg yang tidak terkalahkan. Ida Ayu Telaga Pidada kemudian menikah dengan Wayan Sasmitha yang seorang sudra, pernikahan itu dilarang. Karena dianggap menimbulkan malapetaka. Dan dari pernikahan itu Telaga melahirkan Luh Sari.
Ketika Wayan Sasmitha meninggal, hal ini dianggap sebagai malapetaka yang ditimbulkan dari pernikahan campuran. Dan malapetaka itu akan hilang jika Telaga melakukan upacara patiwangi, upacara penanggalan gelar kebangsawanan. Setelah upacara itu, dilangsungkan Telaga menjadi wanita sudra seutuhnya.

Friday, 19 June 2009

kritik puisi

Religiusitas dalam Sajak “Tasbih”
Karya Hasan Al Banna
Oleh: akhmad fatoni

Karya sastra merupakan media bagi pengarang untuk memberikan tanggapan tehadap lingkungannya, selain itu juga dapat memberikan pengertian yang dalam bagi penikmatnya tentang realitas-realitas yang disajikannya. Kenyataan demikian akan semakin penting jika karya sastra yang hadir dapat dinikmati secara lebih meluas dan ekstensif oleh anggota masyarakat.
Puisi termasuk salah satu jenis sastra yang digemari masyarakat sebab selain memberikan kenikmatan seni, puisi juga memperkaya kehidupan batin, menghaluskan budi, bahkan juga sering membangkitkan semangat hidup yang menyala, dan mempertinggi rasa ketuhanan dan keimanan (Pradopo, 1997: v-vi).
Puisi, sebagai salah satu genre sastra, memiliki daya tarik tersendiri yang berbeda dengan prosa, hal ini dapat ditinjau dari hakekat puisi. Menurut Pradopo (1997: 315-318) untuk mengerti hakekat puisi ada tiga aspek yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut. Pertama, sifat seni atau fungsi seni; puisi sebagai karya sastra fungsi estetiknya dominan dan di dalamnya ada ungsur-unsur estetiknya. Unsur-unsur keindahan ini merupakan unsur-unsur kepuitisannya, misalnya persajakan, diksi (pilihan kata), irama, dan gaya bahasanya. Kedua, kepadatan: menurut Altenbernd (1970: 9) puisi merupakan puisi esensi karena puisi ini mampat dan padat, maka penyair memilih kata dengan akurat. Ketiga, ekspresi tidak langsung; menurut Riffaterre (1978: 1-2) puisi itu mengucapkan sesuatu secara tidak langsung, yaitu menyatakan suatu hal yang berarti hal lain. Ketidaklangsungan ekspresi itu disebabkan oleh tiga hal, yaitu pengantian arti, penyimpangan arti dan penciptaan arti.
Dalam hal ini, akan dikaji puisi Hasan Al Banna yang berjudul “Tasbih” dengan menggunakan 4 patokan : (1) Teori Semiotik; (2) Teori Struktural; (3) Teori Interteks; (4) latar belakang Sosial-budaya. Untuk lebih jelasnya berikut puisinya,





Hasan Al Banna

Tasbih

“Allah yang putih, Allah yang putih!”

kupetik-petik ranum tasbih
gelas hati melimpah, bersirap-sirap buih
bersimbah puji-puja yang gurih

“Kekasih yang jernih, Kekasih yang jernih!”

ini menggelepar tubuh tasbih
o, imanku yang dangkal ayo mendidih
serupa Ismail tak gentar disembelih

“ai Allah yang permai, ai, aku lunglai!”

maka tasbih terus berjuntai-juntai
mengayuh gemulai
hai, segala cinta-Nya nak digapai-gapai

“engkaulah maha lihai, dan aku mataair lalai!”

lagi, biji tasbih kusemai-semai
tak lah digadai
sampai dengan maut melambai-lambai.

Medan, 2006


Teori struktural
Analisis strutural ini merupakan perioritas pertama sebelum yang lain-lain (Teew, 1983: 61), tanpa itu kebulatan makna intrinsiknya yang hanya dapat digali dari karya sastra itu sendiri, tidak akan tertangkap. Makna unsur-unsur karya sastra hanya dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas dasar pemahaman tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra.
Sajak ini mengemukakan tentang keangungan Tuhan, dan merasa si Aku merasa sangat kecil “engkaulah maha lihai, dan aku mataair lalai!” dan tidak berdaya o, imanku yang dangkal ayo mendidih, sehingga diucapkan pujian-pujian “Allah yang putih, Allah yang putih!” Dalam sajak ini, pemilihan kata (beserta artinya) dan bunyi bahasanya saling memperkuat makna. Aliterasi yang berturut-turut: putih, tasbih, buih, gurih, jernih, tasbih, mendidih, disembelih. Serta akhiran i; lunglai, juntai, gemulai, gapai, lalai, semai, digadai, lambai. Semua itu memberi kekuatan pada makna, sehingga memberikan nuansa kelemahan, merendah, harapan.
Begitu juga hubungan antar bait yang diciptakan, sehingga menciptakan alur cerita yang klop. Bait pertama, ketenangan jiwa dalam melontarkan pujian-pujian. Bait kedua harapan. Bait ketiga, kelemahan, kekuasaan tuhan. Tidak ada satupun bait yang lolos, semua saling berkaitan.

Teori semiotik
Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.

Kupetik-petik ranum tasbih: metafor , yang artinya berdzikir dengan menarik tasbih. Gelas hati melimpah: personifikasi: hati yang tenang. Puji-puja yang gurih: metafor. Yang artinya suara-suara tasbih yang dikumandangakan terdengar sangat nyaring.
Ini menggelepar tubuh tasbih, metafor yang artinya tasbih terus diputar (terus bedzikir). O, imanku yang dangkal ayo mendidih, personifikasi yang artinya imanku ayo makin meningkat.
Lagi biji tasbih kusemai-semai: personifikasi yang artinya butir tasbih yang terus diputar (baca: untuk bertasbis). Sampai lengan maut melambai-lambai: metafor yang artinya meski laut pasang

Friday, 2 January 2009

analisis cerpen

ANALISIS TEKS SASTRA (CERPEN)
DARI SISI GAYA BAHASA
“DONGENG DARI AFRIKA”
KARYA KENZABURO OE


OLEH:
AKHMAD FATONI



ABSTRAK

Penulis adalah merupakan seseorang yang menciptakan keindahan. Melalui gaya seorang penulis menuangkan gagasan, pendapat dan membuahkan efek serta gambaran tertentu bagi penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya untuk memberikan kritik sosial atau wacana kepada masyarakat.
Modal utama yang digunakan si pengarang adalah membaca setelah itu dituangkan melalui bahasa dikemas menjadi sebuah bentuk tulisan yang indah yang disebut karya sastra. Keberadaan bahasa dalam karya sastra sangat penting, karena dalam menilai dan mengkritik karya sastra haruslah memahami bahasa yang digunakan oleh pengarang. Setiap pengarang memiliki gaya tersendiri dalam menyampaikan gagasan atau ide lewat karyanya. Ditinjau secara leksikal, istilah gaya yang digunakan dalam pembahasan ini berpadanan dengan istilah style. Stilistika adalah teori tentang cara menggunakan sistem tanda dalam kegiatan komunikasi dengan kemungkinan efek yang ditimbulkannya sesuai dengan jenis tuturan dan motif penuturnya.
Begitu juga yang pilihan kata yang digunakan oleh si pengarang. Setelah itu gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat yaitu klimaks dan repetisi.
Kajian stilistika dalam makalah ini adalah mengenai gaya bahasa yang digunakan pengarang.


Kata kunci: Efek, Kritik sosial, Wacana, Leksikal, Style,Stilistika klimaks dan
Repetisi



PENGANTAR

Sastra menampilkan gambaran hidup, dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial yang menyangkut hubungan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Karena menjadi cermin masyarakat, maka yang ditampilkan dalam karya sastra tidak hanya hal-hal yang menyenangkan, tetapi juga yang kurang menyenangkan, bahkan bertolak belakang dengan moral masyarakat. Sastra seperti ini bukan ingin menghancurkan masyarakat, tetapi berusaha menunjukkan kelemahan masyarakat, dan ingin menyadarkan manusia tentang masyarakat.
Dalam penyampaian tersebut penulis menggunakan bahasa yang merupakan perwujudan dari gaya. Gaya merupakan relasional berhubungan dengan (a) rentetan kata, kalimat dan berbagai kemungkinan manifestasi kode kebahasaan sebagai sistem tanda, (b) dunia makna yang terepresentasikan, (c) motif serta inovasi penulis, (d) efek penggunaan bahasa sebagaimana impresi penanggapnya.
Dalam kajian stilistika gaya bahasa ini bisa dipakai untuk menganalisis genre fiksi atau puisi. Namun kali ini penelitian mengarahkan pada genre fiksi lebih tepatnya cerpen. Dalam kajian prosa fiksi, pemahaman ciri stilistika dapat dimanfaatkan sebagai dasar penandaan ciri pelaku, hubungan pelaku, maupun gagasan yang ingin diungkapkan penutur.
Menurut Sudjiman (1993: 3) stilistika mengkaji cara sastrawan memanipulasi dalam arti pemanfaatan unsur dan kaidah yang terdapat dalam bahasa dan efek apa yang ditimbulkan oleh penggunanya itu. Stilistika pada dasarnya itu penggunaan bahasa dan wacan sastra (karya sastra). Karena stilistika sebagai kajian dari segi bahasa maka stilistika ditetapkan sebagai salah satu dalam kritik sastra, yaitu kritik sastra yang menggunakan linguistik sebagai kerangka kegiatan (Atmazaki, 1990: 97) singklatnya pembaca agar lebih mudah memahami sastra.
Pengkajian stilistika meneliti gaya strutur teks sastra secara rinci dan sistematis dengan memperhatikan pilihan (referansi) penggunaan kata atau struktur bahasa, mengamati hubungan antar pilihan itu untuk mengidentifikasikan ciri-ciri stilistik yang membedakan pengarang, karya, tradisi, atau periode tertentu dari pengarang dengan periode lain.
Berbicara gaya bahasa kita tidak bisa lepas dari diksi. Menurut Keraf (1991: 24) diksi mempunyai tiga pengertian yaitu yang pertama diksi mencakupi pengertian kata-kata mana yang paling baik digunakan dalam situasi. Kedua, diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan nilai rasa yang dimiliki oleh sekelompok orang pendengar. Ketiga, diksi yang tepat dan sesuai hany dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Dengan begitu maksud penulis bisa tersampaikan kepada pembaca.
Ungkapan adalah berkaitan erat dengan keduanya. Karena menurut Natawijaya (1986: 27) ungkapan adalah hasil pemencilan dua kata atau lebih untuk menyatakan sesuatu maksud yang mempunyai asumsi, berkias atau berkonotasi. Secara garis besar di bagi menjadi empat kelompok. Pertama, ungkapan yang berasal dari bahasa tubuh. Kedua, ungkapan yang berunsur tingkah laku. Ketiga, ungkapan yang berunsur lengkunagn tempat tinggal. Keempat, ungkapan yang berunsur alam sekitar.




TEORI YANG DIGUNAKAN

1.Stilistika
Teori tentang cara menggunakan sistem tanda dalam kegiatan komunikasi dengan berbagai kemungkinan efek yang ditimbulkannya sesuai dengan jenis tuturan dan motif penuturnya.

2.Diksi
Pilihan leksikal, bukan pilihan kata. Karena diksi pilihannya tidak selalu berupa kata (dasar dan turunan), tetapi dapat juga berupa kata majemuk maupun frase.

3.makna
Hubungan antara bentuk dengan hal atau barang yang diwakilinya (referennya).

4.Gaya Bahasa
Cara menggungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa)

5.Ungkapan
Hasil pemencilan dua kata atau lebih untuk menyatakan sesuatu maksud yang mempunyai asumsi, berkias atau berkonotasi. Secara garis besar di bagi menjadi empat kelompok. Pertama, ungkapan yang berasal dari bahasa tubuh. Kedua, ungkapan yang berunsur tingkah laku. Ketiga, ungkapan yang berunsur lengkunagn tempat tinggal. Keempat, ungkapan yang berunsur alam sekitar.



ANALISIS

Kajian stilistika dalam makalah ini adalah mengenai gaya bahasa yang digunakan pengarang. Baik meliputi diksi, makna, ungkapan dan hal-hal yang saling berkaitan. Maka dengan itu berikut analisis cerpen yang berjudul “Dongeng dari Afrika” karya KENZABURO OE
1.Pilihan Kata (diksi)
Diksi mencakupi pengertian kata-kata mana yang paling baik digunakan dalam situasi. Kedua, diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan nilai rasa yang dimiliki oleh sekelompok orang pendengar. Ketiga, diksi yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Dengan begitu maksud penulis bisa tersampaikan kepada pembaca.
Dalam judulnya menimbulkan makna yang denotatif, sehingga pemilihan diksi untuk judul sudah bisa menarik perhatian. Selanjutnya rasa penasaran itu akan muncul pada benak pembaca, karena besarnya rasa ingin tahu itu mereka membaca dengan ingin mengetahui dongeng apakah yang berasal dari Afrika itu?
Pilihan kata yang menunjukkan dan menguatan suasana sesuai dengan apa yang ingin disampaikan seperti terdapat pada kutipan berikut:

“Larut malam itu, dalam posisi lamban yang membuat beban tubuh meraka berkurang, Bird dan Himiko bercinta dalam kegelapan yang lembab selama sejam tanpa putus.”

Dari kutipan di atas sudah terlihat diksi yang diambil menunjukkan keberanian sang penulis. Karena dari kutipan di atas penyampaiannya tanpa ada rasa ragu. Dan benar-benar pengungkapan yang fluktuatif.
Pemakaian kata gadis dalam kalimat “Dengan cepat rangsangannya membangkitkan gerakan binal gadis itu.” Itu lebih pantas karena kata bila kata gadis itu diganti dengan kata lain perempuan, wanita, cewek. Akan mengalami ketimpangan makna.
Pemilihan kata “...pada saat gadis itu memutarkan langit-langit pribadinya...”mengandung makna denotatif dari pada kata klitoris atau selaput vagina.
Serta masih banyak lagi pilihan kata yang terdapat dalam cerpen yang berjudul “Dongeng dari Afrika” ini.

2.Makna
Hubungan antara bentuk dengan hal atau barang yang diwakilinya (referennya). Sehingga memiliki arti tesendiri namun tetap memiliki rujukan yang pasti. Seperti pada
“Bagaikan binatang yang sedang melakukan pembuahan, mereka melakukannya dalam keheningan hingga selesai.”

Memiliki makna orang yang tak memiliki malu yang merujuk pada binatang yang tak punya akal. Juga kata itu bisa diperjelas lagi melalui kutiban berikut:
“Tapi Himiko terus terbang, jatuh menukik ke landasan dalam sebuah liukan lembut dan tiba-tiba menari kembali ke angkasa bagaikan layang-layang yang terperangkap. Saat kembali mendarat di landasan yang salah, Bird mendengar bunyi telepon berdering.”

Dari kutipan di atas memiliki makna bahwa seorang lelaki terbuai dalam asmara dan terjerumus dalam jurang nafsu yang menyesatkan. Sehingga tatkala ia sadar ia telah melakukan hal yang salah, yang seharusnya itu hanya dilakukan bersama dengan istrinya saja bukan dengan perempuan lain. Dan masih banyak penegasan yang lebih detail yang terdapat dalam cerpen ini.

3.Gaya Bahasa
Cara menggungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sehingga dari cerpen ini bisa diketahui jiwa dan kepribadian penulis. Seperti pada beberapa kutipan berikut:
"Dengan tak sabar ia mengalami kegagalannya dan hanya separuh ereksi. Jari jemari Himiko membimbing Bird. Dengan cepat rangsangannya membangkitkan gerakan binal gadis itu. Pada saat pasangannya mencapai klimaks, Bird mundur dan terpuruk dalam masturbasi hampa."

"...Janin itu terlahir sebagai bayi yang lucu sehingga membuat ibunya jatuh hati dan tak ragu-ragu memberikan yang dia minta. Orang-orang Afrika menamakan bayi itu 'anak-anak yang lahir ke dunia untuk mati', tapi bukankah indah sekali membayangkan betapa lucunya mereka, bahkan bayi-bayi mungil sekalipun!"

Berdasarkan kutiban di atas Jika menurut keututuhan Jiwa yang dipaparkan J.E Lema keutuhan Zuro ini mencakup niveau anargonis, niveau vegetatif, niveau animal, niveau human, dan niveau religius. Sehingga suro pantas mendapatkan hadiah nobel.

4.Ungkapan
Hasil pemencilan dua kata atau lebih untuk menyatakan sesuatu maksud yang mempunyai asumsi, berkias atau berkonotasi. Secara garis besar di bagi menjadi empat kelompok. Pertama, ungkapan yang berasal dari bahasa tubuh. Kedua, ungkapan yang berunsur tingkah laku. Ketiga, ungkapan yang berunsur lingkungan tempat tinggal. Keempat, ungkapan yang berunsur alam sekitar.
Dari cerpen ini semuanya mencerminkan dari ketiga ungkapan tersebut. Ungkapan yang berasal dari bahasa tubuh terdapat pada:

“Himiko melengkungkan tubuhnya sehingga membentuk lingkaran lebar, bergetar dan mengerang saat meniti jalan ke langit orgasme bagaikan sebuah pesawat terbang mainan bekerja oleh sebuah motor yang terbebani.

Ungkapan yang berasal dari tingkah laku seperti terdapat pada kutipan berikut:

“Bahkan kini, setelah bertahun-tahun perkawinan, mereka terposok pada perasaan muram setiap kali bersenggama. Kaki dan tangan Bird akan mendesak tubuh istrinya, layu dan kaku dalam pertarungan mengatasi rasa jijik dan istrinya menerimanya sebagai sebuah serangan.”


Ungkapan yang berunsur alam sekitar termaktup dalam kutipan berikut:

“Larut malam itu, dalam posisi lamban yang membuat beban tubuh meraka berkurang, Bird dan Himiko bercinta dalam kegelapan yang lembab selama sejam tanpa putus.”

Sehingga cerita pun begitu komplek, tanpa ada tekanan. Ini membuat cerita ini indah dan memberi kekebasan kepada penulis pemula yang mencari bentuk.



KESIMPULAN

Dari setiap karya sastra tidak bisa lepas dari bahasa. Dan bahasa yang kuat mempengaruhi karya sastra tersebut adalah iklim, pemerintahan dan budaya dimana penulis tinggal. Sehingga Gaya atau yang biasa disebut dengan style bukan hanya sebagai perwujudan gagasan, ide-ide dari seorang pengarang namun style juga sebagai cerminan jiwa penulis yang akhirnya bisa menjadi pemberi makna keindahan dan membuat sebuah karya sastra menjadi lebih hidup dan geraknya bebas tanpa ada tekanan.
Kompleksitas dan kekayaan unsur pembentuk karya sastra yang dijadikan sasaran karya sastra diantaranya meliputi; diksi, susunan kalimat, gaya bahasa. Gaya bahasapun memiliki bermacam-macam bentuk sehingga dengan itu karya sastra mempunyai kekayaan yang tak terduga bila pembaca atau peneliti mau memperdalami bahkan akan membantu perkembangan ilmu lain.
Dalam cerpen yang berjudul “Dongeng dari Afrika“ karya Kenzaburo Oe ini setelah dianalisis mencerminkan ungkapan dan duiksi yang sangat kaya yang membuktikankekayaan jiwa sang penulisnya. Karena kelincahan dan kekreatifan penulis di dalam memilih bahasa yang tepat untuk mengungkapkan suasana, karakter dan juga konteks terjadinya tragedi bisa dijelaskan dengan begitu detail.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin.1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra.Bandung: Sinar Baru.

Natawijaya. F. Suparman. 1986. Apresiasi Stilistika. Bandung. PT. Intermeso

Keraf Gorys.1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia

Pradopo, Rahmat Djoko. 1995. Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Pradopo, Rahmat Djoko.1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.


KENZABURO OE
DONGEN DARI AFRIKA

Larut malam itu, dalam posisi lamban yang membuat beban tubuh meraka berkurang, Bird dan Himiko bercinta dalam kegelapan yang lembab selama sejam tanpa putus. Bagaikan binatang yang sedang melakukan pembuahan, mereka melakukannya dalam keheningan hingga selesai. lagi dan lagi Himiko terpekik saat mencapai puncak, dengan selang waktu pendek diselingi jeda yang meletihkan. Bird setiap kali teringat pada sensasi menerbangkan sebuah pesawat terbang mainan pada senja hari di lapangan permainan sekolahnya. Himiko melengkungkan tubuhnya sehingga membentuk lingkaran lebar, bergetar dan mengerang saat meniti jalan ke langit orgasme bagaikan sebuah pesawat terbang mainan bekerja oleh sebuah motor yang terbebani. Lalu dia turun kembali ke landasan pacu di mana Bird telah menunggu, dan saat hening yang berulang pun tercipta.
Seks bagi mereka kini telah berakar dalam sensasi ketenangan sehari-hari; Bird merasa seolah-olah telah bercinta dengan gadis itu selama lebih dari seratus tahun. Kelaminnya kini terasa begitu sederhana, dan tentunya, tak lagi menyembunyikan kecurigaan atas ketakutan-ketakutannya yang paling mendasar. Baginya kini, vagina Himiko adalah kesederhanaan itu sendiri, sekantong damar buatan yang lembut. Dia amat merasa damai, karena Himiko secara terbuka dan tanpa syarat membatasi hubungan seksual mereka hanya untuk objek kesenangan belaka.
Bird teringat bagaimana rasanya saat dia melakukannya dengan istrinya dan perasaan-perasaan ketakutan mereka. Bahkan kini, setelah bertahun-tahun perkawinan, mereka terposok pada perasaan muram setiap kali bersenggama. Kaki dan tangan Bird akan mendesak tubuh istrinya, layu dan kaku dalam pertarungan mengatasi rasa jijik dan istrinya menerimanya sebagai sebuah serangan. Lalu dengan merasa marah, dia akan memaki Bird, bahkan mencoba untuk balas menyerang. Akhirnya, ujungnya selalu sama: dia akan terlibat dalam suatu pertengkaran tak berarti, menarik tubuh dari istrinya dan terus menjauhi hingga sepanjang malam, atau dia menyelesaikan ketergesaannya dengan sebuah kepahitan Bird sempat menggantungkan harapan akan terjadinya revolusi dalam kehidupan seks mereka setelah kelahiran seorang anak dan...
Karena Himiko secara berulang meremas penis Bird bagaikan sebuah tangan memerah susu pada saat gadis itu memutarkan langit-langit pribadinya, Bird memilih orgasme paling bernafsu Himiko sebagai saat yang tepat bagi dirinya sendiri. Tapi ketakutan pada malam panjang yang mengikuti setiap akhir persetubuhan mereka terus menahannya. Dengan dungu Bird bermimpi tentang tidur yang paling melenakan, menggapai lekukan lembut menuju puncak kenikmatan.
Tapi Himiko terus terbang, jatuh menukik ke landasan dalam sebuah liukan lembut dan tiba-tiba menari kembali ke angkasa bagaikan layang-layang yang terperangkap. Saat kembali mendarat di landasan yang salah, Bird mendengar bunyi telepon berdering. Dia mencoba bangkit, tapi Himiko menjepitkan tangannya melingkari punggungnya. "Teruskan, Bird," katanya sesaat kemudian, seraya menggendorkan pelukannya. Bird melompat ke arah telepon yang masih berdering di ruang tengah. Terdengar suara lelaki muda menanyakan ayah seorang bayi yang sedang dirawat di rumah sakit universitas. Bird mengejang, menjawabnya dengan suara seperti dengungan nyamuk. Telepon itu membawa pesan dari dokter.
"Maaf, kami terlambat memberi tahu, tapi kami sangat sibuk disini," kata suara itu dari kejauhan. "Saya meminta Anda untuk hadir pada pembedahan otak jam sebelas besok pagi. Ini dari kantor asisten Direktur. Dokter bermaksud menelpon Anda secara langsung, tapi dia berhalangan. Kami sangat sibuk sehingga terlambat memberi tahu!"
Bird menarik nafas panjang dan berpikir: bayi itu mati, asisten Direktur akan melakukan otopsi.
"Aku paham. Aku akan datang besok jam sebelas. Terima kasih."
Bayi itu makin lemah dan mati! Bird berkata pada dirinya sendiri saat meletakkan kembali gagang telepon. Tapi kunjungan macam apa yang dilakukan oleh maut pada sang bayi itu sehingga dokter perlu mengingatkannya terlebih dahulu? Bird merasakan pahitnya empedu yang meluap dari dalam perutnya. Sesuatu yang besar dan luar biasa menatap padanya dari kegelapan tepat di hadapan matanya. Seperti seorang entomologi yang terperangkap dalam sebuah gua hidup-hidup dengan seekor kalajengking, Bird berjingkat ke ranjang, gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ranjang itu, sebuah sarang yang aman; dalam hening Bird terus gemetar. Lalu, seolah-olah berusaha menggali kepuasan di kedalaman sarang itu, dia mencoba memasuki tubuh Himiko. Dengan tak sabar ia mengalami kegagalannya dan hanya separuh ereksi. Jari jemari Himiko membimbing Bird. Dengan cepat rangsangannya membangkitkan gerakan binal gadis itu. Pada saat pasangannya mencapai klimaks, Bird mundur dan terpuruk dalam masturbasi hampa. Menyadari pukulan godam di belakang dadanya sebagai rasa sakit, Bird tergeletak lunglai di samping Himiko dan merasa percaya tanpa alasan bahwa suatu hari dia akan mati karena serangan jantung.
"Bird, kamu benar-benar tampak ngeri," kata Himiko, mengeluh seraya menatap aneh wajah Bird melalui kegelapan.
"Ah, maafkan aku."
"Bayi itu?"
"Ya," sahud Bird, ketakutan.
"Apakah itu tantang kantor Asisten Direktur?"
"Sebaiknya kamu minum pil tidur dengan wiski lalu tidur, kamu tak perlu menunggu telepon itu berdering lagi." Suara Himiko terdengar lembut.
Saat Himiko hendak menyalakan lamu di sisi ranjang dan pergi ke dapur, Bird menutup matanya untuk menghindari cahaya lampu, menghalanginya dengan tangannya dan mencoba menyingkirkan kerikil tajam yang menancap di otaknya—mengapa bayi sekarat itu membuat dokter sibuk dengan selarut ini? Tapi Bird segera diserang oleh rasa takut. Dengan membuka sedikit matanya, dia meraih gelas dari tangan Himiko yang sepertinya berisi wiski dan memingit beberapa pil tidur, menelannya dengan sekali telan, dan kembali memejamkan matanya.
"Itu bagianku juga," kata Himiko.
"Ah maafkan aku," ulang Bird dengan tolol.
"Bird?" Himiko berbaring di atas ranjang, dengan mengambil jarak dari sisi Bird.
"Ya?"
"Aku akan menceritkan padamu menceritakan dongeng sampai wiski dan pil itu bekerja—satu bagian dari novel Afrika. Apakah kamu pernah membaca tentang hantu perompak?"
Bird menggelengkan kepalanya dalam kegelapan.
"Ketika seseorang perempuan mengandung, hantu perompak memilih salah satu di antara mereka untuk menyelinap ke dalam rumah perempuan itu. Sepanjang malam, hantu itu mengganyang janin yang sesungguhnya dan masuk ke dalam rahim. Saat hari kelahiran, hantu itu lahir sebagai janin yang tak berdosa..."
Bird mendengarkan dalam hening. Sejak dulu kala, banyak sekali bayi yang terserang penyakit. Saat ibu mereka memberi sesajen dan berharap dapat menolong anaknya, hantu perompak diam-diam menyembunyikan diri dalam lubang rahasia. Bayi-bayi ini tak pernah sembuh. Apabila bayi itu mati dan tiba saatnya untuk dikubur, hantu itu kembali ke ujud asalnya dan kabur dari kuburan, kembali ke sarang para hantu perompak dengan membawa serta sesajen dari lubang persembunyiannya.
"...Janin itu terlahir sebagai bayi yang lucu sehingga membuat ibunya jatuh hati dan tak ragu-ragu memberikan yang dia minta. Orang-orang Afrika menamakan bayi itu 'anak-anak yang lahir ke dunia untuk mati', tapi bukankah indah sekali membayangkan betapa lucunya mereka, bahkan bayi-bayi mungil sekalipun!"
Barangkali Bird akan menceritakan kisah itu pada istrinya. Dan karena bayi kami dilahirkan untuk mati, perempuan itu akan membayangkannya sebagai seorang bayi yang amat cantik. Aku bahkan akan meralat memoriku sendiri. Dan itu kan menjadi penipuan terbesar seumur hidupku. Bayiku yang aneh mati tanpa perbaikan pada kepala kembarnya yang buruk, bayiku adalah seorang bayi yang aneh dengan dua buah kepala hingga waktu tak terbatas setelah kematiannya. Dan jika ada sesosok raksasa muncul sebagai algojo pada saat itu, bayi dengan dua kepala itu pasti akan terlihat olehnya, dan ayah bayi itu juga.
Merasakan perutnya mual, Bird membenamkan diri dalam tidurnya seperti sebuah pesawat terbang jatuh dari angkasa, tidur bisa membuat kita tertutup dengan cahaya impian. Dalam sisi-sisa ingatan kesadarannya, Bird mendengar bayang-bayang mendiang ibunya berbisik: "Bird, kau benar-benar akan merasa nyeri!" Bird melemparkan tubuhnya ke belakang seolah-olah sebuah beban berat tergantung di kepalanya dan seraya mencoba menutup kedua lubang telinganya dengan ibu jari, dia membenturkan sikunya pada mulut Himiko. Dengan meneteskan airmata karena kesakitan, Himiko menatap melalui kegelapan dan kawan tidurnya yang mengejang tak wajar. Himiko bertanya-tanya apakah Bird telah salah menafsirkan telepon dari rumah sakit. Mungkin bayi itu benar-benar mati; lagi pula, bagaimana mungkin dia menyembuhkanya dengan hanya dengan memberi susu terus menerus? Dan tidaklah mereka ingin agar Bird ada di rumah sakit untuk merundingkan soal operasi?
Kawannya tertidur di sampingnya dengan tubuh terlentang tak nyaman bagaikan seekor orang utan dalam kandang. Bau wiski yang menyengat tercium dari dengus nafasnya', terasa konyol dan menyedihkan bagi Himiko. Tapi tidur tidak menjadi istirahat sejenak sebelum kehebohan esok pagi. Himiko bangkit dari ranjang dan menyentakkan tangan dan kaki Bird; dia begitu berat seperti raksasa, tapi tubuh itu tak melawan. Ketika Bird berbaring terlentang dengan leluasan di atas ranjang sehingga dia bisa tidur lebih nyaman, Himiko menyelimuti dirinya dengan sehelai seprai dengan gaya seperti orang filsuf Yunani dan beranjak ke ruang tengah. Dia hendak mempelajari peta Afrika hingga saat matahari terbit.
***

Kenzaburo Oe yang dilahirkan di Shikoku, 1935, adalah peraih nobel sastra 1994. pengarang jepang ini mempublikasikan cerpen pertamnaya pada saat masih kuliah dan karirnya terus melesat dari tahun ke tahun. Beberapa karya pentingnya antara lain The Cacth (1958) yang memenangkan Akutagawa Pice dan Footbaal in the Firs Year of Mannen (1967) yang memenangkan Tanizaki Price..