Saturday, 25 May 2013

MAHKOTA MAWAR



Oleh: Elok Wulandari
(Termuat di Radar Mojokerto, 26 Mei 2013)
(Penyunting: Akhmad Fatoni)

Temaram lampu tak akan dapat menggantikan sinarmu meski saat ini engkau telah hangat kudekap. Hembus nafasmu terasa hangat mengaliri kulit ari dan bulu halus di dadaku. Hanya ada bisik dalam hati, tak terucap, betapa kau sungguh berarti. Maafkan mama sayang, tidak akan mama lakukan kesalahan serupa, cukup sampai hari ini, malam ini.
Pagi itu mentari tak bersinar seperti biasanya, kabut tipis menyelimuti halaman dengan tetes gerimis mengetuk atap teras jendela kamar. Kamar ini terasa dingin, pengap. Begitu dingin dan pengap, sehingga dapat membuat aku yang sedang enggan membuka mata, semakin tenggelam dalam denyut jantung yang semakin lambat. Mataku semakin sayu dalam lelap. Tapi lamunan pagiku buyar bersama dengan teriakan suaramu yang semakin gaduh. Saat itu juga aku berharap apa yang kulihat beberapa waktu lalu juga hanya mimpi yang tak nyata dan selesai begitu teriakanmu membangunkanku. Akhir-akhir ini ada yang salah di antara kita, aku merasa apa yang kau lakukan, apa yang kau ucapkan, selalu membuatku naik pitam. Sejenak aku menyesal atas setiap kata-kata kasar yang aku ucapkan. Namun sedetik kemudian kaukembali membuatku harus berteriak dan melarangmu melakukan sesuatu yang seolah sama saja dengan memberimu perintah melakukan hal yang lebih gila. Kau seolah memiliki ratusan bahkan ribuan macam cara untuk membuat mataku mendelik dan otot pipiku terasa kaku karena menahan amarah.
Suatu siang, sepulang sekolah, kau berlari dari halaman memasuki rumah. Membanting pintu tanpa melepas sepatu. Aku mencoba menahan amarah, saat kulihat bekas lumpur di atas lantai dengan stempel sepatu yang kaubawa entah darimana karena kita tinggal di rumah tanpa halaman, dengan sedikit beranda menghadap jalan meski bukan jalan raya. Kulihat matamu membelalak besar penuh ceria saat kausantap kue hangat di atas meja.
“ Ma, kenapa papa tidak pulang?” singkat kau bertanya.
Siluet malam itu kembali datang meski samar. Aku hanya diam. Tak hendak menjawab pertanyaanmu sembari membereskan tas dan seragam merah putih yang kaulempar di atas kursi sembarangan.
“Aku tadi melihat papa. Papa sedang berjalan melewati jalan raya dekat pusat perbelanjaan di ujung jalan sana, tapi papa menggandeng tangan seorang wanita Ma. Dia sangat cantik dengan kacamata hitam besar dan kemeja warna pink. Kenapa papa menggandeng tangannya ya Ma? Apakah wanita itu juga tidak bisa menyeberang jalan raya sepertiku? Sebab papa juga selalu menggandeng tanganku setiap kali kita berjalan-jalan dan menyeberangi jalan raya karena takut aku tertabrak mobil atau sepeda. Papa bilang papa menyayangiku. Apa itu berarti papa juga menyayangi wanita itu?” kauterus mengoceh dengan kue penuh di mulutmu. Kalimat panjang yang menjadi tambang pencekik, membuat aku susah bernafas. Bahkan sesaat aku merasa jantungku berhenti berdetak.
“Sudah jangan banyak bicara, cuci kakimu, dan segera ganti baju.Kau masih berdiri diambang meja dengan mulut yang masih terus berbicara.
“Kalau nanti aku sudah dewasa, aku ingin secantik wanita itu Ma, tapi tidak...... Aku ingin seperti mama. Mama juga cantik. Mama juga pintar memasak, membuat kue, menguncir rambutku, dan masih banyak lagi. Iya kan Ma?”
“ Jangan banyak bicara, cuci kakimu, dan segera masuk kamar!” Tanpa kusadari nada bicaraku mendadak tinggi. Kau berhenti mengunyah dan mulai menangis.
“Kenapa Mama marah padaku?”
Saat itu juga aku baru menyadari betapa segala tingkah polahmu selalu memancing amarahku. Kata-katamu, gerak tubuhmu, senyummu, air matamu, rambutmu, matamu, bibirmu, dan semua yang ada padamu. Karena pada dirimu aku melihat pria itu, papamu, suamiku.
“Jangan pernah bertanya tentang papamu. Dia sudah pergi meninggalkan kita. Dia pergi dan tidak akan pernah pulang lagi, kautahu itu! Jadi jangan pernah bertanya lagi, karena papa lebih memilih wanita itu daripada kita.
Kemarahanku semakin menjadi, entah setan apa yang merasuki otakku. Kau masih terlalu kecil untuk mengerti bahkan memahami ini. Kau tidak seharusnya tahu semua ini, tapi amarahku tak terkunci. Kulempar tas dan seragammu. Aku seret kaumasuk kamar dan kubanting pintu. Saat itu juga tubuhku terasa lumpuh, air mata tak tersaring lagi. Amarahku tumpah menjadi-jadi.
Semua dimulai sejak hari itu. Hari di mana aku mendapati suamiku berada dalam satu selimut yang sama dengan seorang wanita. Wanita jalang yang selama ini aku kenal baik. Aku percaya. Aku terima sebagai penggantiku. Mengerjakan semua pekerjaanku di kantor. Kantor kecil yang aku rintis bersama suamiku. Aku harus mundur karena kewajibanku sebagai seorang ibu. Aku diharuskan menjaga anak kami dengan pertimbangan kelebihan energi yang ia miliki. Kemampuannya melakukan segala sesuatu melebihi teman-temannya, membuatku harus memberinya pengawasan ekstra. Tapi kini, bagiku semua ini hanya alasan. Hanya kedok. Aku membenci semuanya.
Pada suatu Minggu pagi, semua masih terasa abu-abu karena teriakanku dan teriakanmu yang hampir setiap hari bergantian kadang bersamaan mengisi rumah ini. Kaukembali memecah sinar mentari dengan teriakan dan tangismu yang membabi buta hanya karena setangkai bunga mawar. Kau menangis kencang pada pembantu, karena dia hampir mematahkan tangkainya.
“Kenapa kau menangis? Jangan berteriak. katakan pada Mama.” Aku masih bingung apa yang kautangisi dari setangkai mawar.
“Bibi hampir mematahkan mawarku. Mawarku patah mama!”
“Bukankah itu masih belum patah. Bahkan ada satu mawar lagi yang lebih mekar dan indah dari yang itu sayang.”
“Tapi itu mawarku. Sudah patah satu, sekarang mau patah lagi!”
“Iya, sudahlah. Mama tahu itu kau yang tanam. Sekarang kita pindahkan mawar ini ke beranda kamar saja, ya!” Aku menggandeng tanganmu dan merayu. Namun tampaknya rayuanku tak juga meluluhkan hati kerasmu. Kau semakin menangis menjadi-jadi, membuat aku kembali naik pitam dan memasukkanmu ke dalam kamar. Kau masih meraung-raung dengan tangismu dan menggedor pintu keras-keras dari sisi yang lain.
“Mama jangan kunci aku. Aku janji tidak akan menangis lagi. Lengking suaramu menusuk telinga dan hatiku, membuat mataku panas, air mataku menetes, mengalir, dan tak dapat kubendung lagi. Aku terisak. Kau berhasil membuat hari ini terasa sesak di dadaku. Sebenarnya bukan hanya hari ini, tapi juga hari-hari sebelum ini. Setelah hari itu.
*
Aku melihat kau menggambar dengan beberapa crayon berserakan di lantai, membelakangi pintu. Aku memutuskan untuk masuk kamarku dan mandi, berharap itu cara terbaik yang dapat melunturkan segala penat hari ini.
Waktu makan malam. Kau tertidur pulas di atas kertas gambarmu dengan crayon masih tergenggam. Seketika mulutku terasa bisu, saat aku melihat gambar di kertasmu. Gambar seorang wanita dan putri kecilnya, dengan bunga-bunga mawar di atas kepala mereka.
“Selamat ulang tahun Ma. Aku sayang Mama. Ma, aku tidak akan tanya-tanya papa lagi. Aku hanya ingin mama, karena mawar papa sudah patah dan papa tidak memakai mahkota mawar di atas kepalanya. Aku tidak akan nakal, tidak menangis, dan tidak berteriak. Asal mama berjanji tidak akan meninggalkanku dan menggandeng tangan orang lain seperti papa. Aku sayang mama.”
Hujan es mengguyurku malam itu. Mengaliri setiap lekuk saraf dan otakku. Aku merasa otakku berhenti bekerja. Yang kurasa hanya sesal. Betapa bodohnya aku, menjadi seorang ibu yang sama sekali tidak peka pada apa yang dirasakan buah hatinya.
Bukan hanya aku yang kecewa. Bukan hanya aku yang kehilangan, tapi juga dia. Putriku satu-satunya. Menjaga mawar yang kini tersisa. Yang tak ingin kembali kehilangan satu kuntumnya. Karena kini, hanya aku yang dia punya. Maafkan mama sayang. Mama bersalah, mama egois, mama hanya memikirkan perasaan mama. Mama akan bertahan untukmu, untuk kita, putri mawar mama.
Sejak malam itu aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan melupakan pria itu. Pria yang telah meninggalkan kami. Aku akan menjadi ibu yang kuat untuk putriku. Ibu yang akan selalu menjaganya. Hanya menggandeng tangannya dan tidak akan pernah menggandeng tangan siapa pun lagi, selain dia.


Tentang Penulis:
Elok Wulandari, tinggal di Mojosari. Seorang penggila karya-karya Kahlil Gibran. Saat ini sedang nyantrik di Komunitas Arek Japan (KAJ) untuk mengasah kemampuan menulis dan teater.

Thursday, 16 May 2013

Pengumuman Roangga




Cerpen Nasrulloh Habibi*)
(Dimuat di Harian Republika, 12 Mei 2013)
(Penyunting: Akhmad Fatoni)

            Lelaki yang memakan waktu separuh abad lebih itu akhirnya telah tiada. Setelah sekian lamanya menjerang nasib dalam lilitan usia dan yang melelahkan. Ia meninggal dalam keadaan tenang dan tersenyum segar. Mati yang sekian hari ia nanti dalam tepi  keterputusasaan hutang  tak terperi. Beberapa kali serangan jantung itu membuat kami anak-anaknya was-was dan mengomatkamitkan doa apa saja. Dan serangan yang terakhir inilah, saat penantiannya yang terindah. Saat bibirnya menyebut ayat Tuhan di tahiyat akhir pada sebuah Subuh. Dan merasakan detak jantung yang berdenyut tak teratur semenjak lama. Tanpa perawatan sebagaimana mestinya. 

            Ia ayahku, berpulang dalam penantian hidup yang melelahkan bagiku, setidaknya mungkin bagi dirinya. Dalam kematian senja yang indah. Orang-orang lalu berbondong-bondong mengitarinya yang telah terbungkus kafan kasar nan putih. Hujan tangis bercucuran rebah menumpah ke bumi dari air mata mereka yang kehilangan. Aku sedikit bersyukur dalam hal ini. Meski ada gurat sesal yang mesti menjalar pelan menusuk kalbu. Air genangan bekas memandikan ayah pun pelan dan seolah enggan meresap pekarangan sedari waktu yang berlalu. Wanginya masih lekat kukenal, sisa daki keringat tuanya yang sekian tahun takkan pernah kulupa. Ah, sosok itu, kenapa harus senaas ini takdirnya. Menukar kebebasan dan senyum putra-putrinya dengan ajal yang kian lama menjemput. Sekali lagi aku tetap bersyukur, setidaknya aku tak terlalu menyesal semasa menemani menjemput ajalnya kini.
*****
            Sebelumnya, aku sering mendapat telepon ayah. Ia selalu menyuruhku lekas pulang untuk menjenguk rumah. “Pulanglah Nak, ibumu menghilang entah ke mana…” tak ayal aku  pulang meski malas tetap ada. Aku harus merelakan waktu tempuh sepuluh jam lebih dan jatah kocek selama seminggu dalam sebulan untuk memenuhi panggilan ayah dari Yogya ke Mojokerto. Sesampainya, aku selalu mencium punggung tangannya yang menua. Dan seperti biasa ia suka curhat tentang ini itu. Tentang masalah yang sama dan itu-itu saja. Sampai aku bosan. 

           “Jika tidak kuat tinggalkan saja Ibu, aku siap hidup tanpanya…” suatu ketika kata-kata itu menelusup ke daun telinga ayah. Dan kata-kata itu kini sudah lapuk. Tak ada gunanya mengulang pernyataan yang sama. Aku tetap menemani curhat ayah yang itu-itu tadi. Tentang ibu yang berkicau dan suka meraung tak jelas, adik lelaki yang tak punya banyak mimpi, dan kakak yang menjadi regenerasi ibu.

Semua masalah itu terdengar klise di tengah masa pendidikanku. Di bangku perkampusan yang bergengsi dan berbudaya, Fakultas Ilmu Budaya di UGM atas mengadu nasib dengan anak panah melalui tes pada umumnya.

Seperti saat-saat kepulanganku di rumah. Aku melihat adik sedang syahdu bermimpi-mimpi di kasur reotnya. Lalu, tampak kakak sibuk menghitung-hitung pengeluaran untuk keperluan perut ke bawah. Entah kenapa sejak ia menikah dengan rentenir, otak kirinya menjadi melebihi profesor. Tak terlebih nuraninya. Sebutir nasi yang ditelan selain dirinya musti dihitung. Tak ubahnya hutang.

Baginya ia sudah menjadi tanggung jawab orang lain. Dan uang yang ia pegang ialah harus seizin suami yang ganas itu jika menagih utang pada pelanggan. Nyatanya kakak masih menempelkan hidup dengan suaminya di rumahku.

Aku mafhum dengan kondisi ayah yang seperti itu. Ketika bertahun-tahun kukenali kening ayah yang semakin berkerut. Rasanya tak ada yang aneh dari semua ini. Kegelisahan yang sama dan selalu membikin kebaruan luka. Kini ibu masih menghilang. Yang kudengar dari tetangga atau sanak “Ibumu sering dijemput lelaki berseragam coklat muda dengan mobil dinasnya sepulang  dari pabrik”.

Di tengah gemuruh rumah tangga yang kelabu dan pertengkaran ayah-ibu aku sering menghilang. Biasanya aku akan menghilang usai ibu menumpahkan magma di hatinya perihal hutang dan kebutuhan yang semakin membiak kepada ayah dan seisi rumah. Lalu, mulutnya akan menyumpahserapahi apa pun, tak lain ayah sebagai tersangka utama. Begitu juga adikku, lenyap secepat kilat. Tidak dengan kakak. Ia lebih memilih menenggelamkan diri di ruangan pribadi dengan suaminya yang selalu terbangun menjelang bedug1

“Ayahmu kian kurus dan sakit-sakitan Man, seringlah pulang. Jika kau di rumah ayahmu sedikit terang wajahnya.” Suatu ketika paman menasihati di tengah malam keheninganku menatap langit. Lalu aku sering pulang memenuhi panggilan dan nasihatnya. Memang benar ayah tenang di tengah kehadiran dan detik-detik kepulanganku. Kutengok ia yang semakin tua menghabiskan masa. Hari-harinya meski tenggelam di sekolahnya yang hampir roboh dan kusam. Jika tidak, pagi menjelang bedug separuh geraknya menghabiskan umur di pasar desa menjual tikar pandan, gerabah, dan terompah. Setelah itu, ia beranjak mengajar di rumah ibadahnya. Di kampungku ayah menempati pendidikan yang cukup terpandang. Walau hanya tamatan Pendidikan Guru Agama (PGA) di tahun tujuh puluhan.

Hingga menjelang hayatnya, ia masih menghibahkan umurnya untuk yayasan warisan leluhur. Pasar dan dunia pendidikan adalah dua mata uang hidupnya yang tak terpisahkan. Keduanya memiliki dunia sendiri namun bergandengan dan menguatkan. Tak ada kata mengeluh dalam segala keterbatasan. Kasihan ia, sedari dulu hidupnya hanya untuk ibu, anak-anaknya, dan yayasan sekolah, lain tidak. Jika sudah begitu yang terjadi ialah tuntutan ini itu yang bermunculan dan menambah kerut di dahinya yang coklat tua. Saat kami memandang gedung sekolah yang dindingnya kusam itu ia bergumam pelan.

“Lihatlah anak-anak desa yang bersekolah itu, hanya pada mereka tersimpan jariyahku kelak saat tiada. Kuharap kaubisa meneruskannya, ini pesan si mbahmu sebelum wafat.”
“Tidak ada pesan lain ayah?”
“Tidak, tapi jika kau punya mimpi lain, bolehlah. Asal kaupenuhi harapan ayah yang satu ini. Mimpi tak harus satu, tapi harus tinggi dan banyak. Apa mimpimu Nak?”
“Aku ingin seperti ayah tentu. Akrab dengan kesabaran dan ikhlas.”
“Demikiankah, tapi ayah gemar curhat katamu?”
“Tak mengapa, toh itu membuat ayah menjadi tenang di kala badai keluarga kita. Aku bahagia jika ayah tenang.”
“Ayah membaca tulisanmu di koran. Kau tak suka orang gemar curhat.”
“Ah, itu hanya kepada mereka yang hanya curhat dan tak mau naik kelas dari tempatnya berada, ayah lain.”
“Bagaimana ayahmu?’
“Curhat ayah adalah wasiat. Ayah tak sekadar curhat tapi merakitnya dengan bingkai pesan dan cinta.”
“Kau memang anak yang paling kubanggakan, jagalah adik-kakakmu jika ayah tiada kelak.”
“Aku akan menjadi pengganti ayah?”
“Tentu, kelak kau akan seperti ayah, seperti mimpimu. Bahkan lebih baik. Orang yang beruntung adalah yang bertambahnya kecemerlangan lahir batin di hari esoknya.”
“Pasti! Hari esok akan kuukir cemerlang lebih besar.”
“Mari pulang, senja akan datang dan waktunya kita lekas mendahului berbuka.”

Kami pulang berbonceng bebek merah kepunyaan ayah tahun generasi pertama. Warna keberanian menantang badai dan rintangan. Dan jalanan ke rumah adalah jalanan yang panjang kami lalui. Penuh lubang dan kelokan tajam. Lihat saja. Di rumah, kami disuguhi dengan ceracau ibu yang sedang bergelut dengan setumpuk jemuran yang enggan kering. Bisa ditebak bakal apa yang terjadi. Sembari membanting tutup panci yang pudar warnanya ia bersungut.

“Roangga datang lagi, aku tidak betah bermelas-melas dengannya. Bulan depan rumah kita akan disegel.”
“Harus bagaimana aku, sudah kuusahakan apa pun. Namun, semua hanya bisa bertahan. Bersabarlah barang sejenak. Kasihan anak-anakmu harus panik tiap kau berkata kasar.”
“Baik, mereka akan segera tenang sebentar lagi dan makan sendiri kesabaranmu. Aku tak sudi.”

Jika demikian, aku lekas hilang entah ke mana. Meninggalkan ayah yang kalang kabut menghadapi ibu. Dan lainnya akan memilih mendekap bisu. Sebuah dramatisasi yang sering berulang dengan berbagai macam klimaks adegan. Kadang memuncak. Kadang juga tertumpah haru biru kesedihan. Tanpa disadari, di Maghrib yang seharusnya menikmati buka yang khidmat itulah aku terakhir bertemu ibu, juga ayah.

*****

Kini aku sedang bersimpuh sebelah jenazah ayah. Kubisikkan pelan seraya terus menerus ayat-ayat suci. Sedemikian rupa kuusahakan airmata tak tumpah, karena aku tahu dia tidak suka itu. Kelegaan sedikit menyeruak lantaran banyak yang menyalatinya. Lebih dari empat puluh orang. Kebanyakan dari teman yayasan dan takmir masjid. Rahmat, murid ayah dan teman-temannya yang berjumlah sepuluh menjadi penambah sesak jamaah.

Untuk urusan kematian. Orang-orang lekas bergerak dengan sendirinya. Kerabat, sanak, saudara, teman, dan tetangga cekatan melakukan pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan. Ada yang menggali kuburan, menanak nasi, menakar beras dari pelayat, dan banyak lagi.

Di saat duka-dukanya aku tak melihat adik. Mungkin ia sedang mengutuki stresnya. Entah juga kakak. Aku hanya ingat setiap Kamis begini, ia menemani suaminya narik. Biasanya mereka pulang tengah malam dengan membawa jajanan yang disembunyikan dalam tas dinasnya. Ah, apa yang harus kukatakan pada ayah nanti sewaktu mengiring jenazahnya di pembaringan terakhir jika mereka tak turut. Biarlah aku akan meminta maaf. Akan kuurus nanti.

 Apa?! kawanan penagih itu juga muncul. Roangga, Ratiman, Lamangun, dan... Mungkin mereka datang untuk membebaskan tunggakan ayah, sekali lagi tersusup perasaan lega yang janggal di hati. Dan tibalah saat itu, sudah waktunya. Keranda sudah dipersiapkan. Tubuh ayah dimasukkan. Suara tahlil2 bergemuruh merdu.

Ketika jenazah ayah terkubur dalam gundukan tanah dan taburan kamboja. Tibalah  Mudin Rohim membacakan tahlil. Seusainya warga diharap mendengar pesan darinya. “Hadirin  di sini perlu saya sampaikan beberapa pesan mengenai hal yang bersangkutan dengan saudara kita Abdurrahman Bin Abdullah. Sebagai manusia yang bersosial tentu beliau pernah melakukan khilaf pada sesamanya baik yang disengaja maupun tidak. Dengan demikian, perkenankanlah saya atas nama keluarga menghaturkan permohonan maaf jika almarhum mempunyai salah. Selanjutnya saudara-saudara yang merasa almarhum memunyai tanggungan harap mengikhlaskannya atau langsung menghubungi keluarga. Terima kasih, wassalamualaikum…”

Suara Mudin Rohim langsung disambut suara lain yang sangat kukenal. Dengan mengucap salam yang keras dan berlebihan suara itu bergerak. “Assalamualaikum... Perkenankanlah saya ingin mengumumkan bahwa saudara almarhum  masih mempunyai hutang senilai enam puluh juta rupiah dan telah menunggak angsuran selama lima bulan terakhir dan jika dalam bulan terakhir ini keluarga belum melunasi, maka rumah almarhum beserta isinya akan disita oleh pihak yang berwenang.” Orang-orang saling pandang. 

Mataku tak mau berkedip sebab bukan karena Roangga, melainkan orang di sebelahnya yang memeluk erat lengan rentenir itu, ia ibuku. Apakah ibu jadi berubah pikiran. Lantas, apakah rentenir itu tidak paham kata Mudin Rohim tadi. Aku yakin orang-orang juga berpikiran sama mengenai  Roangga dan ibu.

Paras, 19 Maret 2013.

 Catatan.
:  Waktu salat Dhuhur.
2: Bacaan ayat suci al-Quran (Laailahaillallah Muhammadarrasulullah), biasa dibacakan berulang kali saat mengiring jenazah umat Islam ke pemakaman.





*)Nasrulloh Habibi dilahirkan di Mojokerto, 22 Mei 1988. Hobi mengoleksi buku semenjak kuliah dan menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, membaca, menulis, dan menghadiri acara keseneian. Seorang penikmat seni dan budaya. Menyelesaikan pendidikan sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia  Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada tahun 2010. Semasa kuliah sempat Aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan dan Fakultas Bahasa dan Seni. Mulai menulis puisi, cerpen, esai, dan resensi sejak tahun 2008. Pernah tergabung dalam beberapa forum diskusi sastra dan seni seperti Komunitas Rabo Sore (KRS), Komunitas Bangbang Wetan, Halte Sastra (DKS), Komunitas Arek Japan (KAJ) dan Teater Institut (TI). Pernah turut sebagai salah satu aktor latar dalam naskah Nyai Ontosoroh oleh R. Giryadi diadaptasi dari Novel Bumi Manusia karya Pramoediya Ananta Tour di Jakarta. Taman Budaya dan Kesenian Ismail Marzuki (TIM) Festamasio IV.
Sejumlah karyanya dimuat di beberapa media dan antologi bersama seperti Majalah Sesasi, Tabloid Gema, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Radar Madura, Berita Metro, Buletin KRS, Metamorfosis Kepak (Antologi Puisi Bersama), Kusir Bulan Gunjai (Antologi Puisi dan Cerpen Bersama), dan Tentang Kami Para Penghuni Sorter (Antologi Cerpen Mojokerto). Pernah nyantri dan tinggal di Pon. Pes. Sabilillah Lidah Wetan No. 17 A Surabaya dan Pon. Pes. Fathcul Ulum II Pacet, Mojokerto. Saat ini menjadi staf tenaga pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus pembimbing kegiatan ekstrakurikuler Penulisan Kreatif dan Jurnalistik di SMP Unggulan Berbasis Pesantren, SMA Unggulan Berbasis Pesantren, dan MTs. Program Akselerasi Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto. Sesekali diundang sebagai juri lomba baca puisi dan pidato tingkat SD di Gresik dan Surabaya. Aktif bergiat di Komunitas Arek Japan dan menjadi anggota redaksi bulletin Jurnal Lembah Biru beralamat di (bibisabil@yahoo.com) dan NasrullohHabibi.blogspot.com Nomor yang bisa dihubungi:  085730066188. 





Ibu di Wajah Purnama


Oleh Khoirul Muttaqin*
(Dimuat di Harian Radar Mojokerto, Minggu, 5 Mei 2013)
(Penyunting: Akhmad Fatoni)

“Seorang ibu memangku anaknya yang sedang menangis. Itulah yang kaulihat di wajah purnama, Mir.” Perkataan Mbah Sari  itu masih tumbuh segar pada otak Amir yang masih sangat penasaran pada sosok ibu. Ia mengenal Mbah Sari, manula yang menjadi orang pertama yang ia ingat dan kenal ketika memori otaknya mulai menunjukkan kinerja yang bagus. “Mbah,” Amir memanggil sosok manula yang raut wajahnya luntur oleh usia yang menggerogotinya.

Sepanjang malam Mbah Sari menceritakan tentang bulan. Hal itu karena Amir selalu bertanya tentang bulan. Cerita klasik tentang bulan memang selalu diceritakan orang tua kepada anak atau cucunya jikala malam sudah mulai udzur dalam kolom waktu anak-anak. Cerita tentang bulan menjadi cerita yang sangat menarik bagi anak karena di kampung yang sebatas sebuah kumpulan rerimbunan pohon yang membuat sesak nafas jikala malam tertidur di bawahnya, rembulan apalagi purnama menjadi sebuah peristiwa yang ditunggu setiap bulan.

Mbah Sari terus bercerita mengenai bulan. Mendengar kata-kata ibu dalam cerita bulan itu, Amir pun menanyakan tentang ibunya. Mbah Sari terdiam. Terus saja Amir mendesak, mungkin karena pemikiran anak-anak Amir yang mengikuti ketetapan umurnya. Karena terus terdesak oleh pertanyaan Amir yang bertubi. Mbah Sari memutuskan untuk menceritakan bahwa sebenarnya ibu dan adik Amir menjadi sosok yang senantiasa dilihat Amir dalam wajah purnama.

Angin malam itu berhembus mendengus. Pelan namun tetap menghadirkan dingin yang asing di kulit. Sekian detik terdiam. Amir bangkit dari ranjang reotnya menuju keluar. Mbah Sari yang duduk di sampingnya terkaget. Namun ia tak langsung mengejar Amir karena harus memegangi ranjang yang bergerak karena menerima gerakan cepat dari Amir tadi. Ranjang itu seakan mengerat seperti keratan tikus-tikus kali depan rumahnya.

Mbah Sari dengan kaki gontai berlari mengejar Amir. Malam purnama tampak masih menerjang dengan cahaya-cahaya rantai di atas rumah-rumah dan pohon-pohon. Meski malam itu bukan tanggal 15, namun cahaya purnama masih menujukkan keperkasaannya. Amir berteriak memanggil ibunya. Dalam kalungan malam dan cahaya purnama Amir berteriak sekuat tenaga memanggil ibunya. Itu membuat tetangga-tetangganya membaur keluar rumah. Mbah sari mendekatinya dan memeluknya erat. Ia terlihat marah namun dalam bola matanya yang hitam terlihat tetesan air jernih yang mengalur.

Beberapa orang tetangga mulai memadati rumah reot Mbah Sari.  Mereka sontak menanyakan apa yang terjadi pada Amir. Amir terlihat kebingungan. Apa yang salah padanya. Ia merindukan ibu dan adiknya yang hanya ia kenal melalui cerita-cerita Mbah Sari beberapa menit lalu, yang saat itu sedang duduk termenung di wajah purnama. Sehingga ia memanggilnya untuk sekadar menikmati wajahnya jika mereka menoleh. Namun pikirannya yang memang belum diproyeksi untuk memikirkan hal itu cukup menghentikan pertanyaannya. Kembali ia terlentang di atas ranjangnya. Neneknya menunggui dengan hati yang menghujam.

Mbah Sari menyesal telah menceritakan tentang ibu kepada Amir. Padahal cerita itu yang ia pendam selama ini. Menurut cerita tetangga, ibu dan adik Amir meninggal secara tragis di negara orang. Jenazah mereka dimakamkan di sana karena tidak ada biaya untuk membawanya pulang. Sejak itu, Mbah Sari, nenek yang merupakan keluarga Amir satu-satunya yang harus merawat Amir karena ayah Amir juga sudah lama meninggal dunia. Amir selalu menanyakan sosok ibu. Mau tidur ia bertanya tentang ibu. Mau makan ia bertanya, mau berak juga, mau apa saja. Sosok ibu sudah menjadi candu dalam pikirannya. Sehingga membuat setiap suara mendengung dengan kata ibu.

Setiap malam tanpa diketahui Mbah Sari, Amir keluar. Di malam tanggal 17, 18, dan 19 wajah ibu masih menghiasi purnama. Namun, tak pernah ibu sekadar turun menyapa Amir, meskipun Amir sudah berusaha dengan berbagai cara untuk memanggilnya. Sejak Maghrib, ia tidak langsung pulang. Ia malah menaiki teras masjid untuk memanggil ibunya, namun tak ada suara ibu pun menyaut. Amir tidak patah semangat, ia pun mendaki pohon mangga jiwo dekat masjid.  Di malam berikutnya, ia mendaki pohon asem. Namun hasilnya nihil. Sosok ibu tidak pernah menyahut atau sekadar menolehnya.

Seiring bergantinya hari, purnama semakin menjauhkan diri. Sosok ibu tidak lagi terlihat penuh. Namun Amir selalu berusaha memanggil sosok ibu dalam purnama yang tak penuh lagi itu. Seperti hari-hari sebelumnya sosok ibu tak pernah menyahut. Semakin resah hati Amir. Di malam ke-30 purnama menjadi bulan mati. Hati Amir hancur berantakan tak lagi sosok ibu ditemuinya di malam. Namun ia teringat purnama datang setiap bulan. Mungkin di purnama berikutnya sosok ibu menemuinya dengan senyum lebarnya. Yang pasti membuat hatinya yang gundah akan mengharu biru karena setiap pertemuan yang ditunggu akan menghadirkan suatu kebahagian yang selalu menelusup dalam benak jiwa.

Setiap hari Amir menyusun rencana untuk menyambut purnama bulan depan. Anak seumur dia bisa saja memikirkan cara itu. Dia sudah pernah naik ke teras masjid, pohon mangga jiwa, pohon asam, dan entah yang lain. Namun, dalam guratan waktu yang lalu itu tiada sosok ibu yang menyahut dan mau menemuinya. Ia pun ingin mencari tempat yang lebih tinggi dari tempat-tempat yang pernah ia naiki. Ia tahu semakin jauh jarak akan membuat suara tidak terdengar. Karena purnama jauh di langit maka ia harus mencari tempat yang tinggi untuk memangkas jarak tersebut.

Setiap hari ditanyakannya kapan purnama datang pada setiap orang. Kecuali Mbah Sari, orang-orang sudah lupa kejadian Amir berteriak-teriak memanggil ibunya saat purnama. Sehingga orang-orang hanya mengira bahwa Amir menunggu purnama karena ingin bermain di halaman bersama teman-temannya seperti anak-anak yang lain di kampung itu. Seminggu lagi purnama akan datang. Mendengar itu Amir siap sedia untuk menyusun rencana agar teriakannya mampu terdengar oleh ibu di wajah purnama itu.

Hari-hari dilalui Amir dengan merenung. Di sekolah ia merenung. Di masjid ia merenung. Di rumah merenung. Tapi di depan Mbah Sari, neneknya yang ia cintai ia simpan perasaan itu. Ia tak mau Mbah Sari ikut merasakan apa yang dirasakan. Ia juga berpikir jika Mbah Sari tahu rencananya itu pasti Mbah Sari membuyarkan semua itu. Hal itu membuat ia semakin tidak mau menceritakan hal itu ke Mbah Sari. Menjelang tidur, Mbah Sari tetap bercerita padanya. Kadang menceritakan tentang Pandji Sumlirang, Sangkuriang, Nyi Roro Kidul, Buto Ijo, sampai Malin Kundang yang dikutuk ibunya menjadi batu. Semua Amir dengarkan begitu saja. Lalu ia berpura-pura tertidur agar si Mbah segera pergi meninggalkannya di ranjang reot dalam kamar itu sendiri.

Dalam sebuah siang yang beraroma kamboja di sekitar areal kuburan, Amir tampak bermain bersama teman-temannya. Musim buah asem telah tiba. Amir dan temannya memunguti buah asem yang tercecer sambil berteriak kegirangan karena menemukan secercik harapan untuk bisa beli makanan ringan hari ini. Bagaimana tidak setiap mendapat buah asem yang banyak Amir akan menjualnya ke penjual bumbu baik di kampungnya maupun luar kampungnya. Ketika asik mencari jejatuhan buah asem. Terlihat Amir sedang bengong menatap ke arah barat. Rencana menaiki pohon dandu* yang  pernah ada di benaknnya kini tumbuh dan kembali berkembang di benak tersebut. Hal itu dikarenakan ia menemukan cara yang cukup ampuh untuk menaiki pohon yang selama ini dalam benaknya dianggap mustahil.

Di samping pohon dandu yang merupakan pohon tertinggi dan terbesar tersebut tumbuh pohon mangga yang batangnya menghubung ke pohon dandu itu. Untuk naik ke pohon itu tanpa bantuan pohon lain Amir tahu dia tidak akan pernah bisa karena ia mendengar bahwa batang pohon itu sebesar rangkulan tiga orang dewasa dan tanpa cabang. Mengetahui hal tersebut Amir tidak sabar lagi menunggu purnama karena ia yakin dari atas pohon itu ia akan mampu membuat ibunya menoleh karena teriakannya.

Persiapan menjelang purnama memang dilakukan Amir tanpa memberi tahu Mbah Sari. Setiap pulang sekolah ia terlihat di areal kuburan memandangi pohon dandu lalu mencoba memanjatnya jika sekiranya tidak ada orang yang melihatnya. Pada dua hari sebelum purnama Amir mampu menaiki pohon itu. Amir pulang dengan senyum selebar daun-daun mahoni di sebelah barat pohon dandu.

Amir kembali bertanya pada orang tua temannya untuk memastikan datangnya purnama. Jawaban orang tua itu sangat membahagiakan Amir karena malam ini purnama akan datang kembali. Amir pulang dengan mulut tersenyum lebar. Di rumah ia mencoba menggulung-gulung kertas untuk dijadikan pengeras suara seperti yang dilakukanya bersama teman-temannya di sekolah. Namun seketika Amir mengurungkannya karena takut ketahuan Mbah Sari. Amir kemudian naik ke atas ranjang reotnya untuk tidur siang. Ia sudah tak sabar menunggu malam karena ia yakin malam ini ia akan menemui ibunya. Bayangan tentang betapa hidupnya akan bahagia bila bersama ibu menambah keinginan itu. Ia membayangkan hidup bersama ibu dengan bahagia setelah ia melihat teman-temannya yang sangat bahagia bersama ibu mereka.

Sehabis Maghrib ia sudah berada di bawah pohon dandu. Sinar purnama mampu menyentuh tubuhnya yang mungil karena pada saat itu pohon dandu menggugurkan daun-daunnya karena kemarau yang telah berjalan. Di samping dandu pun daun-daun jati tercecer di tanah. Di langit tak sekilas awan pun yang melintas. Langit itu hanya dipenuhi purnama dan bintang-bintang yang bertebaran. Namun karena purnama masih mengendap jauh di timur, Amir harus menunggunya hingga sedikit ke atas.

Ketika purnama sudah muncul dengan gagahnya, Amir sudah berada di atas pohon dandu. Ia berusaha terus naik ke atas tanpa berpikir panjang. Ia mencoba meraih puncak dandu meskipun angin berhembus cukup keras. Di puncak dandu ia berteriak beberapa kali memanggil nama ibu. Hingga suaranya terlihat serak dan lama-kelamaan menghilang sosok ibu tak sedikit pun menoleh padanya. Amir gontai ia sudah tak bisa berteriak tubuh kecilnya menggigil karena tiupan angin di atas dandu. Ia mencoba turun perlahan. Namun karena ia menggigil ia terpleset jatuh.

Namun Malaikat Pencabut Nyawa belum diperintahkan Tuhan untuk menyabut nyawa anak itu. Ia tersangkut di tetumbuhan royotan yang menjalar di pohon mangga yang ada di samping dandu. Nyawanya selamat. Dengan usaha keras ia mencoba lepas dari tumbuhan itu dan berusaha turun. Sesampainya di tanah ia mencoba berteriak dengan suaranya yang mulai hilang.

“Ibu kau tak pernah mendengarkan aku. Aku sudah begitu keras berusaha memanggilmu. Tapi kaudiam seperti batu!” Ia mencoba mengumpulkan suaranya yang hilang agar mampu kembali berteriak.

“Jika kautetap seperti itu aku ingin kau menjadi batu. Kau pikir hanya ibu saja yang bisa mengutuk anak menjadi batu. Aku juga bisa!”Kembali kata-kata akhir tak lagi terdengar karena suara yang habis.

Dengan tubuh gontai Amir pulang. Di rumah ia disambut Mbah Sari dengan wajah cemas yang sedari tadi menunggunya. Ia hanya diam dan menuju kamarnya. Mbah Sari menyusulnya. Mbah Sari menanyainya dengan nada sedikit marah. Namun Amir hanya diam atau mungkin karena memang suaranya telah habis. Ia membaringkan tubuhnya dan tertidur.

         Malam-malam berikutnya ia tak lagi memanggil sosok ibu di wajah purnama. Ia hanya termenung menatap purnama. Ia semakin mencoba melupakan sosok ibu dan kembali ke sosok Mbah Sari. Purnama semakin hari semakin mengecil. Semakin kecil dan menghilang. Menghilangnya purnama semakin membuat ia melupakan sosok ibu.
                                                                                *
Pada suatu pagi di sekolah, guru IPA Amir menunjukkan gambar bulan kepada anak-anak didiknya. Setelah itu, guru pun memberitahu bahwa bulan itu berisi batuan. Sejurus dengan itu Amir terdiam. Beberapa menit ia terdiam. Wajah anak itu menunjukkan penyesalan yang dalam. Butiran-butiran bening mulai menghambur di matanya. Ia tetap terdiam dalam bekunya keadaan. Meskipun suasana kelas ramai tak sedikit menggugah dia dalam beku.

Paras, 24 April 2013
*( cerita mengenai seorang ibu memangku anaknya di bulan yang tampak dari bumi beredar di masyarakat desa Tebuwung, Dukun, Gresik
*( pohon dandu merupakan pohon raksasa yang dapat ditemui di daerah Dukun, Gresik

*( Khoirul Muttaqin alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa. Saat ini menetap di Pacet. Aktif di KAJ (Komunitas Arek Japan) sebagai wakil ketua. Selain itu, menjadi pendidik di SMAU BP Amanatul Ummah.