Monday, 3 August 2009

RACUN TEMBAKAU

Monolog karya : Anton Chekov
Terjemahan : Jim Adhi Limas




Pelaku : Ivan Ivanovich Nyukhin, seorang suami dipingit yang punya istri punya sekolah musik partikelir dan indekos buat anak perempuan.

Setting : sebuah panggung kecil di ruang pertemuan.

(DENGAN CAMBANG YANG PANJANG, KUMIS DICUKUR KLIMIS, MEMAKAI JAS HITAM YANG SUDAH TUA DAN TERLALU SERING DIPAKAI. IA MUNCUL DENGAN SIKAP YANG AGUNG, MANGGUT-MANGGUT MEMPERBAIKI DASINYA.)

Omong-omong, Tuan dan Nyonya. (mengusap-usap cambangnya) pada istri saya datang sebuah permintaan untuk tujuan amal, saya membacakan sebuah ceramah yang bersifat umum. Nah, kalau saya harus ceramah, tentu saja bagi saya tidak menjadi soal sama sekali. Jelas saya ini bukan profesor, dan saya tidak punya satu gelarpun. Tapi meskipun begitu, selama 30 tahun terakhir ini, bahkan sampai merugikan kesehatan saya segala, tidak ada hentinya saya mengerjakan persoalan-persoalan yang sifatnya ilmiah melulu. Saya orang berfikir, dan saya pujangga. Kadang-kadang saya juga menulis tulisan-tulisan ilmiah. Maksud saya bukan ilmiah yang sok, tapi maaf saya katakan ini, boleh digolongkan ke kelas ilmiah.
Sebelum lupa, kemarin dulu saya menulis sebuah artikel panjang berjudul “ bahaya dari jenis-jenis serangga tertentu”. Anak perempuan saya semua menyukainya. Terutama bagian-bagian yang mengenai kutu-kutu tembok, tapi setelah dibaca kembali, saya robek lagi. Sudah tentu, seberapa pandainyapun orang menulis, obat anti kutu memang harus dibeli. Sampai-sampai saya punya piano, eh..didalamnya digigitin kutu…..
Untuk ceramah hari ini saya mengambil pokok masalah yaitu bahaya yang disebabkan oleh perilaku manusia, yakni menghisap tembakau. Saya sendiri merokok, tapi istri saya yang menyuruh saya ceramah tentang bahaya tembakau hari ini, dan karena itu, tak ada jalan lain. Baik, tentang bahaya tembakau, ..tembakau adalah……..bagi saya tidak jadi soal sama sekali, tapi bagi hadirin? Saya anjurkan untuk sebisa mungkin menangapi ceramah ini dengan segala kesungguhan, demi mencegah terjadinya sesuatu yang tidak terduga. Namun, siapa yang takut ceramah ini akan terlampau kering ilmiah? Yang tidak suka macam begini, mereka tidak perlu ikut mendengarkan, dan saya tidak keberatan kalau mereka mau pulang saja. (MEMPERBAIKI DASINYA)
Saya terutama minta perhatian dari para anggota lingkungan kedokteran yang hadir disini, agar mereka bisa memperoleh keterangan yang berguna dari ceramah ini. Berhubung tembakau selain punya akibat buruk, juga digunakan dalam dunia kedokteran. Begini misalnya, kalau saya masukkan seekor lalat ke dalam botol berisi tembakau, binatang itu kemungkinan besar mati karena sarafnya tergangu.
Tembakau kita kenal sebagai tuimbuh-tumbuhan,….. biasanya kalau saya ceramah mata kanan saya selalau kekedipan, yang hadirin tidak perlu risaukan, itu lantaran senewen. Saya orang yang sangat gugup pada umumnya. Dan kekedipan mata ini sudah mulai sejak lama, sejak 1989. Kalau mau tepatnya tanggal 13 September, di hari istri saya melahirkan anak perempuan kami yang keempat, namanya Barbara. Anak perempuan saya semuanya lahir pada tanggal 13. tapi…(MELIHAT ARLOJI) karena sempitnya waktu, sebaiknya saya jangan menyimpang dari pokok permasalahan.
Oh.ya , sebelum lupa, saya bisa ceritakan bahwa istri saya punya sekolah musik, dan membuka indekos partikelir, maksud saya bukan indekos biasa, tapi ..ya begitulah. Antara kami, istri saya paling suka ngomel tentang kesusahan jaman. Padahal dia punya simpanan 40 sampai 50 ribu rubel di suatu tempat tersembunyi. Sedang saya?, saya ini tidak dikaruniai sesenpun, tidak sesenpun. Tapi yaah…buat apa ngotot tentang yang begituan? Saya turut mengatur indekos dengan menjaga urusan rumah tangga. Saya yang belanja persediaan makanan, saya mengawasi para pembantu, saya basmi kutu-kutu, saya ajak jalan-jalan anjing kesayangan istri saya, saya tangkap tikus. Malam kemarin saya membeli tepung terigu dan mentega untuk koki, berhubung hari ini kami bikin kue dadar gulung. Singkatnya, hari ini setelah dadar gulungnya jadi, istri saya masuk ke dapur untuk menyampaikan bahwa tiga dari murid-muridnya tidak dapat makan dadar gulung karena sakit gendeng. Jadi, kebetulan saja ada dadar gulung yang tersisa. Lantas mau diapakan? Istri saya tadinya suruh simpan di almari, kemudian dia berpikir lagi, dan setelah dipertimbangkan dia berkata : “ sudah makan saja dadar gulung itu Begong,…”. Kalau sedang marah dia selalu menyebut saya demikian, “Begong” atau “Cacing”, atau “setan alas” . Orang macam saya begini masa setan?. Dia sering marah-marah begitu. Lalu dadar gulung itu tidak saya kunyah perlahan-lahan, malahan dadar gulung itu saya telan bulat-bulat, karena saya selalu kelaparan. Kemarin misalnya, saya tidak dikasih makan, “ tidak ada gunanya” kata istri saya. Tapi..(MELIHAT ARLOJI). Saya sudah nglantur lagi, sudah menyimpang dari pokoknya. Mari kita lanjutkan. Meskipun tentu saja hadirin lebih senang mendengarkan roman atau simfoni atau sebuah nyanyian. (MENYANYI) “ dalam api perjuangan kita tidak gentar…..” saya kurang ingat dari opera mana lagu itu. …Sebelum lupa, saya belum sebut bahwa selain manangani urusan rumah tangga, di sekolah musik istri saya, tugas saya termasuk juga mengajar matematika, ilmu hayat, ilmu kimia, ilmu bumi, sejarah, do-re-mi, sastra , dan seterusnya. Untuk les dansa, nyanyi dan menggambar, istri saya minta bayaran ekstra, meskipun sebenarnya sayalah guru dansa dan nyanyinya.
Sekolah musik kami ada di jalan Lima Anjing no. 13. Barangkali itu yang membikin hidup saya sial karena tinggal di rumah nomer 13. lagipula semua anak perempuan saya lahir pada tanggal 13, dan rumah kami punya 13 jendela. …..tapi, ya untuk apa diributkan semua ini?. Istri saya selalu dirumah, setiap waktu bisa terima kunjungan pembicaraan, dan prospektus sekolah bisa di dapat dari portir. Tiga ketipan satunya. (MENGAMBIL BEBERAPA CONTOH PROSPEKTUS DARI SAKUNYA). Dan kalau perlu, bisa dapat dari saya juga. Tiga ketip sehelai, siapa mau?. (HENING) tidak ada yang mau? Sudahlah dua ketip? (HENING). Sayang sekali. Nomer rumah kami jalan Anjing nomer 13. saya memang gagal dalam segala hal, saya sudah tua dan lagi bodoh. Sekarang saya sedang ceramah, dan kelihatannya riang saja, tapi sesungguhnya saya ingin berteriak setinggi langit, atau lari keujung dunia….dan kepada siapa saya bisa mengadu. Saya malah ingin menangis….. kita mungkin bisa bilang “ kaukan punya anak perempuan”.. ya… tapi anak perempuan itu apa?. Saya ngobrol dengan mereka, mereka cekikikan melulu….. istri saya punya 7 anak perempuan, eh bukan, maaf, kalau tidak salah 6…(RUSUH) ya tentu saja 6, yang sulung umurnya 27 tahun dan yang bungsu sudah umur 17. Tuan-tuan..(MELIHAT SEKELILING) aku sengsara, aku sudah jadi dungu, tidak berarti, tapi tetap di depan sini berdiri seorang ayah yang paling bahagia. Bagaimanapun, begitulah mestinya dan aku tidak berani mengatakan bahwa tidak begitu. Tapi kalau kalian tahu, aku sudah bersama biniku selama 33 tahun, dan aku bisa saja katakan bahwa itu tahun-tahun yang paling subur, maksudku bukan terbaik, tapi secara umumlah. Telah lalu semua dalam satu kata, seperti satu detik kebahagiaan, tapi terus terang persetan segalanya. (MELIHAT SEKELILING) aku kira dia belum datang. Biniku belum disini, jadi aku bisa bicara sesukaku. …aku sangat penakut… aku takut kalau dia pandang aku. Nah, seperti sudah aku katakan, anak perempuanku belum pada kawin. Kemungkin besar karena mereka pemalu, dan juga karena jejaka-jejaka tidak diberi kesempatan melihat mereka. Biniku paling tidak seka bikin pesta, dia tidak pernah undang siapapun makan, dia klewat judes, adatnya jelek, perempuan tukang cekcok, sehingga tidak ada yang mau bertemu, tapi…… ini aku kasih tahu karena aku percaya pada saudara-saudara. (MAJU KE UJUNG PANGGUNG) pada hari raya petang anak perempuan biniku bisa dijumpai di rumah bibi mereka Natalia Semirzovna, itu nyonya yang menderita sakit reumatik dan selalu memakai gaun kuning ordo-ordo hitam. Seperti itu. Disana makanannya betul-betul enak. Dan kalau kebetulan biniku tidak ikut, kita bisa…(MENGANGKAT SATU TANGAN SEBAGAI ISYARAT MINUM) maklum, aku bisa saja mabok dari saatu gelas anggur, dan disaat demikian aku mampu merasakan bahagia sekaligus sedih yang aku tidak bisa gambarkan kepada hadirin. Aku teringat lagi masa muda. Dan ada sesuatu yang membikin aku ingin lari, ingin minggat segera…. Oh.. jikalau saudara-saudara bisa merasakan bagaimana aku ingin melakukan itu. (SEMANGAT) lari, meninggalkan semua ini, lari tanpa menengok lagi ke belakang……kemana? Tidak peduli kemana…. Asalkan bisa minggat dari kehidupan yang hina, kejam. Marah ini yang sudah menjadikan aku tua bangka bobrok, galak, dengki, yang jiwanya sempit serta menjengkekan itu. Biniku itu….. yang sudah menyiksa aku selama 33 tahun lamanya. Minggat dari kemunafikan, dari dapur, dari urusan duit, dari persoalan-persoalan seperti vulgar… lari untuk berhenti disuatu tempat yang jauh, jauh sekali. Disuatu padang, untuk berhenti, berdiri menjulang seperti sebuah pohon, seperti tiang, seperti hantu pengusir burung, dibawah langit yang lebar, dan terus memandang bulan sunyi diatas kepala, lalu melupakan, melupakan… Oh betapa aku rindukan, kemampuan tidak meningkat…. Betapa aku tidak sabaran lagi untuk menjambret jas tua ini yang 33 tahun yang lalu kupakai pada hari pernikahanku. …(DENGAN KASAR MEMBUKA JAS) yang selalu mesti aku pakai buat ceramah-ceramah pada kesempatan amal……rasain lu!!… (MENGINJAK-INJAK) rasain! Aku tua, melarat, sengsara seperti jas tua ini, dengan punggungnya tambal-tambal. (MEMPERLIHATKAN PUNGGUNG JAS ITU) aku tidak mau apa-apa! Aku lebih baik dan lebih bersih dari itu. Aku pernah muda, aku pernah belajar di universitas, aku pernah bercita-cita, aku pernah menganggap diriku seorang lelaki…… sekarang aku tidak mau apa-apa! Tidak apa-apa selain istirahat. ( MELIHAT KE BELAKANG, LALU CEPAT MEMAKAI JAS LAGI) istri saya sudah ada dibelakang panggung…. Ia sudah datang menunggu saya disana….. (MELIHAT ARLOJI) waktunya sudah habis… kalau ditanya istri saya, saya mohon dengan sangat jawablah pemberi ceramahnya….. bahwa Begong, eh maksud saya, saya sendiri telah melakukan tugasnya dengan sopan. (MELIHAT KE PINGGIR, BATRUK-BATUK) istri saya sedang memandang saya. (SUARA DIPERKERAS) Setelah kita bertitik belok dari pola bahwa tembakau mengandung racun yang jahat, seperti tadi saya uraikan, maka hendaknya kebiasaan merokok, harus dihapus. Dan omong-omong saya mengharapkan sekali bahwa ceramah saya mengenai “ bahaya dari tembakaju” ada manfaatnya bagi hadirin sekalian. Sekian, selamat malam (MENGHORMAT, MENGUNDURKAN DIRI DENGAN AGUNG).

Selesai………

MATINYA TOEKANG KRITIK

–Sebuah Teater Monolog–

Karya Agus Noor
Agus2noor@yahoo.co.id




Terdengar detak nafas waktu…

Sebelum pertunjukan – sebelum dunia diciptakan – denyut waktu itu mengambang memenuhi ruang – semesta yang hampa. Seperti denyut jantung. Terdengar detak-detik waktu bergerak. Seperti merembes dari balik dinding. Seperti muncul dan mengalir menyebar di antara kursi-kursi yang (masih) kosong…

Ketika para penonton mulai masuk ruang pertunjukan, mereka mendengar waktu yang terus berdedak berdenyut itu. Mereka mendengar suara detik jam yang terus berputar. Suara ddetak-detik waktu yang bagai mengepungnya dari mana-mana.[1] Sementara pada satu bagian panggung, mereka menyaksikan kursi goyang yang terus bergerak pelan seakan mengingatkan pada ayunan bandul jam. Bergoyang-goyang. Kursi itu temaram dalam cahaya. Terlihat selimut menutupi kursi itu, seperti ada orang yang tertidur abadi di atas kursi itu. Waktu berdenyut. Kursi terus bergoyangan.



Sesekali menggema dentang lonceng, terdengar berat dan tua.[2]
Kemudian bermunculan orang-orang berjubah gelap,[3] lamban berkelindan, seperti bayangan yang muncul dari rerimbun kabut waktu. Mereka bergerak menuju kursi goyang yang berayun-ayun pelan itu, berputaran mengepungnya, seperti para immortal yang tengah melakukan ritus purba.[4] Dan cahaya bagai gugusan kabut yang berputaran. Sampai kemudian sosok-sosok berjubah menjauhi kursi goyang itu.[5]

Kini, di bawah cahaya yang kepucatan, di kursi itu terlihat Raden Mas Suhikayatno, tokoh dalam monolog ini. Dia terlihat terlelap, bagai tertidur di rahim waktu yang abadi. Tapi ia juga terlihat gelisah, seperti dikepung mimpi. Makin lama ia terlihat semakin resah. Dan ia tiba-tiba tersentak meledak, tepat ketika terdengar jerit waktu: dering jam weker terdengar dari semua sudut. Jutaan jam weker berdering serentak di seluruh dunia. Disertai dentang berualang-ulang. Gema lonceng gereja. Bermacam-macam suara. Tumpuk-menumpuk. Mengembang dan menyusut. Kelebatan gambar-gambar.[6] Semua seperti muncul dan menggulung-gulung dalam ingatan Raden Mas Suhikayatno: Suara pesawat supersonik. Badai menggemuruh beergulung-gulung. Teriakan-teriakan. Suara perang. Suara-suara kemerosak gelombang radio. Di antara suara-suara itu terdengar suara Bung Karno membacakan Proklamasi[7] … lalu menghilang. Muncul suara lain, suara iklan yang lebih modern, lalu kemerosak gelombang radio lagi. Suara-suara dan gambar-gambar yang terus mengalir. Suara Bung Karno pidato berapi-api. Lenyap lagi. Dentang lonceng. Jam berdering. Suara Presiden Soeharto berpidato di depan MPR.[8] Gambar-gambar masa silam.[9] Gambar bertumpuk-tumpuk terus menerus. Kemudian perlahan menghilang…

Dan kesenyapan perlahan menjalar. Hanya terdengar waktu yang terus berdeyut.

Di kursi goyang itu. Raden Mas Suhikayatno terlihat begitu kelisah. Meracau kacau. Sampai kemudian dia terjaga, terengah-engah gelisah, kebingungan.

RADEN MAS SUHIKAYATNO:[10]

(Mengigau risau) Ini jam berapa?.. Tahun berapa?…

Sunyi, hanya terdengar desah nafas waktu yang pelan…

DENMAS:

(Pelan-pelan terbangun, berteriak memanggil) Bambaaang.[11] Bammbanggg!!! (Jeda) Di mana anak itu… (Kembali berteriak, jengkel) Bambaaaannggg!!… Ya, ampun, Mbang… Baru jadi pembantu saja sudah susah kalau dibutuhkan. Gimana nanti kalau jadi presiden! (Kembali berteriak memanggil) Mbaaanggg….. Bambanggg!!!

Terus saja sunyi, hanya terdengar desah nafas waktu. Raden Mas Suhikayatno kemudian bersandar di kursi goyang. Terlihat begitu kesepian. Seperti mengeluh. Seperti mendesah…

DENMAS:

Ini kutukan… Ataukah kemuliaan….

Terdengar jam tua bertendang, kemudian ada ketukan-ketukan, seperti suara tik-tak jam berdetak.

DENMAS:

(Seakan hanyut oleh gema suara yang didengarnya, kemudian bertanya entah pada siapa) Kalian dengar suara itu?… Tua dan purba. Kalian bisa merasakan? Begitu lembut… bersijengkat lembut mendatangimu.

Suara tik-ak itu pelan konstan, seirama bicara Raden Mas Suhikayatno.

DENMAS:

Suara waktu! Berabab-abad aku mendengarnya… Terdengar di keretap hujan…, diantara kereta yang menderu… Dengung di sayap lebah… Desah di setiap pencintaa… (Menjadi melankolis dan merasa bahagia, seperti menghayati butiran-butiran waktu yang merembes ke dalam tubuhnya) Ya, itu suara waktu…

Tiba-tiba suara tik-tak itu berubah cepat – berdetak-detak dipukul-pukul jadi suara ketukan orang jualan siomay. Dan terdengar teriakan pedagang itu, “Maaayy…. Siomay…”

DENMAS:

(Jengkel, berteriak ke arah ‘pedagang siomay’ itu) Brengsek! (lalu ngomel sendiri) Saya kira suara waktu!… (Tergeragap, seperti tersadar, ingat sesuatu) Waduh… Jangan-jangan saya memang sudah ditinggalkan waktu. Terlambat! Ini ‘kan tanggal tujuh belas!

Raden Mas Suhikayatno cemas, gelisah…

DENMAS:

(Berteriak memannggil mencari-cari pembantunya) Bambaaangg… cepet ambilkan jas saya! Mereka pasti sudah menunggu saya….

Terdengar celetukan dari para pemusik; “Hai, Mas… Gelisah begitu kenapa?…”

DENMAS:

Saya mau ikut upacara tujuh belasan di Istana Negara…

Terdengar jawaban dan celotehan dari para pemusik: “Tujuh belasan apa!… Merdeka saja belum, kok!… Mas, ini masih jaman pra sejarah. Homo sapien saja belum ada… Adanya homoseks… dst”

Raden Mas Suhikayatno jadi bingung, tak percaya. Linglung kembali duduk di kursi goyang…

DENMAS:

Apa saya menderita amnesia, ya? (Menunjuk kepalanya) Waktu seperti ingatan yang bertumpuk-tumpuk. Saya mengira Minggu… ternyata Rabu. Sering saya mendapati diri saya berada di waktu yang salah.

Bersamaan dengan itu terlihat lagi tumpukan gambar-gambar berbagai peristiwa, menyorot ke arah Raden Mas Suhikayatno, seperti ingatan-ingatan yang berpusaran dalam kepalanya…

DENMAS:

Ini tahun berapa sebenarnya… Ini tahun berapa…

Sampai terlihat gambar orang-orang bersorban putih, berbaris berteriak.[12] Tapi bersa-maan itu terdengar suara derap dan ringkik kuda…

Tiba-tiba terdengar suara,[13] bernada menggema: “Ta-hun… 1.9.9.8…”

DENMAS:

(Bingung, tak percaya) 1998?? Yang bener!

Suara itu terdengar lagi, menegaskan: “Ta-hun… 1.9.9.8…”

DENMAS:

Bukannya ini tahun 1828?

Suara itu kembali menegaskan dengan nada sama: “Ta-hun… 1.9.9.8…”

DENMAS:

Lha itu siapa…, orang-orang yang pakai seragam putih-putih itu…

Suara itu menjawab: “Mereka pasukan jihad.”

DENMAS:

Pasukan Jihad? (Sadar berada di waktu yang salah, waktu yang tak sebagaimana dikiranya) Saya kira pasukan Pangeran Diponegoro… (Bertanya meyakinkan) Bener, ini bukan tahun 1828?!

Suara itu memotong tegas menggema: “In-i Ta-hun… 1.9.9.8… In-i Ta-hun… 1.9.9.8… In-i Ta-hun… 1.9.9.8…”

DENMAS:

(Jengkel) Iya! Iya! Tapi ngomongmu nggak usah bergaya begitu dong! Malah kayak film hantu. Persis Uka-uka![14]

Tiba-tiba suara itu menjawab dengan biasa, memaki: “Oo asu!”

DENMAS:

Eeeh, malah memaki! Saya kutuk jadi Presiden Indonesia, mampus kamu! (Seperti tiba-tiba sadar, dan mencoba menjelaskan, ke arah penonton) Lho iya kan? Jadi Presiden Indonesia itu seperti dapat kutukan kok! Apa sih enaknya jadi Presiden Indonesia, coba? Di Indonesia, profesi presiden itu profesi yang sama sekali tidak menarik. Dari dulu kerjanya gitu-gituuuu melulu: selalu nyusahin rakyat. Kalau kalian termasuk golongan orang kreatif, tolong deh, nggak usah punya cita-cita jadi Presiden Indonesia. Malah nanti tidak kreatif.

Tugas, kewajiban dan tanggung jawab Presiden Indonesia itu monoton kok. Dari tahun ke tahun, sia pun yang jadi presiden, ya tugasnya tetap sama: meningkatkan angka… pengangguran; menambah jumlah devi… apa? Devisit uang Negara…; mencari pijaman luar negeri, menaikan harga BBM… Sama sekali nggak kreatif kan. Mbosenin.

Saya ngomong gitu, bukan karena saya dengki nggak jadi presiden, lho. (Seperti orang yang jijik pada sesuatu) Hiiihhh…., saya nggak mau jadi presiden.

Jangankan Presiden Indonesia… ditawarin jadi raja Hastina saja saya tidak mau kok. Emoh! Padahal Romo Semar sendiri lho yang nawarin. Katanya, saya ini lebih pantas jadi raja Hastina, ketimbang Yusdhistira, si Pandawa paling tua itu.

Saya ingat betuk kok waktu itu… Itu jaman ketika belum ada kerajaan-kerajaan di Jawa. Tapi saya sudah ada. Sudah tua dan imut seperti ini.

Waktu itu terjadi krisis di Hastina, karena Pandawa kalah main dadu. Romo Semar langsung tergopoh-gopoh menemui saya. (Bergaya wayang orang) “Kakang Raden Mas Suhikayatno, kamu harus menyelamatkan Hastina. Kamu harus jadi raja Hastina!” (Pause) Dengan halus saya menjawab, (kembali bergaya wayang orang) “Maaf, Dimas Semar…, maaf. Bukannya menolak, Dimas Semar. Tapi Maaf, Dimas Semar…, maaf. Saya sama sekali tidak punya cita-cita jadi raja di dunia wayang. Maaf lho, Dimas Semar…, maaf. Sekali lagi, maaf Dimas Semar… maaf…” [15]

Itulah track record saya… Saya memilih konstinten sebagai Tukang Kritik yang martabat. Itu yang saya pegang teguh sejak dulu. Sejak zaman Musa, zaman Babilonia… Sejak zaman saya masih jadi pacar gelapnya Cleopatra. Saya menolak diagung-agungkan seperti Julius Caecar. Saya menolak jadi tangan kanan Napoleon…, karena dia kidal.

Saya ini terlalu low profile untuk dijadikan pemimpin…

Itulah sebabnya, dulu saya sempet berantem sama Gajah Mada – karena saya menolak membantunya. Padahal kami temen sepermainan sejak kecil. Temen gaul gitu loh![16] . Suka main gundu dan mencuri buah maja sama-sama.

(Kepada para pemusik) Sssttt…, saya mau cerita…. Tapi ini rahasia lho ya… Jangan disebar-sebarin. Nanti penonton tahu… (Bergaya membisik, seolah berahasia, tapi bersuara keras hingga suara itu tetap saja sampai didengar penonton) Dulu…, semasa remaja, si Gajah Mada itu hobinya ngintip lho!… Nggak nyangka ‘kan, orang yang doyan ngintip begitu, bisa menyatukan Nusantara

Para pemusik menaggapi, tak mempercayai.

DENMAS:

Dibilangin nggak percaya!! Saya ini sering diajak dia ngintip perempuan yang lagi mandi (Sok gaya) Saya, sebagai orang yang menghargai perempuan, ya jelas tidak mau… Tidak mau ketinggalan ikut ngintip.

Nah, suatu senja…. (Mulai bergaya mempraktekkan apa yang dikisahkannya) si Gajah Mada mau ngintip nih… Ia mengendap-endap, sembunyi di balik belukar dan pepohonan. Persis Jaka Tarub ngintip bidadari mandi. Saya ngikut dibelakangnya, gemeteran… Takut ketahuan. Saya bilang, “Mad, Mad… Mada… kita pulang saja yuk…” Tapi dia tak mau. Dia malah naik ke pohon. Welah, sial! Di pohon itu ada sarang lebah, dan si Gajah Mada menyenggolnya. Langsung tawon-tawon itu menyerbu wajahnya…. Wuuut…wuuut… Itulah sebabnya, seperti pada gambar di buku sejarah yang sering kalian lihat: Gajah Mada bengkak wajahnya…[17]

Raden Mas Suhikayatno berjalan ke arah meja yang di tempatkan sedemikian rupa menurut kebutuhan tata setting dan artistik. Meja itu bergaya kuno, dengan sepasang kursi yang juga tua. Mengingatkan pada perabot seorang priyayi Jawa. Ada cangkir dan gelas di atas meja itu. Juga majalah dan koran yang tak rapi. Raden Mas Suhikayatno yang kecapaian karena terus-terusan bercerita, segera duduk di kursi. Menikmati minuman. Tapi kaget tersedak…

DENMAS:

(Menyemburkan minuman dari mulutnya, ngomel dan mengeluh) Astaga… Bambang! Ini kan teh dua hari lalu. (Berdahak seperti mencoba mengeluarkan sesuatu dari kerongkongannya) Saya sampai tersedak cicak! Bambanggg!!! Bambanggg….. (Jeda) Bener-bener punya bakat jadi presiden dia: kagak dengar meski sudah diteriakin… Alias budeg! Kata orang, budeg itu memang penyakit permanen presiden.

(Mengomel sambil mengambili majalah dan koran) Meja sampai berantakan begini… (Mencari-cari sesuatu di tumpukan koran dan majalah itu, sambil terus ngomel dan memanggil) Mbang, apa ada surat buat saya?… Saya ‘kan sudah bilang, semua mesti rapi. Biar saya tidak bingung begini. Dibilangin dari dulu, eh tetap nggak didengerin. Apa sih susahnya ndengerin. Dibilangin baik-baik, eh malah ngata-ngatain, “Dasar Tukang Kritik sirik!”

Saya ngritik bukan karna sirik. Saya ngritik karena saya ingin semuanya baik. Hingga hidup bertambah baik. ‘Kan enak kalau semua kelihatan baik. Saya nggak seneng kalau kamu jorok. Baju kotor. Jangan kayak seniman: celana dalem, lima minggu sekali baru ganti.

Dikritik memang sakit… Itu tak seberapa. Sebab orang yang suka mengritik itu justru lebih merasa sakit, bila kritiknya nggak didengerin. (Jeda) Untung saya cukup sabar sebagai Tukang Kritik. Saya nggak pernah marah, meski disepelekan. Buat apa marah? Nggak ada gunanya…… (Lalu berteriak memanggil pembantunya lagi, pelan) Mbang… Bambangg…. Orang itu mesti yang sabar…. Bambaaangg… (Lama-lama teriakannya makin tinggi dan bernada marah) Diancuk! Mbang, mana surat itu!… Bambaaang!! (ke arah penonton, masih mengeram marah) Kalian lihat sendiri kan, dia selalu menyepelekan saya… tapi saya tetep sabar… (kembali berteriak marah) Kamu taruh mana surat itu?!

(Sampai kemudian merasa disepelekan, dan mulai mengeluh kepada siapa pun yang mendengarnya, mengeluh ke arah penonton) Sakiiittt ati saya. Sakit, sakit, sakitttttt kik kik kit…. Kadang saya pikir, buat apa saya teriak-teriak marah begitu. Buat apa saya terus-terusan mengritik… Kadang saya merasa lelah juga kok jadi Tukang Kritik. Saya pingin berhenti mengritik. Tapi kalau berhenti mengritik, saya sendiri yang malah sakit. Baru semenit tidak mengritik, mulut saya langsung pegel-pegel. Sehari tidak mengritik, langsung bisulan pantat saya.

Yaah, barangkali memang beginilah resiko jadi orang yang sudah terlanjur dicap sebagai Tukang Kritik. Saya cuma dianggap kutu pengganggu. Tapi saya menerima dengan lapang dada semua perlakuan itu. Saya sabar, sabaarrr… saya sabar… (tapi kata ‘sabar’ itu diucapkan dengan intonasi mengeram tajam) Meski kalian terus menyepelekan orang macam aku[18]… Orang yang kalian cibir sebagai Tukang Kritik!! Kalian hendak mengapusku dari ingatan zaman. Kalian menatapku dengan mata penuh penghinaan…

Raden Mas Suhikayatno tersengal kelelahan, kepayahan di puncak kemarahannya. Kemudian ia berjalan ke meja lagi. Marah. Mengeram. Kalap mencari-cari sesuatu di tumpukan koran dan majalah yang langsung diacak-acaknya hingga berhamburan kemana-mana.

DENMAS:

Kalian memang mau melupakanku! Kalian mau melupakanku! Melupakanku!

Kemudian teriakan dan kemarahan itu perlahan melemah. Raden Mas Suhikayatno terisak, terhuyung-huyung menuju kursi goyangnya. Ia duduk di kursi goyang itu dengan tubuh gemetar. Meraih selimut dan segera menutupi tubuhnya yang gemetaran…

DENMAS:

(Terdengar seperti menghiba, seperti suara orang yang bersikeras mempertahankan harga dirinya)) Apa salah saya? Saya selalu tulus mengritik kalian… Tapi kenapa kalian memperlakukan saya begini?

Tak ada yang lebih menyakitkan, selain dilupakan…

(Mengagah-gagahkan diri, sikap seorang terhormat di hadapan kematian) Penjarakan saya! Ayo! Bunuh saya!…. Itu jauh lebih terhormat bagi Tukang Kritik macam saya…

(Lalu kembali gemetaran) Alangkah mengerikan dilupakan….

Kemudian Raden Mas Suhikayatno memegangi dadanya. Ia dihantam nyeri yang sangat. Kemudian berteriak serak dengan sisa-sia tenaganya. Teriakan itu terdengar tertahan di kerongkoannya,

DENMAS:

Bambaaaannggg…. Obat saya… Obat saya… Tolong… Air… Bam-banggg… Bammmmbaaannggg….

Suara Raden Mas Suhikayatno makin lama makin pelan, makin terdengar sebagai rerancauan. Cahaya di kursi goyang itu menggelap, ketika Raden Mas Suhikayatno sudah menutupi seluruh tubuhnya. Kursi itu hilang dalam gelap. Hanya terdengar suara Raden Mas Suhikayatno yang terus memanggili pembantunya: “Bambaaang…. Bambaaang…

Baaammmbaanngg…. dst…” [19]

Sementara itu, dari sebelah kiri kanan kursi, muncul sosok hologram yang sama persis dengan Raden Mas Suhikayatno. Tubuh dan wajahnya. Pakaiannya. Persis. Kedua sosok hologram itu memandang ke arah kursi goyang yang kini terlihat pucat di bawah cahaya yang menyorotnya, bergoyang-goyang, tertutup selimut – dimana seolah-olah ada Raden Mas Suhikayatno yang gemetaran di balik selimut itu. Untuk menegaskan itu, kursi goyang mestilah terus berayun-ayun pelan,[20] dan terus terdengar rintihan suara Raden Mas Suhikayatno yang sesekali meracau demam, sesekali memanggili pembantunya. Kedua hologram itu mulai bicara. Sebut saja mereka dengan nama Hologram 1 dan Hologram 2.[21]

HOLOGRAM 1:

Dia kelelahan…

HOLOGRAM 2:

Dia berusaha bertahan…

HOLOGRAM 1:

Nasibnya akan sama, seperti para Tukang Kritik lainnya… Pingsan di kursi kekuasaan!

HOLOGRAM 2:

Dia sedang menghimpun kekuatan…

Sementara suara erang Raden Mas Suhikayatno terkadang masih mengambang terdengar di sela percakapan dua hologram itu..

HOLOGRAM 1:

Dia sedang belajar menerima kekalahan…

HOLOGRAM 2 :

(Kepada hologram satunya) Kau sinis karena tak percaya takdir!

HOLOGRAM 1:

Aku tak menyerah pada takdir, karena tak ingin jadi kentir! Atau jadi kaum munafik sepertimu…

Sementara suara erang Raden Mas Suhikayatno terkadang masih mengambang terdengar di sela percakapan dua hologram itu..

HOLOGRAM 2:

Tapi aku tak menyerah… Seperti dia yang juga tak menyerah. Seperti semua Tukang Kritik yang hidup sepanjang sejarah…

HOLOGRAM 1:

Taik! Tukang kritik tak lebih cuma kaum munafik! Munafik! (menuding dan menghardir, terus-menerus) Munafik! Munafik….

Teriakan ‘munafik’ itu terus terdengar berulang-ulang, makin meninggi, dan dua sosok hologram itu lenyap. Sementara kursi goyang berayun cepat, gelisah. Raden Mas Suhikayatno yang disergap suara-suara itu kian meracau. Memanggil-manggil nama pembantunya. Suara Raden Mas Suhikayatno, makin lama makin meninggi : “Tidak… Tolong…. Bambang…. Bambang…..” [22]

Sampai kemudian ‘teriakan-teriakan itu’ menghilang. Tetapi kursi goyang itu terus bergoyang-goyang gelisah…

Muncul Bambang,[23] membawa sapu lidi, tergopoh-gopoh mendekati kursi goyang.

BAMBANG:

Iya, Tuan…. Ada apa, Tuan…. Maaf…… Ya, Tuan…

Bambang bingung dan gugup memandangi kursi goyang itu, melihat majikannya yang meracau memanggil-manggil namanya: “Bambang… Baammbbaaangg…” Sampai kemudian suara itu berhenti. Raden Mas Suhikayatno tertidur lelap. Diam. Tak ada suara…

BAMBANG:

(Sambil membetulkan selimut, seakan-akan menyelimuti majikannya agar lebih tenang tidurnya) Kasihan Tuan…

Terdengar suara, seakan ada benda jatuh atau sesuatu yang mengejutkan.

BAMBANG:

Sssssttttt… Tolong, jangan berisik. Biar Tuan bisa istirahat… Kasihan dia. Akhir-akhir ini kelihatan gelisah. Bingung. (Jeda) Yaa, sebenarnya dari dulu sih Tuan saya itu orangnya membingunkan. Saking membi-ngungkannya, sampai-sampai saya juga ikut bingung.

Tuan saya orangnya eksentrik. Kerjanya nyalahin orang. Ada ajah yang diomelin. Inilah, itulah. Saya dikatain ginilah, gitulah. Tiap hari kerjanya ngritiiiiikkkk melulu. Apa saja dikritiknya… Kalau Anda pakai kaos kuning, dan dia ngelihat, pasti langsung ngritik: “Ih kuning kayak tai…” Nanti kalau Anda ganti pakai kaos merah, tetep saja dikritik: “Ih, apa hebatnya kaos merah!”… (Begitu seterusnya). [24]

Bambang kemudian melihat majalah dan koran yang berhamburan berantakan, dan segera memberesi.

BAMBANG:

(Sambil memeberi koran majalah itu) Nanti kalau bangun, pasti ngomel-ngomel… (seolah menirukan majikannya) “Ngapain kamu berantakin! Dasar nggak becus jadi pembantu!” (pause) Saya memang nggak becus atuh jadi pembantu. Nama saya ajah Bambang. Mana teh ada pembantu namanya Bambang. Saya mah pantesdnya jadi presiden, uiy… Meski jerawatan gini!

Yang nyebelin, nanti kalau udah saya beresin, tetep ajah saya diomelin… (kembali menirukan majikannya) “Siapa yang suruh ngrapiin! Lihat, halamannya jadi sobek gini!” (pause) Begini salah, begitu salah. Begitulah Tuan saya. Di dunia ini nggak ada yang bener dimatanya.

Bambang mau menaruh koran dan majalah itu di satu tempat, tetapi mendadak terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, setengah mengigau: “Jangan di situ…”

BAMBANG:

(Kaget mendengar suara itu) Gila kan…lagi tidur ajah masih tetep suka ngritik!

Lalu membawa kembali koran-koran itu dan menaruh di ajah meja, agak dilempar begitu saja. Dan Langsung terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, meracau: “Yang bener… yang rapi…”

BAMBANG:

(Gemes, jengkel) Hhhhhmmm. Gemes aku! Sebel aku! Binguuuuuuuu-unngggg!!!

Kalian bisa bayangkan, bagaimana stressnya saya jadi pembantu Raden Mas Suhikayatno Purwokerto ini… Sejak kecil saya jadi pembantu di sini. Bapak saya juga jadi pembantu di sini. Kakek saya. Juga simbah buyut saya. Begitu juga simbahnya simbah, simbanhnya simbahnya simbah saya… semua jadi pembantu di sini. Turun temurun dikutuk jadi pembantu!

Tapi Simbah saya pernah bilang, “Jadi pembantu seperti ini bukan kutukan, Le.[25] Tapi keberuntungan. Kita ini orang-orang pilihan, Le. ”

Jadi, trah saya itu trah pembantu. Asli. Orisinil. Darah saya itu darah murni seorang pembantu. Kalau di dunia sihir, saya ini disebut penyihir murni. Bukan penyihir keturunan mugle, seperti Harry Potter.[26] Jadi darah pembantu yang mengalir di tubuh saya ini termasuk jenis darah yang ningrat. Jenis pembantu priyayi. Ini kasta tertinggi di tingkatan pembantu. Kalau kasta paling rendah ya kasta pembantu jenis TKI itu… Disiksaaaa melulu…

Kadang saya ini merasa nggak jauh beda kok sama para priyayi raja-raja itu. Paling beda dikit lah. Mereka turun-temurun jadi raja, saya turun-temurun jadi pembantu. Kalau raja-raja itu punya gelar, sebenernya saya juga berhak menandang gelar… Mereka bergelar Amangkurat I. Karena pembantu, saya cukup bergelar Amongtamu I. Nanti, keturunan saya akan bernama Amongtamu II…, Amongtamu III, dan seterusnya. Atau bisa juga menyebut diri mereka sebagai Hamengkukusan atau Hamengkudapan. Pokoknya yang berbau-bau dapur lah. Karena sebagai trah pembantu, kami memang mesti mawayu hayuning dapur.

Mengambil sapu lidi yang tadi dibawanya, kemudian mulai menyapu…

BAMBANG:

Tapi ya ada senengnya juga kok jadi pembantunya Raden Mas Suhikayatno ini…. Beliau itu orang hebat. Dia itu….

Mendadak terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, mengigau, seperti memanggil: “Mmbaaaang…. Bambanggg….”

BAMBANG:

(Tergeragap) Ehh… iya, Tuan…. (kepada penonton) Tuh ‘kan, apa saya bilang. Beliau itu orang hebat. Seperti wali. Kalau digunjingin langsung kerasa…

Raden Mas Suhikayatno terus meracau, dan Bambang buru-buru mendekat ke kursi goyang itu.

BAMBANG:

Iya, Tuan…. Saya cuma ngobrol. Ada tamu… Tidak, tidak ngantar surat… Cuma nonton… Surat? Dari tadi kok nyari-nyari surat terus?! Maksud Tuan surat apa? Surat gadai? Surat tagihan? Surat tilang? … Nggak ada surat apa pun, Tuan… WR. Suratman juga nggak ada… (kemudian sadar kalau maji-kannya ternyata tertidur).

Terdengar bunyi dengkur…

BAMBANG:

(Bernada ngedumel) Wahhh, lama-lama Tuan ini mirip Gus Dur… diajak ngomong kok malah tidur.

Lalu dengan pelan, takut membangunkan, Bambang berjalan menjahui kursi goyang itu. Kembali bicara kepada penonton.

BAMBANG:

Tadi sampai mana?… (Mengingat-ingat) Eemm. Oh, ya… hebat…

Dia itu terkenal banget sebagai Tukang Kritik nomor wahid. Banyak versi cerita seputar sosoknya. Kisah kelahirannya saja ada lebih 1.501 versi. Ada yang mengisahkan ia lahir dari bonggol pisang. Ada yang bilang ia muncul begitu saja dari kabut waktu. Tapi ada juga bilang: dia itu anak hasil kawin silang manusia dan genderuwo.

Bambang menenggok ke arah kursi goyang, agak ketakutan. Takut kedengeran…

BAMBANG:

Kalau dilihat dari tampangnnya, ada benernya juga sih cerita itu… Serba tanggung. Cakep enggak, buruk iya. Setengah manusia, setengah makhkuk sengsara… Beda jauh ‘kan sama saya? [27]

Bahkan ada yang percaya: dia sudah ada sejak permulaan dunia. (Bergaya menduga-duga) Jangan-jangan dia itu sesungguhnya pacar pertama Hawa, sebelum Hawa akhirnya menikah sama Adam…

Tiba-tiba gugup, dan langsung mendekat ke arah penonton…

BAMBANG:

Sebentar…. Saya harus klarifikasi sebentar soal Adam dan Hawa dulu. Biar tak terjadi salah interpretasi. Biar tidak diprotes. Dianggap melecehkan. Adam di sini bukan Adam manusia pertama yang jadi nabi itu lho, tapi Adam Malik… Sedangkan Hawa…. (bingung sendiri dan mikir mencari-cari) hmmm.., kalau Hawa apa ya? Oh ya, Hawa itu maksudnya Hamid Hawaludin…[28]

Sejak saya di sini, Beliau ya begitu-gitu terus. Nggak tua-tua. Seperti nggak bisa mati. Dulu Kakek saya pernah bilang, (Menirukan suara Kakeknya) “Tukang Kritik sejati seperti dia nggak bakalan mati! Dia itu legenda setiap zaman. Tahu tidak, di zaman Yunani… dia mengubah namanya jadi Socrates.”

Itu kata Kakek saya. Saya sih percaya-pecaya saja. Lagi pula, kalau dirunut secara etimologi, ada benernya juga kok: Socrates… ‘Sok-krates’… asal katanya ‘Sok’ dan ‘protes’. Sok-protes. Nah, Raden Mas Suhikayatno ini kan juga seneng protes. Jadi antara Socrates dan Suhikayatno, bisa jadi emang orang yang sama… Yah, minimal namanya sama-sama berawalan S.

Menurut sahibul hikayat, Raden Mas Suhikayatno ini memang dikenal memiliki banyak nama. Dia pernah dikenal sebagai Gallileo. Di Perancis dia dipanggil Voltaire. Tapi begitu di Jawa dipanggil Empu Gandring. Lalu jadi Gandhi waktu di India.

Kata Kakek saya, (kembali menirukan suara Kakeknya) “Mereka memang berbeda nama… Tapi lihat, apa yang mereka lakukan… Mereka semua sesungguhnya orang yang sama.” (Jeda. Ragu) Iya juga sih… Tapi gimana nalarnya ya: dari Gandring kok jadi Gandhi? Aneh kan kalau nanti di tulis: Gandhi bin Gandring…

Nama Raden Mas Suhikayatno ini juga meragukan kok. Ini nama beneran, atau nama jadi-jadian.

Anda kau tahu, yang namanya legenda, pasti banyak nggak masuk akalnya. Apalagi ini legenda menyangkut seorang tokoh. Tahu sendirilah, syndrome para tokoh: suka membesar-besarkan peran mereka dalam sejarah. Saya kira, majikan saya ini pun mengindap syndrom macam itu…

Bambang sejenak memandang ke arah kursi goyang, takut omongannya kedengaran Raden Mas Suhikayatno. Tapi langsung tenang ketika melihat tak ada reaksi dari arah kursi goyang.

BAMBANG:

Saya nggak menghinanya lho… Bagaimana pun saya hormat kok sama Beliau. Memang dia suka banget ngritik. Tapi pada dasarnya dia baik kok.

Kalau dirasa-rasa, terasa betul kok kebenaran dalam kritik-kritiknya. Kritikannya tulus. Jujur.

Soalnya orang yang suka mengritik itu kan banyak macamnya. Ada yang mengritik asal mengritik. Ada yang mengritik, supaya dianggap berani dan kritis. Ada yang selalu mengkritik, agar dapat perhatian. Ada yang terus-terusan mengkritik, karena sudah nggak sabar nunggu giliran duduk di kursi kekuasaan. Di luar pagar teriak-teriak, begitu udah di dalam malah tambah rusak.

Tuan saya ini nggak silau kedudukan. Dari dulu ya di situ terus duduknya. Nggak pindah-pindah. Ditawari jadi Presiden Indonesia yang pertama juga nggak mau…

Untung juga ya dia nggak jadi Presiden Indonesia. Bisa berabe kalau yang jadi presiden pertama dia. Kalau Sukarno sih memang pantes. (Mengeja dengan nada melodius) Su-kar-no. Terdengar enak ditelinga. (Meniru suara pembawa acara upacara) “Inilah presiden pertama kita: Sukarno…”. Gagah betul kan kedeengarannya… Lha kalau dia? (Kembali meniru suara pembawa acara upacara) “Ladies and gentlement, inilah presiden pertama Republik Indonesia: Su..ka..yat…yat…yat…yat.. no…no…” Diberi echo ajah tetep kagak enak. Su-ka-yat-no… Nama yang amat sangat tidak nasionalistis!

Lagi pula nama Kayat kan berbau kekiri-kirian. Ka-yat. Kedengaran seperti “rak-yat”. Jenis nama-nama yang bisa membawa nasib buruk buat para pemiliknya. Contohnya: Mu-nir…[29]

Terdengar suara erangan dari arah kursi goyang: “Bambaaangggg… Bambaanggg…. Jam berapa…”

Cepat-cepat Bambang pura-pura sibuk menyapu.

Terdengar suara Raden Mas suhikayatno bertanya: “Ini jam berapa…. Ini Tahun berapa…”

BAMBANG:

(Sambil terus pura-pura sibuk menyapu) Jam 4… Tahun 2011…

Raden Mas Suhikayatno terus mengigau memanggil nama “Bambang” sesekali-kali. Bambang tetap sibuk menyapu. Sampai kemudian suara igauan Raden Mas Suhikayatno berhenti…

BAMBANG:

(Melihat sebentar ke arah kursi goyang itu, lalu segera ke arah penonton) Ngegosip lagi aahhh…

Saya ingat. Empat tahun lalu. Tepatnya tahun 2008. Ya. Tahun 2008. Kira-kira 8 bulan sebelum penyenggaraan Pemilu. Raden Mas Suhikayatno diminta jadi pimpinan KPU. Tapi dia nggak mau. Takut terlibat karupsi berjamaah seperti KPU periode sebelumnya…

Saat Pemilihan Presiden tahun 2009, Beliau juga diminta jadi wakil SBY. Soalnya Jusuf Kala maju sendiri jadi Capres didukung Partai Golkar.

Waktu itu memang banyak pengamat yang bilang, kalau majikan saya dan SBY itu pasangan ideal. Lebih cocok, begitu. Ya, setidaknya dibanding wakil SBY sebelumnya, yang dianggap terlalu kreatif, dan terlalu banyak inisiatif. [30]

Saya sih nggak terlalu ngerti politik. Nggak tahulah, gimana kelanjutannya. Yang jelas, pada Pemilihan Presiden tahun 2009 itu pemenangnya adalah calon yang didukung Partai Panji Tengkorak. Yakni, Butet Kertaredjasa.[31] Inilah pertama kalinya, seorang seniman berhasil menjadi presiden di Indonesia…. Gimana seniman ngatur Negara ya? Ngurus hidupnya sendiri saja ruwet…

Tahu, apa program pertama Butet Kertaredjasa sebagai presiden? Mengganti nama-nama jalan. Nama jalan yang tadinya dipenuhi nama tentara, diganti dengan nama para seniman. Jalan Gatot Subroto diganti menjadi Jalan Sapardi Djoko Damono. Jalan S. Parman diganti Jalan S. Bagio. Pokoknnya semua jalan diberi nama seniman. Dari jalan tol, jalan tembus, sampai jalan buntu. Bahkan Jalan Taman Lawang[32] juga diganti menjadi Jalan Djaduk Ferianto. [33] Hanya satu nama jalan yang tidak di ganti. Yakni Jalan Gajah Mada. Karena Gajah Mada itu teman sepermainan majikan saya.

Sampai kemudian, terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, meracau memanggil: “Bambangggg… Pukul berapa sekarang…..”

BAMBANG:

(Tergopoh mendekati kursi goyang) Iya Tuan…. Jam 8 malam… Mau air panas sekarang?

Suara Raden Mas Suhikayatno datar: “Capek… Ini tahun berapa?”

BAMBANG:

(Sudah duduk bersimpuh di dekat kursi goyang itu) Tahun 2011, Tuan… Saya pijit ya…

Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar: “Kamu yakin… Bukan tahun 3050?…”

BAMBANG:

(Sambil seakan-akan memijiti kaki Raden Mas Suhikayatno) Wah, kejauhan loncatnya, Tuan… Nggak ada itu di naskah…

Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar: “Saya yakin ini tahun 3050… Samar-samar saya melihat bayangan bertumpuk-tumpuk….”

BAMBANG:

(Sambil terus memijat, tapi juga melihat ke arah kejauhan) Ooo, itu Borobudur dibikin jadi tingkat lima, Tuan…

Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar: “Apa surat itu sudah datang?.. Siapkan pakaian saya…”

Bambang segera bergegas mengambi baju majikannya.

BAMBANG:

(Menyerahkan baju yang diambilnya ke arah kursi goyang itu) Yang ini kan… (Lalu membentangkannya di selimut) Saya pijit ya, Tuan.. (Ia kemudian kembali memijiti kaki Raden Mas Suhikayatno – terdengar desah nafasnya yang keenakan dipijit – terus ke atas, tiba tiba ia melonjak kaget, sementara tangannya terbenam masuk selimut seakan dicengkeram majikannya) Enak Tuan… Aduh, Maaf Tuan… Sumpah nggak sengaja mijit yang itu. Saya kira tangan Tuan… Tapi kok lembek…. Aduuhhh… Sakit, Tuan… Aduhhhh….

Tangan Bambang terpiting, ia kesakitan berdiri. Lalu pelan-pela ia mengubah diri menjadi Raden Mas Suhikayatno. Perubahan ini terjadi dengan perubahan situasi: dari Bambang yang dipuntir tanggannya, menjadi Raden Mas Suhikayatno yang memuntir tangan Bambang.

Kini Raden Mas Suhikayatno memakai selimut di pundak dan menutupi tubuhnya hingga seperti berjubahkan selimut itu, berdiri dari kursi goyang, memegangi tangan pembantunya….

DENMAS:

Kurang ajar! Bener-bener tidak punya tata karma. Barang keramat milik majikan kok dimain-mainin… Enak tau! Kamu mau apa kok grayang-grayang begitu…

PAUSE: berubah jadi Bambang (melepas selimut itu), bersembah ketakutan di depan kursi goyang itu….

BAMBANG:

Ampun, Tuan… Saya cuma mau ngetes… onderdil tuan masih tokcer tidak…

PAUSE: berubah jadi Raden Mas Suhikayatno (kembali memakai selimut), berdiri memandangi ke arah pembantunya yang bersimpuh dekat kakinya.

DENMAS:

Eee…menghina ndoromu ini ya?! Biar prostat sering kumat, tetap saja masih kuat… Dari Ken Dedes sampai Ken Norton, sudah membuktikan ‘keampuhan’ saya… (menggeliat, menguap) Tolong air putih… (seakan ke arah pembantunya yang beringsung pergi) Eh, sekalian tusuk gigi… (Jeda sejenak, terus mengeliat dan olahraga kecil melemaskan otot. Sampai kemudian seolah-olah menerima gelas, berkumur, menyembur-nyemberkan air kumur ke samping kursi, kemudian memakai tusuk gigi)

PAUSE: berubah jadi Bambang, bersembah ketakutan di depan kursi goyang itu….

BAMBANG:

Sekarang Tuan mau mandi dulu, apa langsung sarapan?…Sikat gigi? Sikat gigi sudah saya siapin. Odol masih ada… Kalau tusuk gigi sudah habis, yang Tuan pakai itu ajah bekas yang kemarin..

PAUSE: berubah cepat jadi Raden Mas Suhikayatno,

DENMAS:

(Membentak marah sambil sekan membuang tusuk gigi yang tadi dipakainya, dan bergerak mau memukul) Bajigur! (Seolah pembantunya lari ketakutan) Sial benar saya punya pembantu macam kamu. Awas kamu, ya! (Mengambil baju yang tadi dibawakan pembantunya dan mulai memakainya, sambil berteriak ke arah tadi pembantunya menghilang) Hai, sini!… Ngapain kamu malah naik genting begitu. Sudah, nggak usah alasan mau benerin atap. Ayo, turun! Disuruh turun kok malah mendelik. Kamu itu bener-benar keterlaluan kok. Ayo turun! Cepet turun! Bambang, kamu dibilangin kok ngeyel buanget sih! Sudah nggak becus, ngeyel lagi… Ayo toh turun, Mbang! Turun!

(Kepada penonton) Jangan salah faham ya… Saya ini nyuruh turun Bambang pembantu saya. Bukan Bambang yang lain…

(Kembali seakan ke arah pembantunya itu, mulai sabar) Bambang… Ayo toh turun… Sekarang kamu lihat di kotak surat, ada surat buat saya tidak. Nggak ada? Coba kamu cari di bawah keset, mungkin nyelip di situ… Nggak ada juga? Ya sudah, sekarang kamu nunggu saja di halaman. Iya! Siapa tahu tukang pos itu lewat…

Raden Mas Suhikayatno berbicara di atas sembari juga meneliti tupukan koran dan majalah di atas meja, mencari-cari sesuatu. Memeriksa, membacanya…

DENMAS:

(Tampak kecewa, ketika tahu tidak menemukan surat yang diharapkannya) Pasti mereka lupa mengirimkannya! (Menimbang, menduga, mengira-kira) Lupa mengirimkan, apa tidak mau mengirim-kan? Mereka anggap saya ini siapa?

Maaf, saya bukannya mau mengungkit-ungkit. Tapi hargai dong sejarah saya. Apa dikira Tukang Kritik macam saya nggak menyumbangkan apa-apa? Bagaimana jadinya bangsa ini kalau nggak ada orang macam saya. Sayalah yang memulai sejarah. Orang macam sayalah yang menggerakkan sejarah. Orang-orang yang berani menyampaikan kritik.

Waktu negeri ini masih dijajah Kumpeni…, kalian pikir siapa yang berani sama Kumpeni? (bisa ke arah pemusik, yang merespon suasana, bisa ke arah penonton) Siapa coba yang berani melawan Kumpeni?!… (Dijawab sendiri) Si Pitung.

Kalian terlalu meremehkan peran saya. Apa kalian pikir saya tidak kenal Ki Hadjardewantara, Cokroaminoto, Agus Salim, Sjahrir dan Hatta? Saya sangat kenal mereka…, meski mereka tidak kenal saya. Mereka semua itu sahabat-sahabat saya. Saya selalu menemani mereka berdiskusi hingga dini hari. Ketika mereka diskusi.., saya menemani membikinkan kopi.

Ini sejarah, Bung! Kebenaran paling kecil pun harus ditulis. Saya tak ingin sejarah kita penuh kebohongan. Meski banyak yang bilang: sejarah sesungguhnya tidak lebih dari berbagai macam versi kebohongan!

(Mengambil albun foto di atas meja, dan seolah menunjukkan pada setiap oranag) Coba kalian lihat lagi foto-foto sejrah bangsa ini. Yang ini! Yang ini! Lihat foto pembacaan Proklamasi….

Di layar terlihat foto Pembacaan Proklamasi itu.[34]

DENMAS:

Perhatikan dengan cermat. Itu, di sebelah kanan… Kalian pasti tidak melihat saya. Hanya bidang kosong hitam. Disitulah mestinya saya berdiri. Tapi kalian telah menghitamkannya…

Selama ini saya diam. Kalian menulis para pendiri bangsa berjumlah 68. Saya rela nama saya tak disebutkan. Sebab, ditambah nama saya, berarti jadi 69. Angka 69 kan bisa sitarsirkan macam-macam…

Tapi kenapa kalian hanya menyebut para Bapak bangsa?! Dimana para ibu yang melahirkan mereka? Ibu-ibu Bangsa yang merawat dan membesarkan sejarah bangsa ini?

Sungguh…, saya tak menuntut apa-apa….

Tidakkah kalian ingat di tahun 1995, lebih limabelas tahun lampau, di zaman Soeharto… Ketika semua bungkam… Tukang Kritik seperti sayalah yang mempertaruhkan nyawa. Ketika koran dan majalah di breidel… Ketika kalian masih takut bicara demokrasi… Tidakkah kalian ingat saya…

Bagaimana mungkin, kini kalian perlahan-lahan mengapus saya dari ingatan…

(Meninggi) Sayalah yang selalu mengritik! Karena saya punya suara… Siapa yang bisa membunuh suara? Suara bisa kamu bungkam. Tapi tidak mungkin kamu bunuh. Kamu tak mungkin bisa membunuh saya…

Di puncak kemarahan, Raden Mas Suhikayatno terhuyung… Bersandar di kursi goyang, kelelahan. Dadanya sakit. Ia memanggil-manggil pembantunya….

DENMAS:

Bambaaang…. Toloooonggg…. obat saya…. (lalu meracau) Kalian tidak bisa membunuh saya… Saya suara zaman… Gema yang terus berpan-tulan…

Suara racauan Raden Mas Suhikayatno terus terdengar, makin pelan dan tenggelam, tak jelas. Pada Saat itulah, pelan-pelan muncul suara nyanyian. Seperti angin yang muncul dari pusaran waktu. Pada saat ini video menggambarkan waktu yang berdenyut, semesta yang mengembang dan mengerut. Gerigi mesin waktu yang bergemeretak bergerak. Gambar-gambar itu tumpah pecah ke seluruh panggung. Nyanyian itu, kau dengarkah nyanyian itu?

Yang berdiam di rahim waktu

Engkau siapakah itu?

Kami mendengar di desau hujan

Keluhmu pelan tertahan

Kami melihat ada yang berkelat

Engkaukah itu berbaring lelap

Di pusaran waktu

Di rahim waktu

Siapakah itu?

Bersamaan gema lagu yang meredup, muncul dua hologram itu lagi. Memandangi Raden Mas Suhikayatno yang mengerang gelisah dalam tidurnya.

HOLOGRAM 1:

Lihatlah dia yang selalu tertidur tapi setiap saat merasa terjaga… Ia menderita disiksa mimpi-mimpi yang ia kira kenyataan hidupnya

HOLOGRAM 2:

Bangun… Ini sudah tahun 2028.

HOLOGRAM 1:

Ia masih tersesat di abad silam…

Terdengar genta waktu menggema.

HOLOGRAM 2 :

Tahun 2045

Terdengar lagi genta waktu menggema

HOLOGAM 1:

Tahun 2066

HOLOGRAM 2:

Kau dengarkah yang berdenyut di jantungmu. Suara-suara yang menge-pungmu.

Sementara itu Raden Mas Suhikayatno terbangun, antara tidur dan jaga, memangdangi sekililing yang bagai tak dikenalinya

DENMAS:

Di mana saya…

HOLOGRAM 1:

Kamu ada di mana kamu merasa ada…

HOLOGRAM 2:

Kamu tak ada di mana-mana…

Raden Mas Suhikayatno kebingungan menatap sosok bayang-bayang itu…

DENMAS:

Siapa kamu!

HOLOGRAM 1:

Aku Tukang Kritik yang berjalan melintasi waktu… Akulah kamu yang selalu menyebunyikan wajahmu… Mereka yang membanggakan diri jadi Tukang Kritik, padahal bermuslihat pura-pura baik.

DENMAS:

Tidak….Tidak….

HOLOGRAM 2:

Kamu marah karena kamu dilupakan. Kamu selalu menunggu surat itu datang. Surat yang akan mencatat namamu di barisan para pahlawan…

DENMAS:

(Berteriak-teriak memanggil pembantunya) Bambanggg!!! Bambanggg!!!

HOLOGRAM 1:

Lihat sekelilingmu… Ini tahun 2070… Kamu terselip dipojokan sejarah. Tak ada lagi yang mengingatmu. Tak ada lagi yang membutuhkanmu.

DENMAS:

(Terus berteriak-teriak ) Bambanggg..!!! Bambanggg!!!….

Terdengar genta waktu menggema, berulangkali. Sementara Raden Mas Suhikayatno terus berteriak memanggil pembantunya. Memegangi kepalanya yang kesakitan. Gelombang waktu berpusaran dalam kepalanya.

Terdengar terompet pergantian tahun. Dua sosok hologram itu perlahan menghilang. Hanya tinggal terdengar suaranya di sela pekik keramaian dan sorak-sorai menyambut pergantian tahun… Cahaya kembang api meledak warna-warni!

TERDENGAR SUARA MEKANIS :

Tahun 3001.

TERDENGAR SUARA MEKANIS :

Tahun 3002.

Gerigi mesin waktu berderak-derak bersama lengking terompet pergantian tahun dan pijar kembang api warna-warni, berpijar di langit kota modern…

TERDENGAR SUARA MEKANIN :

Tahun 3003.

TERDENGAR SUARA MEKANIS :

Tahun 3004.

TERDENGAR SUARA MEKANIS :

Tahun 3005.

DENMAS :

(Menjerit keras melengking panjang) Baambbbaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa-aaaaaaannnnnnggggggggggggggg……..

Cahaya tiba-tiba benderang dan semua keriuhan dan suara seketika berhenti. Sepi. Panggung seperti ruang steril hampa udara. Pucat perak…

Raden Mas Suhikayatno tersandar di kursi goyang diterangi cahaya terang monokrom. Raden Mas Suhikayatno memandang bingung sekeliling…

Video-multimedia menghadirkan gambar-gambar gedung menjulang, siluet kota-kota ultra modern. Jalan-jalan layang metalik, mobil-mobil terbang. Kota futuristik. Raden Mas Suhikayatno jadi terlihat terpencil dan kecil dibawah semua bayang-bayang gedung-gedung menjulang itu. Ia hanya memandangi semua itu seperti orang bingung…

DENMAS:

Pernahkan kalian merasa begitu kesepian seperti yang kini saya rasakan?… Kesepian karena kehilangan peran… Mau apa saya… Semua sudah serba rapi. Tertib. Terkomputerisasi. Tak ada lagi yang bisa dikritik…

Raden Mas Suhikayatno menggerak-gerakkan kepalanya, memain-mainkan tangannya seperti kanak-kanak yang bermain menciptakan bayang-bayang. Tapi Ia kemudian segera bosan. Apa pun yang ia lakukan, ia segera merasa bosan.

DENMAS:

Makan sudah… Baca sudah… Tidur sudah… Masturbasi sudah… Apa lagi ya?

Muncul Robot pembantu rumah tangga.[35] Dibalut pakaian ketat perak. Mekanis. Robotik. Robot itu membawakan minuman dalam gelas bening….

ROBOT :

Good morning… Good morning…

Robot itu memberikan minuman kepada Raden Mas Suhikayatno, yang segera menimun isi gelas itu…

DENMAS:

(Setelah meminum) Bahkan minuman pun sudah pas betul… Saya tidak bisa mengritik kurang pahit atau kurang manis… Bahkan yang namanya bau, panas, dingin… semua sudah sesuai dengan keinginan setiap orang! Ternyata negeri adil makmur tentram karta raharja bukanlah utopia…

Raden Mas Suhikaatno lalu dengan males menyerahkan gelas itu lagi kepada robot itu…

ROBOT:

Thank you… thank you… Kamsiah…

Lalu Robot pergi…

DENMAS:

Itu tadi hasil cloning Bambang… pembantu saya yang sudah mati tahun 2022 lalu. Dia keturunannya yang ke 4. Bergelar Raden Mas Bambang Mangkukulkas XI. Dengan kode mesin: PRT 3005 GX …

Cahaya datar. Monokrom. Raden Mas Suhikayatno kembali merasa bingung. Kesepian. Ia tak tahu harus berbuat apa. Duduk tak betah. Berdiri tak betah. Berjalan tak betah. Ia tak tahu harus bagaimana.

Sampai para pemusik berkomentar: “Kenapa, Mas?… Kok bingung begitu?”

DENMAS:

Bingung mau ngritik apa… Punya pembantu saja robot. Nggak bisa disiksa pakai setrika… Zaman macam apa ini, kok semua serba tertib! Serba teratur.

Raden Mas Suhikayatno duduk bingung. Membuka-buka majalah. Koran. Tabloid sepintas lalu. Bosan…

DENMAS:

Semua berita baik… Nggak ada pembunuhan. Nggak ada gossip artis kawin cerai… Bosen!

Lalu kembali kepada para pemusik.

DENMAS:

Ayo dong kalian bikin keributan… Apa saja deh! Merkosa kambing juga boleh… Mau ya? Ya? Apa kalian seneng hidup tertib begini. Sekali-kali bikin masalah ‘kan ya nggak papa. Gini saja, kalian saya bayar… Kita demonstrasi ramai-ramai…

Para pemusik menanggapi. Tanpa ekspresi. Kompak. Menggeleng serempak. Mengang-guk serempak. Mekanik.

Karena tak memperoleh tanggapan sebagaimana yang diharapkan, Raden Mas Suhikayatno segera menuju ke kursi goyang. Duduk di sana. Kembali kesepian…

DENMAS:

(Memandang sekeliling) Inilah jaman di mana bahkan nabi pun sudah tidak lagi diperlukan…(Kembali memain-mainkan tangan,, seperti orang menghitung berulang-ulang) Makan sudah…tidur sudah… mandi sudah… makan sudah… tidur sudah… mandi sudah… makan sudah….. tidur sudah… mandi sudah… (gerakan tangan dan tubuhnya makin lama makin seperti orang yang menderita autis)

Suara Raden Mas Suhikayatno terdengar seperti bandul yang berayun-ayun monoton. Terdengar juga detak waktu yang menyertai nada suara Raden Mas Suhikayatno itu.

Mendadak seperti terdengar suara letusan yang mengagetkan. Raden Mas Suhikayatno meloncat kaget, gembira…

DENMAS:

(Begitu bahagia, mengepalkan tangan senang) Yes! Cihuuiiyyy! Akhirnya ada mahasiswa yang mati tertembak! … Alhamdulillah… Akhirnya ada yang bisa dikritik… (Bersemangat) Ayo, kita protes! Ayo… (Jeda) Apa? (mendadak loyo) Bukan mati tertembak? Cuma mati bahagia… Kok tidak heroik ya matinya…

Kembali duduk kecewa. Kembali ke kursi goyang…

DENMAS:

(Kembali memain-mankan tangan,, seperti orang mengitung berulang-ulang) Makan sudah…tidur sudah… mandi sudah… makan sudah… tidur sudah… mandi sudah… makan sudah….. tidur sudah… mandi sudah… (Gerakan tangan dan tubuhnya kembali makin lama makin seperti orang yang menderita autis)

Sampai kemudia suara Raden Mas Suhikayatno perlahan melemah, dan menghilang…

Kini yang terdengar hanya detak waktu yang monoton. Bersamaan itu cahaya yang monokrom dan datar itu perlahan menyurut. Kursi goyang itu terlihat tenang di bawah sorot cahaya yang kuat pucat. Waktu mendengung panjang. Menggelisahkan.

Kemudian mucul Robot itu. Berjalan mekanik mendekati kursi goyang. Tangan Robot itu terulur kaku ke depan, membawa selembar surat…

ROBOT:

Good morning…. Good morning… Bangun, Tuan… Wake up… Wake up… Bangun, Tuan… Ada surat… Ada surat… Bangun, Tuan… Bangun, Tuan… Ada surat… Ada surat…

Tapi Raden Mas Suhikayatno tak bergerak. Kursi goyang itu tetap tenang. Robot itu terus memanggil-manggil mekanik. Sampai semua cahaya perlahan meredup. Tinggal menyorot ke arah kursi goyang yang tetap tenang itu. Suara robot itu terus-menerus terdengar berulang-ulang. Berulang-ulang…

Semua cahaya menggelap perlahan.

PERTUNJUKAN SELESAI

Yogyakarta, 2003-2005

[1] Secara tekhnis, suara detak-detik jam itu bisa muncul dari sound system yang ditata sedemikian rupa hingga suara itu seperti muncul dari mana-mana dan memenuhi gedung pertunjukan. Bisa juga secara manual dengan menempatkan banyak jam weker di berbagai titik di dalam gedung pertunjukan, di bawah kursi penonton, dsb. Dimana nanti, semua jam weker itu berdering, dengan menempatkan kru pertunjukan untuk mewujudkan tekhnis tersebut. Atau di dinding ruang penonton dipasangi banyak jam aneka rupa dengan penunjuk angka/jarum waktu yang berbeda-beda. Mungkin juga dengan tata artistik yang mempertegas suasana, dengan intensi lukisan semacam “waktu yang memelelah” karya Salvardore Dali. Sementara, bila memakai video/multimedia, bisa divisualisasikan denyut waktu itu secara visual, seperti ada jarum waktu raksasa yang memenuhi panggung, atau gerigi-gerigi mekanik waktu pada jam yang saling bergerak berderak. Pendeknya, secara artistik bisa dikembangkan menurut interpretasi masing-masing.[2] Dentang lonceng ini juga bisa menjadi penanda pertunjukan. Dimulai dentang sekali. Dua kali. Lalu tiga kali, sebagai tanda pertunjukan di mulai. Atau puncaknya sampai berdentang 12 kali, baru mulai pertunjukan.

[3] Para aktor pendukung/para pemusik dan aktor yang akan memainkan monolog ini.

[4] Adegan ini berfungsi untuk memberi kesempatan aktor-pemeran duduk di kursi goyang itu. Pada bagian sebelumnya, di kursi itu hanya terlihat selimut yang merungkupi kursi goyang untuk mengesankan seakan-akan ada orang yang duduk dan tertidur di atas kursi goyang itu. Sejak adegan ini, di kursi goyang itu sudah meringkuk aktor-pemeran.

[5] Bila mereka para pemusik, mereka bergerak ke tempat yang sudah ditentukan menurut kebutuhan pertunjukan. Bila mereka para aktor pembantu, bisa langsung silam ke sisi-sisi panggung.

[6] Ini bila memakai multimedia, dalam hal ini gambar video. Gambar-gambar dari efek video inilah yang menyorot ke arah panggung. Gambar-gambar itu dibiarkan pecah, tak perlu disorotkan ke sebuah layar, tapi diproyeksikan ke arah di mana kursi goyang itu berada.

[7] Suara ini wajib ada. Suara-suara lain bebas dikembangkan sesuai kebutuhan dramatik suara.

[8] Suara ini juga mesti ada. Bisa dimunculkan juga pidato Soeharto ketika menyatakan diri mundur dari jabatan presiden. Juga suara khas Habibie. Suara Megawati. Gus Dur. Sesilo Bambang Yudhoyono. Suara-suara itu muncul berjauhan, tumpang tindih (tidak mesti runut-linear), seperti mencul dari gelombang radio yang serak dan rusak, di antara ilustrasi musik.

[9] Gambar-gambar masa silam ini bisa diambilkan dari potongan-potongan film yang menggambarkan masa silam. Misalkan film The Ten Comandement, yang menggambarkan adegan Nabi Musa, film King Arthur atau The Great Alexander, atau mungkin film Diponegoro, dokumentasi-dokumentasi video/film. Bisa juga ilustrasi gambar yang menceritakan perjalanan waktu – dari seri National Geografhic, misalnya. Atau membuat sendiri.

[10] Untuk efektifitas penulisan, selanjutnya akan disebut “Denmas”.

[11] Bambang adalah tokoh pembantu dalam monolog ini. Nama Bambang dipakai, karena ketika naskah ini ditulis, nama Presiden RI adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Kelak, bila presiden berganti dan naskah ini dipentaskan, maka nama Bambang harus diganti dengan nama presiden yang sedang menjabat. Pilihan nama seperti itu dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan: bahwa jabatan presiden itu sesungguhnya “pembantu rakyat”. Yakni Pembatu yang “diperintah konstitusi” untuk bekerja mensejahterakan rakyat yang menggaji dan membayarnya melalui bermacam pajak.

[12] Gambar ini juga diupayakan ada, karena berkait adegan selanjutnya. Kecuali bila Ada interpretasi lain, dan ingin mengembangkan adegan sendiri. Bagaimana pun, sebagai teks pertunjukan, teks ini sangat terbuka untuk dikembangkan berkaitan dengan situasi, keadaan dan kesiapan pementasan.

[13] Suara ini bisa berasal dari pemusik, atau dari suara aktor pembantu atau kru pentunjukan lainnya. Suara ini bergaya seperti tengah memberikan pengumuman

[14] Uka-uka, pada saat naskah ini ditulis, sangat popular sebagai ikon hantu. Di lain waktu, bisa diganti ikon hantu yang lebih popular ketika naskah ini dipentaskan.

[15] Adegan wayang orang ini bisa diplesetkan (dideformasi) pada bagian yang memungkinkan. Pengulangan kata “maaf” di adegan ini sendiri terinspirasi dari tokoh Mpok Minah di serial Bajaj Bajuri yang selalu mengulang-ulang kata “maaf” seperti itu.

[16] “Gaul gitu loh” adalah ungkapan yang popular dan ngetrend dikalangan anak muda pada zaman monolog ini ditulis. Sebagai ungkapan popular dan ngetrend, itu pasti terkait dan terbatasi mode. Bila monolog ini dipentaskan pada situasi yang (sudah) berbeda, maka ungkapan ini pun mesti disesuaikan dengan uangkapan yang saat itu sedang ngetrend.

[17] Adegan berkisah ini sifatnya “main-main” dalam konteks permainan dramatik. Bisa dikembangkan sebagai upaya memperkaya “main-main” itu. Gaya aktor menceritakan itu cair, ditambah-tambahi, dan para pemusik bisa ikut berceloteh menanggapi, misalnya.

[18] Perhatikan perubahan kata ganti orang pertama, dari “saya” menjadi “aku”. Ketika Raden Mas Suhikayatno menyebut dirinya dengan “aku”, maka ego dia sudah mengempal. Ada dendam dan kegeraman di situ, yang menyulut kemarahannya. Dan itu muncul sebagai ekspresi terakhir untuk menunjukkan harga diri dan keberadaannya.

[19] Ketika cahaya di kursi goyang sudah gelap, maka aktor-pemeran Raden Mas Suhikayatno segera beringsut dari kursi itu, untuk berganti peran. Selimut dirungkupkan ke kursi goyang, hingga mengesankan masih ada Raden Mas Suhikayatno di kursi goyang itu. Sambil beringsut dan pergi itulah, aktor terus memanggil-manggil nama pembantunya itu. Atau untuk efek tertentu, suara itu bisa saja sudah direkam sebelumnya. Jadi selama aktor berganti kostum/berganti peran, suara memanggil-manggil terus terdengar. Atau, suara itu bisa digantikan oleh suara aktor pembantu/pemusik, yang diusahakan mirip dengan intonasi dan warna suara si aktor.

[20] Dengan teknik tertentu, di bagian kursi goyang itu bisa dipasangkan tali senar, dimana seorang kru bisa menarik dan mengulur senar itu agar kursi goyang terus terayun-ayun.

[21] Hologram adalah bentuk visual yang berupa efek pemadatan cahaya, sehingga bisa menghadirkan sosok atau benda dari proyeksi cahaya. Bila tekhnologi ini belum bisa diaplikasikan dalam pertunjukan ini, maka sosok hologram bisa berupa bayangan pada layar dari video/multimedia., berupa visual dari tokoh Raden Mas Suhikayatno, yang sudah dibuat sebelumnya. Tapi bila itu juga tidak mungkin, 2 sosok hologram itu bisa diperankan oleh aktor lain, yang secara casting mirip dengan aktor pemeran Raden Mas Suhikayatno. Tinggal mak up dan kostum disamapersiskan.

[22] Suara ini bisa digantikan oleh aktor pembantu, atau sudah direkam sebelumnya

[23] Dimainkan oleh aktor yang sama, yang memerankan Raden Mas Suhikayatno, setelah berganti kostum.

[24] Di bagian ini bisa dikembangkan dengan interaksi dengan penonton, dimana aktor bisa secara cair-keluar dari peran, memberi komentar tentang baju, cara duduk, atau apa pun dari seorang penonton. Fungsinya untuk menegaskan “kenyinyiran” Raden MAs Suhikayatno yang sedang diceritakan oleh tokoh Bambang itu. Tentu dengan mempertimbangan alur dramatik secara keseluruhan.

[25] Le, berasal dari Thole (bahasa Jawa), yang merupakan panggilan kepada anak laki-laki. Panggilan ini bisa diganti menurut kebutuhan tempat dan etnis lainnya, tergantung di etnis mana pentas ini berlangsung.

[26] Mugle adalah istilah para penyihir untuk menyebut “manusia”, dalam buku Harry Potter karya J.K. Rowling. Penyihir keturunan mugle artinya penyihir yang punya unsur darah manusia dalam trah keluarganya.

[27] Ini “joke alusif”, karena sesungguhnya dua orang itu sama, karena dimainkan oleh aktor yang sama.

[28] Ini adalah joke yang kontekstual, dimana pada saat monolog ini ditulis, nama Hamid Awaludin – yang disini kemudian diplesetkan menjadi Hamid Hawaludin – cukup popular di masyarakat. Bila jaman berganti, dan nama itu tidak cukup dikenal, mana harus ada penyesuaian atas joke ini.

[29] Bisa dikembangkan dengan berinteraksi dengan menyebut nama-nama tokoh yang hadir, yang kira-kira dianggap kritis pada saat ini. Pada saat ini, sebagai contoh nama Te-ten, Bas-ri…

[30] Teks pada bagian ini sangat kontekstuak, yang terkait dengan situasi dimana naskah ini ditulis pertama kali. Bila pada suatu saat, konstelasi politik berubah, dan mungkin sudah terjadi pergantian pemerintahan/presiden, maka nama dan konteknya mestilah disesuaikan. Misalkan naskah ini dipentaskan tahun 2015, maka “waktu kisah dan peristiwa dalam lakon ini” juga mesti disesuaikan – dimajukan kira-kira sepuluh tahun ke depan.

[31] Penyebutan Butet Kertaredjasa di sini, karena monolog ini pertama kali akan dimainkan oleh dia. Apabila naskah ini dipentaskan oleh aktor lain, maka nama aktor yang memainkan itulah yang disebut.

[32] Taman Lawang adalah wilayah yang berkonotatif “permesuman”. Tiap daerah punya lokasi seperti itu.

[33] Di sini penyebutan nama-nama itu juga situasional. Yang penting nama itu familiar dengan audiens. Dan bisa juga “menggarap” beberapa nama seniman yang kebetulan saat itu hadir menyaksikan pertunjukan. Jadi penyebutan nama-nama itu fleksibel, dan kira-kira tak menjadi preseden yang bisa merugikan pementasan itu sendiri.

[34] Dalam gagasan saya, bila pertunjukan ini menggunakan media video, maka slide foto bisa disertakan menyertai adegan ini. Dimana dilayar muncul berganti-ganti foto-foto dokumentasi sejarah, dari zaman pergerakan sampai mungkin foto Soeharto menyatakan pengunduran dirinya, Gus Dur yang didorong di atsas kursi roda, dst. Gambar slide itu seakan adalah gambar di albun yang diperlihatkan oleh Raden Mas Suhikayatno. Komentar-komentar Raden Mas Suhikayatno selanjutnya bisa dikembangkan berkaitan dengan foto-foto yang muncul pada layar. Bila secara tekhnis sulit, berarti tak ada slide foto-foto itu.

[35] Di sini akan disebut sebagai Robot. Peran robot dimainkan oleh aktor yang bertubuh kecil. Bisa laki. Bisa perempuan. Tapi kostum robot mesti tidak menyarankan identifikasi jender itu.

KEDUDUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL “TARIAN BUMI” KARYA OKA RUSMINI (KAJIAN FEMINIS)

Oleh : ENI FARIDAH

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kedudukan wanita yang menjadi objek dalam penciptaan karya sastra menimbulkan adanya persepsi kurang baik dan sebuah pandangan tersendiri terhadap wanita, wanita tidak memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Dan wanita juga tidak berdaya intelektual tinggi, selain itu juga dapat menimbulkan pandangan lain tentang wanita, yaitu selalu dianggap lemah, tidak kreatif, berperan domestik, dan selalu berada pada kekuasaan laki-laki.
Dengan adanya anggapan-anggapan tentang kedudukan wanita tersebut. Mendorong wanita untuk menjadi maju dan modern. Seiring dengan meningkatnya kemakmuran dan pendidikan wanita akibat industrialisasi. Jumlah pembaca menjadi meningkat, dan wanita juga menjadi pembaca utama karya-karya sastra yang terbit pada era modern.
Menurut kartono (1992: 10) wanita dapat merealisasikan diri dengan bakat dan potensi yang dimilikinya untuk perjuangan. Eksistensinya secara khusus dan manusiawi. Dalam keberadaannya di dunia, wanita mempunyai hubungan tertentu dengan realitas, sehingga sanggup melepaskan diri dari situasi sekarang dan di sisi lain menujuhari esok.
Dalam pengembangan karya sastra, perempuan sering dimunculkansebagai fokus pembicaraan. Akhirnya sebuah karya sastra, khususny yang berupa novel dapat mengenalkan kehidupan perembuan dengan segala tantangan dan permasalahan yang ada di lingkungan. Dalam kenyataanya realita sosial telah membuka tabir bahwa unsur feminisme telah bertolak sebagai dasar pembagian fungsi antara jenis kelamin dalam berbagai segi, karena kita tahu bahwa karya sastra sebagai refleksi kehidupan akan terus mewakili situasi dan keadaan sekitarnya (Damono 1984: 1)


1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Bagaimana kedudukan tokoh wanita dalam novel “Tarian Bumi” karya oka Rusmini.
1.2.2 Bagaimana peranan tokoh wanita dalam novel “Tarian Bumi” karya oka Rusmini.

1.3 Tujuan
1.3.1 Mendiskripsikan tokoh wanita dalam novel “Tarian Bumi” karya oka Rusmini.
1.3.2 Mendiskripsikan pernan tokoh wanita dalam novel “Tarian Bumi” karya oka Rusmini.

2. KAJIAN TEORI
2.1 Tokoh Cerita
Suatu cerita dalam prosa fiksi selalu didukung oleh sejumlah tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mendukung peristiwa sehingga mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh. Sebagaimana pendapat Atar Semi (1988: 36) bahwa kehadiran penokohan dan perwatakan dalam sebuah karya fiksi sangat penting, dan bahkan diceritakan tidak mungkin ada cerita tanpa tokoh yang bergerak dan akhirnya membentuk alur cerita.
Berdasarkan atas karakternya, aspek tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sederhana dan tokoh kompleks. Tokoh sederhana atau tokoh datar ialah tokoh yang kurang mewakili personalitas manusia, dan biasanya hanya ditonjolkan dari satu dimensi saja. Tokoh ini cenderung tidak dikembangkan sedangkan tokoh kompleks atau tokoh bulat ialah tokoh yang dapat dilihat dari semua sisi kehidupannya (Sijiman, 1992: 17-20).
Sayuti (2000:74) berpendapat, tokoh utama atau tokoh sentral suatu karya fiksi dapat ditentukan dengan tiga cara: (1) tokoh yang paling terlibat dengan makna atau tema; (2) tokoh yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain; (3) tokoh yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan.


2.2 Teori Feminis
Secara etimologis feminis berasal dari kata femme (women), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial.
Tujuan feminis adalah keseimbangan. Feminis adalah gerakan gerakan kaum wanita untuk menolok segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan. Baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya.
Dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu dalam sastra, feminim dikaitkan dengan cara-cara memakai karya sastra baik dalam kaitannya dengan proses produksi ataupun resepsi. Dengan demikian emansipasi wanita merupakan salah satu aspek dalam kaitannya dengan persamaan hak.
Marry Wollstonecraft (dalam Djajanegara, 2000: 30) mengatakan bahwa kaum perempuan, khususnya dari kalangan menengah merupakan kelas yang tertindas myang harus bangkit dari belenggu rumah tangga. Kondisi timpang yang dialami kaum perempuan, membuat perempuan tergerak untuk memprotes tindakan-tindakan tersebut, dengan cara memunculkan feminisme dalam karyanya dengan menampilkan tokoh-tokoh perempuan dalam karyanya.
Teori feminis sebagai alat kaum wanita untuk memperjuangkan hak-haknya, erat kaitannya dengan konflik kelas dan ras, khususnya konflik gender. Artinya, antara konflik kelas dengan feminisme memiliki asumsi-asumsi yang sejajar, mendeskontruksikan sistem dominasi dan hegemoni.
Dalam teori-teori sastra komtemporer, feminisme merupakan gerakan perempuan yang terjadi hampir diseluruh dunia. Gerakan ini dipicu oleh adanya kesadaran bahwa hak-hak perempuan sama dengan laki-laki.

2.3 Suku Bali
Suku Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya. Sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Selain itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan kedalam kebudayaan Bali, dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan satuan itu.
Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali. Karena dengan keadaan itu seseorang memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat.
Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen dan sistem kasta, maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau setidaknya antara orang-orang yang dianggap sedrajat dalam kasta. Perkawinan adat di Bali bersifat endogami klen, jika perkawinan antara kasta terjadi, dimana kasta wanita lebih tinggi dari kasta pria, maka wanita itu dinyatakan keluar dari klennya. Namun sejak tahun 1951 hukum seperti itu tidak pernah dilakukan lagi.

3. PEMBAHASAN
Di tengah-tengah meganya Bali, terselip berbagai bentuk ketidak-adilan yang dialami perempuan Bali. Dimana perempuan berada dibawah dominasi laki, perempuan sebagai pelengkap. Perempuan sebagai mahkluk kelas dua. Sebagaimana yang dapat kita baca pada halaman 22 :
“Aku capek jadi perempuan miskin, Luh. Tidak ada orang yang menghargaiku. Ayahku telibat kegiatan politik, sampai kini tak jelas hidup atau matikah dia. Orang-orang mengucilkan aku kata mereka, aku anak penghianat. Anak PKI ! yang berbuat ayahku yang menanggung beban aku dan keluargaku. Kadang-kadang aku berfikir kalau kutemukan laki-laki itu aku akan membunuhnya...!”
Selain itu perempuan dianggap sebagai sumber dari malapetaka, walaupun perempuan tersebut berasal dari kasta brahmana. Sebagaimana yang tertulis di halaman 152 :
“Berkali-kali tiang berkata, menikah dengan perempuan Ida Ayu pasti mendatangkan kesialan. Sekarang anakku mati! Wayan tidak pernah mau mengerti. Ini bukan cerita dongeng. Ini kebenaran. Kalau sudah begini jadinya aku harus bicara apa lagi ! “Luh Gumbreg memukul dadanya. Menatap telaga tidak senang.
Telaga adalah potret pemberontakan perempuan Bali terhadap praktik-praktik budaya yang menindas dengan caranya sendiri; menjalani hidupnya diantara ambang penerimaan dan ketidak patuhan, diantara penyerahan dan kebebasan. Tetapi dalamhidup tidak pernah ada kebebasan yang sempurna. Untuk mendapatkan ketrentaman.
Telaga harus melakukan ulpacara pati wangi, upacara penanggalan gelar “Ida Ayu”. Seperti yang ada pada empat paragraf terakhir pada novel Tarian Bumi :
Telaga mulai mebuka bajunya. Dia hanya mengenakan kain sebatas dada. Seorang pemangku mengucapkan mantra-mantra. Kaki perempuan itu diletakkan pada kepala Telaga, tepat diubun-ubun. Air dan bunga menyatu. Kali ini, Telaga merasakan air dan bunga tidak bersahabat dengannya. Air menulsuk-nusuk tubuhnya. Bunga-bunga mengorek lebih dalam lukanya. Sebuah upacara harus dilakukan demi ketnangan keluarganya. Dmi Luh Sari, Telaga telah dianggap sumber malapetaka dan kesialan keluarga Gumbreg.
Air itu mulsi menguasai tubuhnya seperti ratusan tombak tajam. Telaga menggigil.
“Aku tidak pernah meminta peran sebagai Ida Ayu Telaga Pidada. Kalaupun hidup terus memaksaku memainkan peran tu, aku harus menjadi aktor yang baik. Dan hidup harus bertanggung jawab atas permainan gemilangku sebagai Telaga.”
Dlam kenyataan hanya seks, sebagai male-female yang ditentukan secara kodrati, secara biologis. Sebaliknya gender dan jenis kelamin yaitu masculine – feminine ditentukan secra kultural, sebagai hasil pengaturan kembali infrastruktur material dan superstruktur ideologis. Sebagaimana perempuan Bali pada umumnya mereka sangat kuat dalam menghadapi hidup. Walaupun perempuan dalam kebudataan Bali yang patriarki adalah individu-individu yang menomerduakan dirinya.

4. SIMPULAN
Setelah menganalisis data yang ada, makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
4.1 Kedudukan tokoh wanita dalam novel Tarian Bumi adalah sebagai fokus pembicaraan, dimana novel tersebut digambarkan kehidupan perempuan dengan segala tantangan dan permasalahan yang ada dilingkungannya.
4.2 Adapun peranan tokoh wanita dalam novel Tarian Bumi adalah sebagai tokoh kompleks atau tokoh bulat, tokoh yang dapat dilihat dari semua sisi kehidupannya.


DAFTAR PUSTAKA

 Damono, Sapardi Djoko, 1984. Sosiologi Sastra, Jakarta : Pusat Bahasa.

 Djajanegara, Sunarjati, 2000. Kritik Sastra Sebuah Pengantar, Jakarta : Gramedia.
 Kartono, Kartini. 1992. Psikologi Wanita II : Mengenal Wanita Sebagai Ibu dan Nenek. Bandung : Mandar Maju.
 Koentjaraningrat dkk. 1971, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan.
 Ratna Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Jokjakarta : Pustaka Pelajar.
 Sayuti, Suminto.A. 200. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta : Gema Media.
 Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Bandung : Angkasa Raya.

 Sudjiman, Panuti. 1993 Memahami Larik Rekaan. Jakarta : Pustaka Jaya.



LAMPIRAN
• Sinopsis Novel
Cerita bermula ketika Luh Sekar berobsesi menjadi seorang yang berdrajat tinggi, dan untuk memnuhi obsesinya itu, dia melakukan banyak cara. Luh Sekar terlalu mengagungkan nilai-nilai kebangsawanan, dia berfikir menjadi bagian dari keluarga besar “griya” drajatnya lebih tinggi dibanding perempuan sudra lainnya.
Setelah disunting secara sah oleh Ida Bagus Ngurah Pidada, Luh Sekar tidak hanya harus meninggalkan keluarga dan kebiasaan-kebiasaannya. Selain berganti nama menjadi Jero Kenanga, dia harus juga meninggalkan semua yang pernah membesarkannya.
Setelah Jero Kenangan menikah dengan Ida Bagus Ngurah Pidada, maka lahirlah Ida Ayu Telaga Pidada.
Ida Ayu Telaga Pidada adalah seorang penari oleg yang tidak terkalahkan. Ida Ayu Telaga Pidada kemudian menikah dengan Wayan Sasmitha yang seorang sudra, pernikahan itu dilarang. Karena dianggap menimbulkan malapetaka. Dan dari pernikahan itu Telaga melahirkan Luh Sari.
Ketika Wayan Sasmitha meninggal, hal ini dianggap sebagai malapetaka yang ditimbulkan dari pernikahan campuran. Dan malapetaka itu akan hilang jika Telaga melakukan upacara patiwangi, upacara penanggalan gelar kebangsawanan. Setelah upacara itu, dilangsungkan Telaga menjadi wanita sudra seutuhnya.