Radar Mojokerto, Minggu, 03 Feb 2008
Swawedar, Sebuah Perjalanan Budaya Asal Mojokerto
Dari Pentas Agustusan hingga Melanglang ke Bandung
Dengan dihadiri sekitar 30 orang, Swawedar 63 merayakan HUT ke-45 pada 27 Januari lalu di rumah Wahab Jl Majapahit selatan. Swawedar didirikan oleh Anton Sumartana yang kini tinggal di Bandung . Swawedar 63 menjadi bukti otentik bahwa seni teater sudah ada di Kota Mojokerto sejak 45 tahun lalu. Berikut perjalanan panjang Swawedar seperti yang disampaikan Anton kepada Radar Mojokerto.
KETIKA mau didirikan, kepada anggota dilempar nama yang cocok buat kelompok remaja yang gemar menggambar (latihan bersama), berkencrang kencring pakai gitar, ketipung, serta kentongan dari bambu. Ada yang mengusulkan Sanggar Brawijaya, karena pusat latihan di rumah Jalan Brawijaya No 215 Mojokerto. Ada yang mengusulkan Sanggar Majapahit, karena kadang-kadang latihan di rumah anggota di Jalan Majapahit. Ada pula yang mengusulkan Sanggar Cakrawala, Sanggar Budaya, Sanggar Sungging dan nama lain. Anton yang mengomandani kelompok, sudah mengantongi nama, hasil doa ibunya usai salat, memberi alasan:
"Kelompok kita bukan kelompok Kerajaan. Nama harus umum, dan bisa diterima siapa saja. Sampai kapan harus tetap ada," kata Anton. Dikeluarkanlah nama: Swawedar!
Mereka langsung setuju. Menyambut senang. Mungkin karena sudah akrab dengan kata Sriwedari, atau swadaya. Maka lahirlah Sanggar Swawedar, 10 November 1963. Acara dibuka dengan makan-makan tumpeng nasi kuning dimasak oleh ibu Anton.
Mencari arti:
Swawedar, berarti bangkit sendiri (Swa = sendiri, wedar = bangkit). Motto yang diusung: Belajar, bekerja, berkreasi buat sesama (dalam perkembangannya, "buat sesama" diubah jadi "untuk Bangsa dan Agama").
"Biar keren!" Kenang Anton pendirinya.
Kelompok yang berasal dari latihan menggambar bareng-bareng mensketsa di pasar, di terminal, stasiun, alun-alun dan jalan pertokoan. Hanya karena kebutuhan, dibentuk pula folk song, semacam kelompok musik lagu-lagu daerah. Membawakan lagu-lagu daerah atau lagu rakyat, dirasakan pengucapannya banyak yang tidak jelas, dialihkan belajar membaca yang benar, huruf-huruf: a, b, c, d, sampai huruf z. Kemudian dikembangkan olah vokal: Membaca kata yang jelas dan benar, mengucapkan kalimat yang jelas dan benar. Latihan dilakukan di sungai tlusur, atau di pintu Sungai Brangkal yang ada terjunan air deras. Di pinggir sungai atau masuk mandi ke dalam sungai, berteriak-teriak olah vokal melawan derasnya suara air terjun. Bosan dengan kebiasaan latihan di Sungai Brantas, sambil piknik bersepeda, latihan vokal di hutan Trowulan, atau di Mojosari. Dari hasil latihan vokal, setiap bermusik, bernyanyi, dilakukan pula melatari musik dengan membacakan teks lagunya. Dari folk song dengan dilatari pembacaan syair lagu, berkembang
kepada deklamasi. Puisi-puisi yang akrab adalah karya-karya Chairil Anwar: "Aku", "Karawang-Bekasi" , "Doa". Ada karya-karya penyair lain, seperti Amir Hamzah, dianggap sebagai pantun kuno.
Latihan-latihan seperti olah vokal dan bermusik (karena letak di pinggir Jalan Brawijaya) diketahui oleh Pak Lurah. Pak Lurah meminta mementaskan sandiwara buat meramaikan perayaan 17 Agustus. "Sandiwara, kayak ludruk itu lho? Tapi, ceritanya perang," ujar Pak Lurah waktu itu.
Siang itu pula dengan naik sepeda ramai-ramai ke Pasar Kliwon Mentikan, tempat gedung pertunjukan ludruk. Semua pemain laki-laki. Mereka pun membagi peran: harus begini, yang lain harus begitu. Malamnya nonton atau mengamati pertunjukan ludruk. Lakonnya: "Sarip Tambak Yoso." Kisah tentang heroisme rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.
Menertibkan Manajemen
Kegiatan sandiwara seperti ini tidak bisa terus menerus memakai cara-cara tradisional, seperti ludruk atau ketoprak. Tapi, harus cari teks atau naskah: ke toko-toko buku, ke orang-orang tua yang aktif berkecimpung di dunia sandiwara atau nama kerennya drama.
Di Mojokerto ada susastrawati Jawa Iesmaniasita St. Memberi petunjuk supaya ke Surabaya , menemui Mas Narto (Maksudnya Sunarto Timur), Akudiat atau Gatut Kusumo.
Mulailah berkenalan dengan naskah-naskah luar (negeri) yang tebal-tebal dan memusingkan karena susah dimengerti (absurd). Seperti karya Ibsen, Bertolt Breck Shakespeare, Samuel Becket. Kemudian mulai bersentuhan dengan naskah drama karya Sanusi Pane, Akudiat, Motinggo Busye, Akhdiat K Mihardja dan lain-lain. Tapi lebih tertarik mementaskan drama: "Pinangan" karya Anton P Chekov, "Pagi Bening" karya Seratin, "Fajar Siddik" karya Emile Sanosa, "Suara-Suara Mati" karya Alfares Quintaro dan Alfredo Alvares, "Malam Pengantin di Bukit Kera", "Malam Jahanam" karya Motinggo Busye, "Bentrokan Dalam Asrama" karya Achdiat K Mihardja.
Karena jumlah anggota pemain begitu banyak dan berpotensi, tidak mungkin terus menerus mementaskan drama dengan pemain terbatas maka memulailah "hijrah" membuat naskah drama sendiri. Dengan pelaku disesuaikan karakter anggota kelompok yang ada. Pemain tidak hanya terdiri remaja, tapi juga anak-anak. Dari kondisi demikian, muncullah pemikiran MTU (Manjemen Teater Utuh) Dalam kegiatan teater harus mempunyai grup yang kompak, sumber naskah yang lengkap, sutradara yang handal, disertai sumber dana yang kuat. Atau bila sebagai kreator, tampil diri sebagai seniman paripurna: Harus mampu menulis naskah. Jadi menyutradarai sekaligus sebagai aktor yang handal. Dari kesadaran MTU, lahirlah pementasan drama "Pengemis Itu" karya Anton De Sumartana, juara pertama festival drama remaja. "Sang Paduka RT Kita" karya Anton De Sumartana, sutradara Nono Setio Dwiyono dengan 30 (tiga puluh) pemain. Drama ini selain main di Pendopo, main di Gedung Nasional, juga berkeliling main di Kelurahan-kelurahan . Pak Lurah sampai kewalah
an karena harus mengangkut pemain menggunakan truk. Drama "Panggung Sandiwara" karya Anton De Sumartana, sutradara Nono Setio Dwiyono, sejenis drama musikal, seluruh pemain berjumlah 60 orang pakai topeng.
Uniknya, drama-drama "Sang Paduka RT Kita", "Panggung Sandiwara", "Zapata Sang Pejuang" dijadikan pola latihan berimprovisasi. Saat di sekolah berdialog berimprovisasi, di jalan, di toko di gang-gang, di gardu-gardu ronda. Yang secara langsung "keanehan-keanehan" , ini menarik perhatian anak-anak masyarakat sekitar, sehingga ikut berlatih. Lewat naskah-naskah seperti itu, pembibitan kader dan regenerasi pemain terus berkembang. Bahkan berhasil membentuk Teater Anak-anak. Untuk mencari dana pembangunan tempat ibadah, dipentaskan drama "Chrismats Charol" karya Charles Dicken.
Naluri untuk selalu tampil, memantapkan diri membina keterampilan dan watak berkarakter, dirasa hanya melalui pergulatan dalam berteater. Namun, guna memasyarakatkan ketoprak dan bergiat lebih luas dan tampil secara "nasional", mempunyai cita-cita untuk hijrah. Kader yang tangguh, dengan tim yang solit dan kompak, dipersiapkan untuk pentas ke Bandung .
Seluruh anggota Swawedar Mojokerto dengan drama "Suara Kawula Suara Dewata" karya Anton De Sumartana, sutradara Nono Setio Dwiyono mentas di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung . Seluruh anggota Swawedar naik Kereta Api trutuk ke Bandung . Berhasil mementaskan "SKSD", tiba-tiba ada sponsor untuk pementasan "Mega-Mega". Para pemain pun melakukan latihan "Mega-Mega" karya Arifin C. Noor dengan Sutradara Anton De Sumartana. Pimpinan produksi dipegang Nono Setio Dwiyono. Dalam pementasan "Mega-Mega" Rudjito (penata panggung karya-karya Drama Rendra) dan Remy Silado mengacung jempol berkenaan dengan tata panggungnya. (khoirul inayah/nk)
(harian Radar Mojokerto)
(dari Fb Abdul Malik)
Thursday, 24 June 2010
Lomba Cerpen Krakatau Award Diperpanjang
(catatan Abdul Malik dalam FB)
Lomba Cerpen Krakatau Award Diperpanjang
Kamis, 24 Juni 2010 | 06:21 WIB
BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com--Panitia Krakatau Award 2010 memperpanjang waktu penerimaan naskah cerita pendek, guna memberikan kesempatan peserta lain untuk mendaftarkan karyanya sehingga memperbanyak karya cerpen yang masuk.
"Perpanjangan waktu penerimaan guna memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada penulis cerpen lain untuk mengikuti lomba ini," kata Koordinator Krakatau Award 2010, Isbedy Stiawan ZS, mendampingi Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL), Syaiful Irba Tanpaka, di Bandarlampung, Rabu.
Alasan lainnya, lanjut dia, pemenang pertama direncanakan diundang pada Lampung Art Festival (LAF) pada 21-24 Oktober mendatang, yang akan diikuti seluruh Dewan Kesenian se-Indonesia yang diisi dengan seminar dan pergelaran seni.
"Sepuluh cerpen pemenang dan nominasi kami rencanakan diterbitkan ke dalam buku dan diluncurkan saat LAF," jelasnya.
Syaiful menjelaskan, perpanjangan waktu Lomba Penulisan Cerpen memperebutkan Krakatau Award tersebut setelah menemui Ketua Umum DKL Syafariah Widianti.
"Atu Ayi, panggilan akrab Syafariah, menginginkan Krakatau Award 2010 dibarengi dengan LAF, sehingga pemenangnya dimungkinkan bisa diundang. DKL juga berencana menerbitkan naskah pemenang dan nominasi," imbuh dia.
Isbedy Stiawan ZS menjelaskan, hingga kini yang sudah masuk sedikitinya 50 naskah cerpen dan yang sudah terdaftar kali ini lebih banyak dibanding tahun lalu.
"Kalau waktu pelaksanaan diperpanjang dua bulan lagi, kemungkinan naskah yang masuk bisa mencapai 70 naskah lebih," kata Isbedy.
Krakatau Award 2010 akan memberi penghargaan bagi empat cerpen pemenang berupa uang tunai masing-masing Rp2 juta, Rp1,5 juta, Rp1 juta, dan Rp500 ribu.
Selain itu, sebuah piagam dari DKL, dan dewan juri juga akan memilih enam cerpen nominasi nonranking untuk sama-sama dimasukkan ke dalam antologi cerpen pemenang Krakatau Award 2010.
Lomba penulisan cerpen Krakatau Award 2010 bertema "Lampung: Lokal-Global", yaitu cerpen bersandar kepada nilai-nilai adat, seni budaya atau dunia wisata di Lampung. Bagaimana peran lokalitas dalam berhadapan dengan globalisasi yang tak bisa dihindari.
Panjang cerpen maksimal 10 halaman kwarto, diketik 1,5 spasi, font Times New Roman 12. Peserta berusia minimal 17 tahun, dapat mengirimkan maksimal 3 naskah cerpen dan masing-masing naskah rangkap 4.
Naskah dikirim ke Panitia Krakatau Award 2010, Sekretariat Dewan Kesenian Lampung Jalan Gedung Sumpah Pemuda Kompleks PKOR Wayhalim, Bandar Lampung."Pengumuman pemenang akan disampaikan minggu kedua September 2010," tambah Isbedy.
Sumber:
http://oase.kompas.com/read/2010/06/24/06210851/Lomba.Cerpen.Krakatau.Award.Diperpanjang
Lomba Cerpen Krakatau Award Diperpanjang
Kamis, 24 Juni 2010 | 06:21 WIB
BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com--Panitia Krakatau Award 2010 memperpanjang waktu penerimaan naskah cerita pendek, guna memberikan kesempatan peserta lain untuk mendaftarkan karyanya sehingga memperbanyak karya cerpen yang masuk.
"Perpanjangan waktu penerimaan guna memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada penulis cerpen lain untuk mengikuti lomba ini," kata Koordinator Krakatau Award 2010, Isbedy Stiawan ZS, mendampingi Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL), Syaiful Irba Tanpaka, di Bandarlampung, Rabu.
Alasan lainnya, lanjut dia, pemenang pertama direncanakan diundang pada Lampung Art Festival (LAF) pada 21-24 Oktober mendatang, yang akan diikuti seluruh Dewan Kesenian se-Indonesia yang diisi dengan seminar dan pergelaran seni.
"Sepuluh cerpen pemenang dan nominasi kami rencanakan diterbitkan ke dalam buku dan diluncurkan saat LAF," jelasnya.
Syaiful menjelaskan, perpanjangan waktu Lomba Penulisan Cerpen memperebutkan Krakatau Award tersebut setelah menemui Ketua Umum DKL Syafariah Widianti.
"Atu Ayi, panggilan akrab Syafariah, menginginkan Krakatau Award 2010 dibarengi dengan LAF, sehingga pemenangnya dimungkinkan bisa diundang. DKL juga berencana menerbitkan naskah pemenang dan nominasi," imbuh dia.
Isbedy Stiawan ZS menjelaskan, hingga kini yang sudah masuk sedikitinya 50 naskah cerpen dan yang sudah terdaftar kali ini lebih banyak dibanding tahun lalu.
"Kalau waktu pelaksanaan diperpanjang dua bulan lagi, kemungkinan naskah yang masuk bisa mencapai 70 naskah lebih," kata Isbedy.
Krakatau Award 2010 akan memberi penghargaan bagi empat cerpen pemenang berupa uang tunai masing-masing Rp2 juta, Rp1,5 juta, Rp1 juta, dan Rp500 ribu.
Selain itu, sebuah piagam dari DKL, dan dewan juri juga akan memilih enam cerpen nominasi nonranking untuk sama-sama dimasukkan ke dalam antologi cerpen pemenang Krakatau Award 2010.
Lomba penulisan cerpen Krakatau Award 2010 bertema "Lampung: Lokal-Global", yaitu cerpen bersandar kepada nilai-nilai adat, seni budaya atau dunia wisata di Lampung. Bagaimana peran lokalitas dalam berhadapan dengan globalisasi yang tak bisa dihindari.
Panjang cerpen maksimal 10 halaman kwarto, diketik 1,5 spasi, font Times New Roman 12. Peserta berusia minimal 17 tahun, dapat mengirimkan maksimal 3 naskah cerpen dan masing-masing naskah rangkap 4.
Naskah dikirim ke Panitia Krakatau Award 2010, Sekretariat Dewan Kesenian Lampung Jalan Gedung Sumpah Pemuda Kompleks PKOR Wayhalim, Bandar Lampung."Pengumuman pemenang akan disampaikan minggu kedua September 2010," tambah Isbedy.
Sumber:
http://oase.kompas.com/read/2010/06/24/06210851/Lomba.Cerpen.Krakatau.Award.Diperpanjang
10 Seniman Terima Anugerah Kebudayaan 2010
(Catatan Abdul Malik dalam FB)
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Rabu, 23 Juni 2010 | 22:08 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Sepuluh orang seniman dari berbagai daerah, Rabu (23/6/2010) di Jakarta, menerima Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia. Anugerah Kebudayaan yang diberikan ada empat kategori, yaitu Maestro Seni Tradisi, Hadiah Seni, Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya, dan kategori Anak/Pelajar/Remaja yang Berdedikasi terhadap Kebudayaan.
"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan salam hormat kepada seniman yang meraih penghargaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya dan bangsa yang berbudaya tinggi adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa budayawannya," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik atas nama Pemerintah Republik Indonesia.
Menurut Jero Wacik, perlu ada gerakan memperhatikan seniman di masing-masing daerah. Dengan segala keterbatasan, mereka terus-menerus tanpa disadari telah melakukan pelestarian dan pengembangan warisan budaya yang hampir men galami kepunahan.
Pemberian Anugerah Kebudayaan berupa penghargaan dan bantuan, lanjut Jero, terutama kepada Maestro Seni Tradisi, tujuannya agar para Maestro Seni Tradisi tetap bersungguh-sungguh melaksanakan pewarisan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. "Kalau perlu ada gerakan bedah rumah seniman, agar di masa tuanya seniman bisa tinggal di rumah yang layak," tandasnya.
Tradisi pemberian penghargaan kepada seniman ini dimulai tahun 2007. Sampai 2010 sudah ada 45 seniman yang mendapat penghargaan, 10 orang di antaranya tahun 2010.
Seniman penerima
Penerima Anugerah Kebudayaan sebagai Maestro Seni Tradisi adalah Rd Enny Rukmini Sekarningrat (96), maestro pencak silat empat zaman , asal Bandung, Jawa Barat. "Sebagai dewan pakar pencak silat di di PB IPSI, namanya sudah sangat dikenal sampai ke tingkat internasional. Ia pemimpin Silat Panglipur. Silat panglipur , mempunyai cabang di 160 daerah dan di sejumlah negara, seperti Belanda, Perancis, Amerika Serikat, dan Rusia," katanya.
Kemudian seniman tari Dayak dan Penyair Tradisi Dayak, asal Desa Miau baru, Kalimantan Timur, Pedaan (70). Sejak kecil sudah menguasai tarian Dayak seperti Kanjet Tangen atau Kanjet Dusa Usa, dan tari Datun. Juga sangat mahir menarikan tarian lelaki, tari perang yang disebut Kanjet Pepatai. Selain menari dan mengajarkan tari, Pedaan piawai melagukan syair-syair tradisi Ngendau Kenyah .
Muhamad Yazed (85) dari Bengkalis, Riau, dikenal sebagai maestro tari zapin. Ia menguasai gerak zapin klasik dan halus. Penghayatan yang dalam dan kelembutan tariannya mencerminkan kesantunan Budaya Melayu lama. "Yazed menularkan kehebatannya itu kepada generasi muda. Nilai-nilai adat dan agama Islam yang terkandung dalam syair Zapin bisa menjadi peringatan agar kita bertindak benar," katanya.
Batman (68) warga Suku Laut Sawang dari Bangka Belitung, maestro seni tradisi Campak Dalung. Campak Dalung adalah seni yang dikembangkan dan dilestarikan secara turun-temurun. Seni ini sudah dilestarikan delapan turunan, ujarnya.
Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Hadiah Seni adalah Ahmad Tohari (62) dan Ali Hanafi (50). Ahmad Tohari, asal Banyumas, Jawa Tengah, adalah salah seorang sastrawan terkemuka yang sudah meraih berbagai prestasi nasional dan internasional. Puluhan ovel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan nonfiksi sudah lahir dari tanggannya.
Ali Hanafi (50), adalah penari dan koreografer yang sudah malang melintang selama 30 tahun di Maluku Utara. Pemimpin Sanggar Seni Sekar Taruna ini, sampai sekarang masih mencipta tari.
Untuk kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya, adalah Thimotius Samin (60), pengembang tradisi budaya Kamoro, Papua, khususnya seni ukir patung khas Komoro. Karya- karyanya sudah dipamerkan di dalam dan luar negeri, antara lain Belanda dan Jerman. Dan (Mangku Widia) I Wayan Widia (62), penggali dan pelestari adat Tenganan, Bali.
Sedangkan Anugerah Kebudayaan kategori anak/pelajar/remaja yang berdedikasi terhadap kebudayaan, diberikan kepada Wiranata Prahara Ilahi (15), asal Palembang, Sumatera Selatan, yang peduli dengan seni teater dan puisi. Dan kepada Naqdzyatun Nur Ivana (8), asal Gorontalo, telah meraih berbagai prestasi di bidang seni sastra dan mendongeng. Ia menjadi tim tetap dalam mengikuti berbagai event budaya local di tingkat daerah dan nasional, serta terpilih menjadi duta pariwisata mewakili Provinsi Gorontalo.
Sumber:
http://oase.kompas.com/read/2010/06/23/22083233/10.Seniman.Terima.Anugerah.Kebudayaan
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Rabu, 23 Juni 2010 | 22:08 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Sepuluh orang seniman dari berbagai daerah, Rabu (23/6/2010) di Jakarta, menerima Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia. Anugerah Kebudayaan yang diberikan ada empat kategori, yaitu Maestro Seni Tradisi, Hadiah Seni, Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya, dan kategori Anak/Pelajar/Remaja yang Berdedikasi terhadap Kebudayaan.
"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan salam hormat kepada seniman yang meraih penghargaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya dan bangsa yang berbudaya tinggi adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa budayawannya," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik atas nama Pemerintah Republik Indonesia.
Menurut Jero Wacik, perlu ada gerakan memperhatikan seniman di masing-masing daerah. Dengan segala keterbatasan, mereka terus-menerus tanpa disadari telah melakukan pelestarian dan pengembangan warisan budaya yang hampir men galami kepunahan.
Pemberian Anugerah Kebudayaan berupa penghargaan dan bantuan, lanjut Jero, terutama kepada Maestro Seni Tradisi, tujuannya agar para Maestro Seni Tradisi tetap bersungguh-sungguh melaksanakan pewarisan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. "Kalau perlu ada gerakan bedah rumah seniman, agar di masa tuanya seniman bisa tinggal di rumah yang layak," tandasnya.
Tradisi pemberian penghargaan kepada seniman ini dimulai tahun 2007. Sampai 2010 sudah ada 45 seniman yang mendapat penghargaan, 10 orang di antaranya tahun 2010.
Seniman penerima
Penerima Anugerah Kebudayaan sebagai Maestro Seni Tradisi adalah Rd Enny Rukmini Sekarningrat (96), maestro pencak silat empat zaman , asal Bandung, Jawa Barat. "Sebagai dewan pakar pencak silat di di PB IPSI, namanya sudah sangat dikenal sampai ke tingkat internasional. Ia pemimpin Silat Panglipur. Silat panglipur , mempunyai cabang di 160 daerah dan di sejumlah negara, seperti Belanda, Perancis, Amerika Serikat, dan Rusia," katanya.
Kemudian seniman tari Dayak dan Penyair Tradisi Dayak, asal Desa Miau baru, Kalimantan Timur, Pedaan (70). Sejak kecil sudah menguasai tarian Dayak seperti Kanjet Tangen atau Kanjet Dusa Usa, dan tari Datun. Juga sangat mahir menarikan tarian lelaki, tari perang yang disebut Kanjet Pepatai. Selain menari dan mengajarkan tari, Pedaan piawai melagukan syair-syair tradisi Ngendau Kenyah .
Muhamad Yazed (85) dari Bengkalis, Riau, dikenal sebagai maestro tari zapin. Ia menguasai gerak zapin klasik dan halus. Penghayatan yang dalam dan kelembutan tariannya mencerminkan kesantunan Budaya Melayu lama. "Yazed menularkan kehebatannya itu kepada generasi muda. Nilai-nilai adat dan agama Islam yang terkandung dalam syair Zapin bisa menjadi peringatan agar kita bertindak benar," katanya.
Batman (68) warga Suku Laut Sawang dari Bangka Belitung, maestro seni tradisi Campak Dalung. Campak Dalung adalah seni yang dikembangkan dan dilestarikan secara turun-temurun. Seni ini sudah dilestarikan delapan turunan, ujarnya.
Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Hadiah Seni adalah Ahmad Tohari (62) dan Ali Hanafi (50). Ahmad Tohari, asal Banyumas, Jawa Tengah, adalah salah seorang sastrawan terkemuka yang sudah meraih berbagai prestasi nasional dan internasional. Puluhan ovel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan nonfiksi sudah lahir dari tanggannya.
Ali Hanafi (50), adalah penari dan koreografer yang sudah malang melintang selama 30 tahun di Maluku Utara. Pemimpin Sanggar Seni Sekar Taruna ini, sampai sekarang masih mencipta tari.
Untuk kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya, adalah Thimotius Samin (60), pengembang tradisi budaya Kamoro, Papua, khususnya seni ukir patung khas Komoro. Karya- karyanya sudah dipamerkan di dalam dan luar negeri, antara lain Belanda dan Jerman. Dan (Mangku Widia) I Wayan Widia (62), penggali dan pelestari adat Tenganan, Bali.
Sedangkan Anugerah Kebudayaan kategori anak/pelajar/remaja yang berdedikasi terhadap kebudayaan, diberikan kepada Wiranata Prahara Ilahi (15), asal Palembang, Sumatera Selatan, yang peduli dengan seni teater dan puisi. Dan kepada Naqdzyatun Nur Ivana (8), asal Gorontalo, telah meraih berbagai prestasi di bidang seni sastra dan mendongeng. Ia menjadi tim tetap dalam mengikuti berbagai event budaya local di tingkat daerah dan nasional, serta terpilih menjadi duta pariwisata mewakili Provinsi Gorontalo.
Sumber:
http://oase.kompas.com/read/2010/06/23/22083233/10.Seniman.Terima.Anugerah.Kebudayaan
Subscribe to:
Posts (Atom)