Tuesday, 4 June 2013
Jurnal KAJ
Komunitas Arek Japan meluncurkan media baru "JURNAL KAJ'", rencana Juli terbit untuk edisi pertama. Mohon kiranya teman-teman berkenan membantu. Karya bisa meliputi: Esai, cerpen, puisi, resensi, karikatur, liputan acara, liputan kuliner. Naskah bisa dikirim ke email: jurnalkaj@gmail.com. khusus untuk liputan, baik acara maupun kuliner diharap menyertakan foto. Terima kasih.
Saturday, 25 May 2013
De javu Kalung Bermata
Oleh: Jourdan Alexander Niagara
(Dimuat di Harian Radar Mojokerto, Minggu, 19 Mei 2013)
(Penyunting: Bagus Sambudi)
Dari pintu kaca yang tembus pandang
terlihat beberapa percikan cahaya melalui sela-sela kelopak mataku, banyak yang
datang kesini entah untuk mencari barang sebagai pelengkap kecantikan atau
sebagai hadiah. Untuk melamar atau
bahkan menyunting seseorang. Aku sangat disukai wanita. Entah itu berasal dari
mana dan dengan cara apa mendapatkannya, mereka seolah tak peduli. Yang mereka
percayai , aku adalah simbol dari keindahan dan kemewahan. Maka dari itu para
perempuan-perempuan akan begitu menikmati pemandangan dari diriku, apalagi
pahatan yang menggukir nama mereka dengan beberapa butir berlian di atasnya,
pasti akan sulit untuk tidak tertarik kepadaku. Namun bagi para pria
kebanyakan, aku tak lebih dari perhiasan yang bernilai mahal, yang pastinya
sepadan untuk diberikan pada seseorang yang berharga dalam hidupnya.
Tergantung dan beralaskan karpet tipis berwarna merah dan sangat berkilau
ketika sinar masuk membelai diriku. Ah, aku merasa sangat di perhatikan hingga
jarang sekali debu menyelimuti kulitku, setiap hari tangan-tangan terampil
memanjakan tubuhku. Tak jarang aku merasa seperti seorang ratu yang selalu
diperhatikan oleh dayang-dayang.
Suatu hari, terlihat seorang pria gagah. Wajahnya tampan dengan rambut
yang tampak rapi. Pria itu memakai setelan kemeja berwarna putih, berjas hitam
dengan celana hitam yang terlihat garis setrikanya. Sepatu kulit mengkilap
menghiasi kakinya. Pria itu kelihatan sangat elegan. Dan beberapa saat kemudian, dia membuka pintu
yang terbuat dari kaca bening.
Dan pertanyaan yang selalu hadir kembali tercuat dari diriku
“Siapa dia? Mau apa dia kemari? Apakah dia perampok? Tapi tampangnya tak
seperti perampok. Ah, semoga dia adalah seseorang yang akan membawaku keluar
dari lemari ini. ”
Setelah 20 menit ia berputar menghampiri satu persatu lemari kaca, dan
tiba-tiba sebuah tangan meraih tubuhku dan membawaku keluar. Amat jelas kulihat
wajah pria yang tadi masuk. Dia menatap ku amat dekat dan sesekali
memutar-mutarkan tubuhku. Dan beberapa saat kemudian aku kembali ke sebuah
tangan yang tadi mengambilku. Tangan itu dengan hati-hati memasukkanku kembali
ke lemari kaca. Dan pria tadi, kulihat berjalan keluar dengan senyum yang indah di bibirnya.
Beberapa hari
kemudian, pria itu datang kembali ke tempatku. Bedanya dia hanya melihatku
sejenak kemudian berkeliling. Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang
dilakukan pria itu. Sampai seorang wanita cantik dengan gaun yang indah masuk
dan menghampiri lelaki itu. Aku tak
dapat mendengar apa yang mereka bicarakan karena aku di dalam sebuah lemari.
Yang pasti dari wajah dan tindakan kedua orang itu, aku dapat melihat dengan
jelas bahwa mereka adalah sepasang kekasih
Kedua orang itu mulai celingak-celingguk melihat apa yang ada di tempat
itu. Namun dengan cepat si pria menunjuk kearahku. Kemudian mereka
menghampiriku dan menampakkan wajah dan matanya tepat di depan kotak kaca di
mana aku berada. Aku mulai penasaran dan tetap menatap mereka dengan mata
tunggalku yang terbuat dari berlian yang berwarna biru.
Si lelaki itu mulai berbicara kepada salah satu dayang-dayang ku. Aku
kembali bingung karena aku tak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Sampai
ketika aku dikeluarkan dan di coba oleh wanita tadi, baru aku sadar bahwa aku
akan dibeli. Itu berarti aku akan pergi dari tempat ini. Menuju tempat yang
entah. Dan tak butuh waktu lama aku sudah keluar dari toko itu. Aku masih
bergelantung di leher wanita cantik tadi. Leher yang putih mulus. Dengan mataku
tergelantung sampai belahan dadanya. Kemudian aku, wanita dan pria tadi masuk
kesebuah mobil sedan bewarna silver.
Setelah sampai
sebuah rumah beralamatkan elite Indonesian blok c no 19 mobil berhenti, tampak rumah
yang megah. Rumahnya nampak sepi tak berpengguni, mungkin merekan pasangan muda
yang baru menikah seminggu yang lalu .
Aku di bawa
kekamar yang luas dan si wanita itu melepaskan jeratan lenganku yang terbuat
dari mas 24 karat , ditaruhnya aku ke dalam kotak berwarna gelap yang ada dalam
lemari kecil di meja rias.
Dia membiarkan
kotak itu terbuka. Dan aku meliat wanita itu melepas gaun indah yang tadi siang
ia pakai. Tiba-tiba pria tadi dari belakang datang dan menciumi setiap lekukan
tubuh wanita itu , kemudian pria itu memeluk wanita itu dengan amat mesra .
Aku melihat kejadia
itu berpikir, andai aku seperti itu dengan kekasihku mungkin dunia ini akan begitu
indah seindah gemerlap cahaya yang
terpantul oleh mataku.
Berulangkali aku
melihat kemesraan yang seperti itu, hingga lama-lama aku menjadi iri dan
akhirnya aku jengkel pada pemandangan yang seperti itu .
***
Satu tahun aku
bersama keluarga itu, tak terasa waktu begitu cepat berbutar. Sore itu mereka
mendapat undangan dari teman kuliahnya dulu yang sekarang baru menikah, dan
undangnya besok hari minggu pukul 07.00 malam. Mereka berencana untuk datang
lebih awal. Mereka berangkat jam 06.30 dengan menaiki mobil sedan mewahnya
itu
Sampai di
pertengahan jalan yang sepi mobil mereka jadi sulit dikendalikan, aku tak tahu
pasti kenapa seperti itu, yang jelas mereka berhenti dan agak sedikit panik.
Mereka hanya berdua dan tak ada
siapa lagi kecuali hanya suara-suara binatang malam yang sering kali menyambut.
Tak ada mobil atau pun motor yang lewat, lagi pula jalan itu jauh dari
pemukiman warga . Dengan terpaksa si lelaki keluar dari mobil dengan perasaan
yang agak sedikit was-was. Membawa senter kecil si suami itu perlahan melihat
ban mobilnya yang ternyata sudah kempes.
Tak lama setelah mengetahui ban
mobilnya kempes, pria itu membuka bagasi untuk memasang ban serep. Belum
selesai mengeluarkan ban serep dari bagasi,
tiga orang laki-laki berbadan kekar dengan membawa sebilah golok dan pistol
keluar dari semak-semak. Dengan cepat para perampok mulai bergegas mengalungkan
golok ke leher si lelaki itu dan memaksa si wanita untuk turun dari mobil.
Karena saking takutnya wanita itu diam dan tak berbuat apa-apa. Para perampok
itu tanpa pikir panjang memecahkan kaca mobil dan mengeluarkan dengan paksa
wanita itu. Aku tak tahu kejadian apa yang terjadi berikutnya karena setelah
aku ditarik dari leher wanita itu, aku
dimasukkan dalam sebuah kantong.
Setelah kantong terbuka, tiba-tiba aku sudah di tangan orang yang tinggi
besar. Pasti merekalah para perampok yang mengambilku kemarin. Aku diserahkan
ke seseorang yang lebih rapi tapi aku tak tahu siapakah dia. Mungkin dia adalah
teman perampok itu atau bahkan dia adalah pimpinan dari perampok itu. Aku kembali
dimasukkan ke sebuah kantong. Dan meski aku tak melihat, namun aku sangat yakin
aku sedang di bawanya menuju suatu tempat yang entah. Dan setelah beberapa saat
aku dikeluarkan kembali. Dan bedanya aku sekarang tidak di sebuah ruangan. Aku
berada di sebuah tempat yang terdapat begitu banyak kapal yang bersandar. Aku
berpindah tangan lagi. Kali ini keseseorang yang amat rapi. Orang itu lebih
mirip dengan pria yang membawaku dari toko. Dan oleh orang itu aku di masukan
di sebuah kotak yang terbuat dari ukiran kayu yang indah, setelah itu aku hanya
merasa gelap.
Sampai beberapa saat aku mulai
merasakan guncangan-guncangan keras. Mungkin dari gerak ombak yang cukup besar.
Lalu aku merasakan dengan tiba-tiba semua menjadi tenang. Namun entah kenapa
tubuhku terbolak-balik seolah kotak kayu itu di buat mainan oleh anak-anak. Tanpa
terasa, ruangan kotak kayu ini mulai terisi air sedikit demi sedikit hingga
seluruh ruangan penuh oleh air yang asin . Setelah itu dengan sendirinya kotak
yang berisikan air itu mulai terbuka dengan sendirinya. Aku terjatuh ke dasar
laut yang dalam. Di situlah aku berdiam cukup lama. Bermacam-macam ikan
mengkrubutiku. Karang-karang menemaniku.
Entah berapa lama aku di sana namun
tubuhku mulai terasa agak aneh ,muncul selaput-selaput hijau yang membuatku
risih dan tak nyaman akan hal itu , dan mataku sudah tak sebening dulu , kini
mataku mulai buram bewarna biru hijau kecoklatan .
Entah apa, yang jelas aku tak begitu nyaman. Dulu aku
yang seolah ratu yang selalu di manja. Dan aku yang terjaga kebersihannya oleh
belaian lembut, semua kini menjadi jauh berbeda.
Setelah tubuhku mulai gelap. Sesuatu
yang aneh muncul. Sesuatu dengan cahaya yang menyorotku. Aku tak begitu jelas
melihat, namun percayalah itu adalah sesuatu yang belum pernah kulihat dalam
laut ini. Sesuatu itu memegangku kemudian membersihkan mataku yang tertutup. Mereka
berbadan seperti manusia. Tapi ada benda lain yang menempel di punggungnya.
Dibawanya aku ke permukaan, dan dari situlah aku tahu bahwa mereka memang
manusia. Hanya saja mereka membawa alat bernapas di punggung mereka. Terdapat dua
kapal kecil yang menghampiriku setelah aku tiba di permukaan. Kemudian, setelah
aku naik ke atas kapal itu, aku di semprot oleh air yang tak terasa asin tapi
pahit, dengan sikat halus aku
dibersihkan, terutama tepat di kepala mataku. Aku merasakan sedikit geli, namun
itu yang membuatku nyaman.
Setibanya aku di daratan. Aku di
naikan ke mobil pick up yang dikawal oleh beberapa orang yang mengaku penegak
hukum. Aku di bawa ke suatu tempat yang tak asing bagiku. Di situ ada las api,
cetakan, bejana tanah liat dan sejumlah kalung, cincin atau perhiasan lain. Dan
benar, disinilah perhiasan dilahirkan. Hingga seseorang datang menebusku dengan
menunjukan beberapa pucuk surat dan amplop yang mungkin itu berisikan beberapa
uang.
Aku di bawanya ke sebuah ruangan
yang penuh dengan cermin dan kaca yang menghiasi dan sebuah lemari kaca yang
beralaskan karpet merah tipis nan lembut .
Dari pintu kaca
yang tembus pandang terlihat beberapa percikan cahaya melalui sela-sela kelopak
mataku
Terlihat seorang pria gagah.
Wajahnya tampan dengan rambut yang tampak rapi. Pria itu memakai setelan kemeja
berwarna putih, berjas hitam dengan celana hitam yang terlihat garis
setrikanya. Sepatu kulit mengkilap menghiasi kakinya. Pria itu kelihatan sangat
elegan. Dan beberapa saat kemudian, dia
membuka pintu yang terbuat dari kaca bening.
Tentang Penulis:
Jourdan Alexander Niagara, bergiat di Komunitas Arek Japan (KAJ). Menulis cerpen dan puisi. Puisinya masuk dalam 40 puisi terbaik pada Festival Bulan Purnama Mojopahit (KBMP) 2013.
MAHKOTA MAWAR
Oleh: Elok Wulandari
(Termuat di Radar Mojokerto, 26 Mei 2013)
(Penyunting: Akhmad Fatoni)
Temaram lampu tak
akan dapat menggantikan sinarmu meski saat ini engkau telah hangat kudekap. Hembus nafasmu terasa hangat mengaliri kulit ari
dan bulu halus di dadaku. Hanya ada bisik dalam hati, tak terucap, betapa kau
sungguh berarti. Maafkan mama sayang, tidak akan mama lakukan kesalahan serupa,
cukup sampai hari ini, malam ini.
Pagi itu mentari
tak bersinar seperti biasanya, kabut tipis menyelimuti halaman dengan tetes
gerimis mengetuk atap teras jendela kamar. Kamar ini terasa dingin, pengap. Begitu dingin dan pengap, sehingga dapat membuat aku yang sedang enggan membuka
mata, semakin tenggelam dalam denyut
jantung yang semakin lambat. Mataku semakin sayu dalam lelap. Tapi lamunan pagiku buyar
bersama dengan teriakan suaramu yang semakin gaduh. Saat itu juga aku berharap
apa yang kulihat beberapa waktu lalu juga hanya mimpi yang tak nyata dan
selesai begitu teriakanmu membangunkanku. Akhir-akhir ini ada yang salah di antara
kita, aku merasa apa yang kau lakukan, apa yang kau ucapkan, selalu membuatku
naik pitam. Sejenak aku menyesal atas setiap kata-kata kasar yang aku ucapkan. Namun sedetik kemudian kaukembali membuatku harus
berteriak dan melarangmu melakukan sesuatu yang seolah sama saja dengan
memberimu perintah melakukan hal yang lebih gila. Kau seolah memiliki ratusan
bahkan ribuan macam cara untuk membuat mataku mendelik dan otot pipiku terasa
kaku karena menahan amarah.
Suatu siang, sepulang sekolah, kau berlari dari halaman memasuki rumah. Membanting pintu tanpa melepas sepatu. Aku
mencoba menahan amarah, saat kulihat bekas lumpur di atas lantai dengan stempel
sepatu yang kaubawa entah darimana karena kita tinggal di rumah tanpa halaman,
dengan sedikit beranda menghadap jalan meski bukan jalan raya. Kulihat matamu
membelalak besar penuh ceria saat kausantap kue hangat di atas meja.
“ Ma, kenapa papa
tidak pulang?” singkat kau bertanya.
Siluet malam itu kembali datang meski
samar. Aku hanya diam. Tak hendak menjawab pertanyaanmu sembari membereskan tas dan seragam merah
putih yang kaulempar di atas kursi sembarangan.
“Aku tadi melihat
papa. Papa sedang berjalan melewati jalan raya
dekat pusat perbelanjaan di ujung jalan sana, tapi papa menggandeng tangan seorang wanita Ma. Dia sangat cantik dengan kacamata hitam
besar dan kemeja warna pink. Kenapa papa menggandeng tangannya ya Ma? Apakah wanita itu juga tidak bisa
menyeberang jalan raya sepertiku? Sebab papa juga selalu menggandeng tanganku setiap kali kita
berjalan-jalan dan menyeberangi jalan raya karena takut aku tertabrak mobil atau sepeda. Papa
bilang papa menyayangiku. Apa itu berarti papa juga menyayangi wanita itu?” kauterus
mengoceh dengan kue penuh di mulutmu. Kalimat panjang yang menjadi tambang
pencekik, membuat aku susah bernafas. Bahkan sesaat aku merasa jantungku
berhenti berdetak.
“Sudah jangan
banyak bicara, cuci kakimu, dan segera ganti baju.” Kau masih berdiri diambang meja dengan mulut yang masih
terus berbicara.
“Kalau nanti aku
sudah dewasa,
aku ingin secantik wanita itu Ma, tapi tidak...... Aku ingin seperti mama. Mama juga cantik. Mama juga pintar memasak, membuat kue,
menguncir rambutku, dan masih banyak lagi. Iya kan Ma?”
“ Jangan banyak
bicara, cuci kakimu, dan segera masuk kamar!” Tanpa kusadari nada bicaraku mendadak tinggi. Kau
berhenti mengunyah dan mulai menangis.
“Kenapa Mama marah
padaku?”
Saat itu juga aku
baru menyadari betapa segala tingkah polahmu selalu memancing amarahku.
Kata-katamu, gerak tubuhmu, senyummu, air matamu, rambutmu, matamu, bibirmu,
dan semua yang ada padamu. Karena pada dirimu aku melihat pria itu, papamu, suamiku.
“Jangan pernah
bertanya tentang papamu. Dia sudah pergi meninggalkan kita. Dia pergi dan tidak akan pernah pulang
lagi, kautahu itu! Jadi jangan pernah bertanya lagi, karena papa lebih memilih wanita
itu daripada kita.”
Kemarahanku semakin
menjadi, entah setan apa yang merasuki otakku. Kau masih terlalu kecil untuk
mengerti bahkan memahami ini. Kau tidak seharusnya tahu semua ini, tapi amarahku tak terkunci. Kulempar tas dan
seragammu. Aku seret kaumasuk kamar dan kubanting pintu. Saat itu juga tubuhku
terasa lumpuh, air mata tak tersaring lagi. Amarahku tumpah menjadi-jadi.
Semua dimulai sejak
hari itu. Hari di mana aku mendapati suamiku berada dalam satu selimut yang sama dengan
seorang wanita. Wanita jalang yang selama ini aku kenal baik. Aku percaya. Aku terima sebagai penggantiku. Mengerjakan semua pekerjaanku di kantor.
Kantor kecil yang aku rintis bersama suamiku. Aku harus mundur karena kewajibanku
sebagai seorang ibu. Aku diharuskan menjaga anak kami dengan pertimbangan
kelebihan energi yang ia miliki. Kemampuannya melakukan segala sesuatu melebihi
teman-temannya,
membuatku harus memberinya pengawasan ekstra. Tapi kini, bagiku semua ini hanya
alasan. Hanya kedok. Aku membenci semuanya.
Pada suatu Minggu pagi,
semua masih terasa abu-abu karena teriakanku dan teriakanmu yang hampir setiap
hari bergantian kadang bersamaan mengisi rumah ini. Kaukembali memecah sinar
mentari dengan teriakan dan tangismu yang membabi buta hanya karena setangkai
bunga mawar. Kau menangis kencang pada pembantu, karena dia hampir mematahkan tangkainya.
“Kenapa kau
menangis? Jangan berteriak. katakan pada Mama.”
Aku masih bingung apa yang kautangisi dari setangkai
mawar.
“Bibi hampir
mematahkan mawarku. Mawarku patah mama!”
“Bukankah itu masih belum patah. Bahkan ada satu mawar lagi yang lebih
mekar dan indah dari yang itu sayang.”
“Tapi itu mawarku. Sudah patah satu, sekarang mau patah
lagi!”
“Iya, sudahlah. Mama tahu itu kau yang tanam. Sekarang kita pindahkan mawar ini ke beranda
kamar saja, ya!” Aku menggandeng tanganmu dan merayu. Namun tampaknya rayuanku tak juga
meluluhkan hati kerasmu. Kau semakin menangis menjadi-jadi, membuat aku kembali naik pitam dan
memasukkanmu ke dalam kamar. Kau masih meraung-raung dengan tangismu dan
menggedor pintu keras-keras dari sisi yang lain.
“Mama jangan kunci
aku. Aku janji tidak akan menangis lagi.” Lengking suaramu menusuk telinga dan hatiku, membuat mataku panas, air mataku menetes,
mengalir, dan tak dapat kubendung lagi. Aku terisak.
Kau berhasil membuat hari ini terasa sesak di dadaku. Sebenarnya
bukan hanya hari ini, tapi juga hari-hari sebelum ini. Setelah hari itu.
*
Aku melihat kau
menggambar dengan beberapa crayon berserakan di lantai, membelakangi pintu.
Aku memutuskan untuk masuk kamarku dan mandi, berharap
itu cara terbaik yang dapat melunturkan segala penat hari ini.
Waktu makan malam. Kau tertidur pulas di atas kertas gambarmu dengan crayon
masih tergenggam. Seketika mulutku terasa bisu, saat aku melihat gambar di kertasmu. Gambar seorang wanita dan putri kecilnya, dengan bunga-bunga mawar di
atas kepala mereka.
“Selamat ulang
tahun Ma. Aku sayang Mama. Ma, aku tidak akan
tanya-tanya papa lagi. Aku hanya ingin mama, karena mawar papa sudah patah dan papa
tidak memakai mahkota mawar di atas kepalanya. Aku tidak akan nakal, tidak menangis, dan
tidak berteriak. Asal mama berjanji tidak akan meninggalkanku dan menggandeng
tangan orang lain seperti papa. Aku sayang mama.”
Hujan es
mengguyurku malam itu. Mengaliri setiap lekuk saraf dan otakku. Aku merasa otakku berhenti
bekerja. Yang kurasa hanya sesal. Betapa bodohnya aku, menjadi seorang ibu yang
sama sekali tidak peka pada apa yang dirasakan buah hatinya.
Bukan hanya aku
yang kecewa. Bukan hanya aku yang kehilangan, tapi juga dia. Putriku satu-satunya. Menjaga mawar yang kini tersisa.
Yang tak ingin kembali kehilangan satu kuntumnya. Karena
kini, hanya aku yang dia punya. Maafkan mama sayang. Mama bersalah, mama egois, mama hanya
memikirkan perasaan mama. Mama akan bertahan untukmu, untuk kita, putri mawar
mama.
Sejak malam itu aku
berjanji pada diriku sendiri. Aku akan melupakan pria itu. Pria yang telah meninggalkan kami. Aku
akan menjadi ibu yang kuat untuk putriku. Ibu yang akan selalu menjaganya. Hanya menggandeng tangannya dan tidak akan
pernah menggandeng tangan siapa pun lagi, selain dia.
Tentang
Penulis:
Elok
Wulandari, tinggal di Mojosari. Seorang penggila karya-karya
Kahlil Gibran. Saat ini sedang nyantrik di Komunitas Arek Japan (KAJ) untuk
mengasah kemampuan menulis dan teater.
Subscribe to:
Posts (Atom)